Lemhanas Selenggarakan Seminar Penanggulangan Terorisme
Hari ini Selasa (2/8/2011), Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) akan menyelenggarakan seminar peserta Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XVII bertema "Penanggulangan Terorisme Guna Persatuan dan Kesatuan Bangsa dalam Rangka Ketahanan Nasional".
Rencananya seminar tersebut akan dilaksanakan dua hari, mulai 2-3 Agustus 2011. Pada hari pertama akan dipaparkan dan akan diarahkan pada penanggulangan terorisme dengan menggunakan metode pendekatan lunak, soft approach atau soft measures. Melalui cara itu, dikenal sejumlah program seperti deradikalisasi, peningkatan kemampuan ekonomi, perkuatan pendidikan dasar, dan lainnya.
Selain itu, juga akan dibahas tentang penanggulangan terorisme dengan metode pendekatan keras, hard approach atau hard measures.
"Pendekatan itu akan mengedepankan tiga cara, yakni intelijen, cara penegakan hukum, dan cara kemiliteran. Hal yang menjadi pertanyaan besar selama ini, bisakah Indonesia mengoptimalisasi ketiganya sehingga dicapai suatu performa penanggulangan teroris yang optimal dan tidak hanya dibebankan kepada kepolisian saja," jelas Gubernur Lemhanas Budi Susilo Soepandji.
Dalam perjalanan pemberantasan terorisme Indonesia melalui Densus 88 kerap melakukan pendekatan keras dan cenderung membunuh para tertuduh teroris dan belum terlalu serius dalam menerapkan pendekatan lunak tersebut.
Nantinya, naskah yang telah disiapkan oleh peserta PPSA XVII Lemhanas yang dibahas dalam seminar tersebut akan direvisi dan kemudian dikirimkan ke Presiden.
Naskah tersebut diharapkan menjadi bahan pertimbangan dan masukan dalam penyusunan kebijakan yang terkait dengan permasalahan terorisme. Dikemukakan Budi, itu sudah sesuai dan selaras dengan salah satu tugas pokok Lemhanas yang mengemban fungsi sebagai think tank pemerintah.
Rep: Jaka
Rencananya seminar tersebut akan dilaksanakan dua hari, mulai 2-3 Agustus 2011. Pada hari pertama akan dipaparkan dan akan diarahkan pada penanggulangan terorisme dengan menggunakan metode pendekatan lunak, soft approach atau soft measures. Melalui cara itu, dikenal sejumlah program seperti deradikalisasi, peningkatan kemampuan ekonomi, perkuatan pendidikan dasar, dan lainnya.
Selain itu, juga akan dibahas tentang penanggulangan terorisme dengan metode pendekatan keras, hard approach atau hard measures.
"Pendekatan itu akan mengedepankan tiga cara, yakni intelijen, cara penegakan hukum, dan cara kemiliteran. Hal yang menjadi pertanyaan besar selama ini, bisakah Indonesia mengoptimalisasi ketiganya sehingga dicapai suatu performa penanggulangan teroris yang optimal dan tidak hanya dibebankan kepada kepolisian saja," jelas Gubernur Lemhanas Budi Susilo Soepandji.
Dalam perjalanan pemberantasan terorisme Indonesia melalui Densus 88 kerap melakukan pendekatan keras dan cenderung membunuh para tertuduh teroris dan belum terlalu serius dalam menerapkan pendekatan lunak tersebut.
Nantinya, naskah yang telah disiapkan oleh peserta PPSA XVII Lemhanas yang dibahas dalam seminar tersebut akan direvisi dan kemudian dikirimkan ke Presiden.
Naskah tersebut diharapkan menjadi bahan pertimbangan dan masukan dalam penyusunan kebijakan yang terkait dengan permasalahan terorisme. Dikemukakan Budi, itu sudah sesuai dan selaras dengan salah satu tugas pokok Lemhanas yang mengemban fungsi sebagai think tank pemerintah.
Rep: Jaka
Comments (2)
-
|2011-08-02 13:19:29 Babah Liem - Menanggulangi Terorisme itu gampang!
Menanggulangi terorisme itu gampang! Sangat gampang! Hancurkan sumbernya! Nanti terorisme mati dengan sendirinya! Siapa sumbernya? Orang kulit putih yaitu yahudi dan nasrani! Kalau mereka sudah tidak ada, maka terorisme pun tidak ada! Densus 88 pun tidak akan ada lagi. Teroris di Indonesia itu bernama Densus 88! Mereka membunuh orang seenaknya sendiri tanpa lewat jalur hukum! Itulah teroris sejati yang dicetak oleh barat yang merupakan dedengkotnya teroris dunia! Gampang, khan?
Powered by !JoomlaComment 4.0 beta2











Indonesia bangkrut karena korupsi dan kolonialisme. Pergantian rezim harus dilakukan secepatnya untuk menyelamatkan negeri ini. Yang tidak kalah penti...
Kasus GKI Yasmin semakin membuktikan kebenaran laporan International Crisis Group. Menurut ICG, salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antaruma...
Artawijaya
Penulis buku "Gerakan Theosofi di Indonesia" dan "Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara" Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Penganut Theosofi di Minangkabau menolak penegakkan syariat yang dianggap ancaman terhadap adat istiadat Minangkabau. Padahal syariat yang ingin ditegakkan ketik...