Murid Miskin Dapat Beasiswa Kemenag
Cirebon (SI ONLINE) - Sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia, ternyata Indonesia masih memiliki penduduk miskin cukup banyak dimana menurut versi pemerintah mencapai 16 persen sedangkan versi Bank Dunia sebesar 49 persen, dimana mayoritas rakyat miskin juga umat Islam. Untuk itu Kementerian Agama (Kemenag) bertekad memberantasnya dengan memberi beasiswa kepada murid sekolah dari keluarga miskin.
Sebab menurut Menag Suryadharma Ali, pendidikan akan mampu merubah kemiskinan menjadi kemakmuran. Karena itu Menag berharap orang tua tetap bersemangat menyekolahkan anaknya, agar bisa merubah nasibnya. Dari kemiskinan menjadi kemakmuran. Menurutnya banyak contoh, orang berhasil mengubah nasib karena pendidikan dan ketrampilan yang dimilikinya.
"Ayo tetap semangat sekolahkan anak-anak. Ayo rubah nasib kita, jangan menyerah. Aktif cari informasi tentang beasiswa dan jangan khawatir bila anak harus keluar kampung untuk sekolah di tempat jauh," kata Menag Suryadharma Ali saat penyerahan beasiswa bagi siswa drop out secara simbolis di SDN Cadas Ngampar, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon, Rabu (3/8/2011).
Menurutnya, dengan memberikan bekal pendidikan, maka berarti para orang tua juga memerangi kemiskinan, karena sebaik-baiknya bekal adalah pendidikan dan iman takwa. "Kita semua tahu bahwa kemiskinan akan menyebabkan kekufuran. Kita harus peduli pendidikan demi agar bisa merubah nasib dan mencegah kekufuran," kata Menag.
Selain itu Suryadharma juga meminta orang tua merubah paradigma yang ada selama ini. "Sapi-sapinya gemuk, tapi hanya dijual atau disembelih kalau ada hajatan. Tidak mau dijual kalau untuk keperluan sekolah anaknya. Banyak yang inginnya rumah bagus dulu, baru untuk sekolahkan anak. Ini harus dirubah," ujarnya.
Putus Sekolah
Sementara itu Menteri Agama Suryadharma Ali melihat masih banyak hal yang ironis di negeri ini terkait pendidikan. Menag sebagai pemimpin institusi penyelenggara pendidikan kedua terbesar (setelah Kemendiknas) tersentak saat melihat tayangan TV Swasta yang menyebutkan banyak anak drop out di tengah meningkatnya alokasi APBN untuk pendidikan.
"Pada tanggal 25 Juni, saat saya di Aceh melihat Metro TV, ada gadis kecil Fatimah Az Zahra berhenti sekolah, dan jadi pemecah batu dengan upah Rp 6000 per hari. Ini menggerus hati saya," kata Menag saat penyerahan beasiswa bagi siswa drop out.
Menurut Suryadharma, masyarakat juga harus bersemangat untuk menyekolahkan anaknya. Dengan mencari tahu beasiswa yang telah dianggarkan pemerintah. "Ada 179.000 anak putus sekolah yang harusnya bisa sekolah karena ada anggaran untuk itu. Ini butuh sosialisasi. Makanya saya kenalkan Kandepag Cirebon, silahkan bapak ibu disini cari informasi soal beasiswa," katanya.
Kemenag mengalokasikan dana untuk bantuan bea siswa ini berjumlah Rp 24.821.480.000,- dialokasikan untuk siswa kota Cirebon yang mendapat bea siswa berjumlah 1.895 orang dengan nilai Rp 1.115.320.000,-, Kab. Cirebon 15.125 orang dengan nilai Rp 9.117.800.000,-, Kab.Kuningan 6.358 dengan nilai Rp 3.757.240.000,-, Kab.Majalengka 8.009 orang dengan nilai Rp 4.651.880.000,-, kab. Indramayu 10.641 orang dengan nilai Rp 6.170.240.000,-.
