Website ini telah berpindah, silahkan klik, untuk berpindah ke web baru.
Suara Islam Online | Sering Bunuh Tersangka Teroris, BAIS Sarankan Polisi Jadi Tentara Saja - Sering Bunuh Tersangka Teroris, B

Sering Bunuh Tersangka Teroris, BAIS Sarankan Polisi Jadi Tentara Saja

altJakarta (SI ONLINE) - Kepala Badan Intelijen Strategis TNI (BAIS) Laksamana Muda Soleman B. Ponto mengatakan, polisi tidak harus membunuh pelaku teror (terorisme), namun hanya perlu ditangkap.

Menurut Soleman, jika TNI dilibatkan dalam penindakan terhadap tindak pidana terorisme, maka pilihannya adalah membunuh teroris.

Secara hukum, TNI dapat melakukan aksi penindakan dan pencegahan terhadap tindak pidana terorisme. Ini sudah diatur dalam UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, Pasal 22 ayat 2. Tetapi jika TNI melakukan aksi penindakan, pilihannya dilaksanakan dengan operasi militer, apakah perang atau selain perang.

"Artinya, pilihannya adalah killed or to be killed (membunuh atau terbunuh). Kalau TNI sudah turun, teroris harus terbunuh," kata Soleman dalam "Seminar Nasional tentang Penanggulangan Terorisme" yang digelar di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Jakarta, Rabu, (3/8/2011).

Hal ini berbeda dengan tindakan yang dilakukan oleh polisi. Undang-Undang (UU) Nomor 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme mengatur pelaku terorisme harus dihukum sehingga semestinya mereka dapat ditangkap hidup-hidup.

Ia menjelaskan, berdasarkan UU Terorisme pasal 6 disebutkan bahwa pelaku teror harus dipidana, artinya harus dihukum dan ditangkap.

"Tapi dalam beberapa kasus penggerebekan (oleh polisi), teroris terbunuh. Kalau polisi mau membunuh, ya masuk tentara saja," ujarnya.

Untuk menanggulangi terorisme, menurut Soleman, TNI memiliki beberapa perangkat tergantung pada lokasi terjadinya tindak pidana. TNI Angkatan Laut, misalnya, memiliki Detasemen Antiteror Jala Mengkara, Sat 81 Kopassus di Angkatan Darat, dan Detasemen Bravo di TNI Angkatan Udara.

Rep: Jaka

Comments (3)
  • Betul, Pak Laksamana
    avatar
    Betul, Pak Laksamana. Polisi tugasnya menangkap pelaku kejahatan, termasuk teroris, untuk diadili dan dihukum. Ini negara hukum, bukan negara dengan hukum rimba. Tapi yang ditindak teroris beneran dong, bukan aktivis Islam yang lalu dibunuhi seperti Kasus Dukun Santet di Banyuwangi yang lalu menyebar ke hampir seluruh Pulau Jawa. Dukun santetnya gak ada satu pun yang dibunuh. Eh, yang dibunuh malah kyai2 NU yang menentang Gus Dur ditambah satu dua orang ustadz dari Muhammadiyah untuk mengaburkan misi sebenarnya!
  • Zein
    avatar
    Artinya prosionalisme detasmen 88 perlu dipertanyakan ???
  • anti demokrasi
    avatar
    kalo gue liat sekarang nih
    polisi gayanya lebih mirip seperti militer ketimbang polisi
    liat aja di jalan-jalan umum sambil nenteng-nenteng senapan serbu SS1
    TNI sendiri yg militer malah jarang nenteng2 senapan serbu

    tugas utama kepolisisan menegakkan hukum malah gagal
    soalnya mafia hukum malah bergentayangan di kepolisian
    contoh: gayus, nazarudin, surat palsu MK, mafia pajak, mafia hukum dll

    contoh2 tsb malah tidak mampu untuk diselesaikan oleh pihak kepolisian, padahal kasus tsb adalah tugas pokoknya kepolisian bukan militer

    hal ini terjadi karena dlm proyek global war on terrorism polisi-lah yg memenangkan 'tender' trus dapet duit banyak dr amerika bukan TNI yg sedang diembargo

    makanya polisi gayanya militer banget
Write comment
Your Contact Details:
Gravatar enabled
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
 
Who's Online
We have 112 guests online
TV Suara Islam
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Komentar TV Islam