Pemkot Bandung Tarik Film "?"
Bandung (SI ONLINE) - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung akhirnya mengabulkan tuntutan sejumlah ormas Islam termasuk Front Pembela Islam (FPI) yang menuntut penarikan peredaran film “?” dari seluruh bioskop di Bandung. Sebelumnya, FPI mendemo Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung menuntut penarikan film karya Hanung Bramantyo tersebut.
"Rencananya hari ini (Kamis, 12/5/2011) kita akan minta pengusaha bioskop menarik film “?”. Tapi kita belum dapat konfirmasi dari pengusaha bioskop," ujar Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda.
Dia menjelaskan, keinginan penarikan film tersebut merupakan hasil koordinasi bersama sejumlah pihak. Seperti Disbudpar, Kepolisian, TNI, serta MUI. "Saat ada demo dari FPI, Disbudpar langsung menggelar rapat dengan jajaran Intel Polrestabes untuk mengkaji film tersebut," ujar Ayi.
Ayi memaparkan, sejak Rabu (11/5), pihak Disbudpar telah membentuk tim khusus untuk menonton film tersebut. Ini untuk membuktikan dan menentukan ada tidaknya unsur pelanggaran dan penodaan agama. "Tim sudah lihat unsur penodaan yang disebut FPI. Saya belum dapat laporan lebih jauh soal isi film itu," jelasnya.
Ayi sendiri mengaku belum pernah menonton film "?" karena tidak tertarik dengan judulnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, massa FPI berunjukrasa di Bandung Super Mal dan di depan kantor Disparbud, terkait peredaran film “?”. Mereka menuntut Disparbud Kota Bandung menarik peredaran film "?" dari bioskop-bioskop di Kota Bandung.
"Kami berikan waktu tiga hari. Jika tidak ditarik, kami akan lakukan aksi dengan cara menggelar sweeping ke bioskop-bioskop," ancam Koordinator FPI Kota Bandung Evi Arifin, Selasa (10/5).
FPI memandang, film tersebut mempropagandakan paham pluralisme. Menurutnya, film itu memberi anggapan semua agama benar, seperti Islam masuk Katolik jadi lebih baik, muslim memerankan Yesus tidak apa-apa, serta berjilbab ternyata bakhil dan jahat. "Setelah diamati dan dilihat, ternyata di film itu semua agama seolah-olah benar. Selain itu Film “?” mencampuradukkan segala sesuatu yang jelas tidak boleh," jelas Evi.
Rep: M Syah Agusdin
Sumber: jpnn











Indonesia bangkrut karena korupsi dan kolonialisme. Pergantian rezim harus dilakukan secepatnya untuk menyelamatkan negeri ini. Yang tidak kalah penti...
Kasus GKI Yasmin semakin membuktikan kebenaran laporan International Crisis Group. Menurut ICG, salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antaruma...
Artawijaya
Penulis buku "Gerakan Theosofi di Indonesia" dan "Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara" Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Penganut Theosofi di Minangkabau menolak penegakkan syariat yang dianggap ancaman terhadap adat istiadat Minangkabau. Padahal syariat yang ingin ditegakkan ketik...