Red: Abdul Halim
Sumber: Kemenag
Sebab menurut Menag Suryadharma Ali, pendidikan akan mampu merubah kemiskinan menjadi kemakmuran. Karena itu Menag berharap orang tua tetap bersemangat menyekolahkan anaknya, agar bisa merubah nasibnya. Dari kemiskinan menjadi kemakmuran. Menurutnya banyak contoh, orang berhasil mengubah nasib karena pendidikan dan ketrampilan yang dimilikinya.
"Ayo tetap semangat sekolahkan anak-anak. Ayo rubah nasib kita, jangan menyerah. Aktif cari informasi tentang beasiswa dan jangan khawatir bila anak harus keluar kampung untuk sekolah di tempat jauh," kata Menag Suryadharma Ali saat penyerahan beasiswa bagi siswa drop out secara simbolis di SDN Cadas Ngampar, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon, Rabu (3/8/2011).
Menurutnya, dengan memberikan bekal pendidikan, maka berarti para orang tua juga memerangi kemiskinan, karena sebaik-baiknya bekal adalah pendidikan dan iman takwa. "Kita semua tahu bahwa kemiskinan akan menyebabkan kekufuran. Kita harus peduli pendidikan demi agar bisa merubah nasib dan mencegah kekufuran," kata Menag.
Selain itu Suryadharma juga meminta orang tua merubah paradigma yang ada selama ini. "Sapi-sapinya gemuk, tapi hanya dijual atau disembelih kalau ada hajatan. Tidak mau dijual kalau untuk keperluan sekolah anaknya. Banyak yang inginnya rumah bagus dulu, baru untuk sekolahkan anak. Ini harus dirubah," ujarnya.
Putus Sekolah
Sementara itu Menteri Agama Suryadharma Ali melihat masih banyak hal yang ironis di negeri ini terkait pendidikan. Menag sebagai pemimpin institusi penyelenggara pendidikan kedua terbesar (setelah Kemendiknas) tersentak saat melihat tayangan TV Swasta yang menyebutkan banyak anak drop out di tengah meningkatnya alokasi APBN untuk pendidikan.
"Pada tanggal 25 Juni, saat saya di Aceh melihat Metro TV, ada gadis kecil Fatimah Az Zahra berhenti sekolah, dan jadi pemecah batu dengan upah Rp 6000 per hari. Ini menggerus hati saya," kata Menag saat penyerahan beasiswa bagi siswa drop out.
Menurut Suryadharma, masyarakat juga harus bersemangat untuk menyekolahkan anaknya. Dengan mencari tahu beasiswa yang telah dianggarkan pemerintah. "Ada 179.000 anak putus sekolah yang harusnya bisa sekolah karena ada anggaran untuk itu. Ini butuh sosialisasi. Makanya saya kenalkan Kandepag Cirebon, silahkan bapak ibu disini cari informasi soal beasiswa," katanya.
Kemenag mengalokasikan dana untuk bantuan bea siswa ini berjumlah Rp 24.821.480.000,- dialokasikan untuk siswa kota Cirebon yang mendapat bea siswa berjumlah 1.895 orang dengan nilai Rp 1.115.320.000,-, Kab. Cirebon 15.125 orang dengan nilai Rp 9.117.800.000,-, Kab.Kuningan 6.358 dengan nilai Rp 3.757.240.000,-, Kab.Majalengka 8.009 orang dengan nilai Rp 4.651.880.000,-, kab. Indramayu 10.641 orang dengan nilai Rp 6.170.240.000,-.
Red: Abdul Halim
Sumber: Kemenag











Indonesia bangkrut karena korupsi dan kolonialisme. Pergantian rezim harus dilakukan secepatnya untuk menyelamatkan negeri ini. Yang tidak kalah penti...
Kasus GKI Yasmin semakin membuktikan kebenaran laporan International Crisis Group. Menurut ICG, salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antaruma...
Artawijaya
Penulis buku "Gerakan Theosofi di Indonesia" dan "Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara" Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Penganut Theosofi di Minangkabau menolak penegakkan syariat yang dianggap ancaman terhadap adat istiadat Minangkabau. Padahal syariat yang ingin ditegakkan ketik...