Film "Tanda Tanya" Hanung Sangat Melukai Hati Umat Islam
Jakarta – Film "?" (tanda tanya) garapan sutradara liberal Hanung Bramantyo dinilai sebagai film yang melukai hati umat Islam. Demikian kesimpulan dari pakar aliran Sepilis (sekulerisme, pluralisme dan liberalisme), Adian Husaini terhadap film produksi Mahaka Pictures itu.
”Setelah saya melihat triller film ini yang lebih dulu disebarkan di You Tube, hingga menonton langsung filmnya malam ini, jelas sekali, film ini sangat merusak, berlebihan, dan melampaui batas. Hanung ingin menggambarkan kerukunan, tapi justru memberi stereotype yang buruk tentang Islam,” kata Adian.
Sebagai contoh, kata Adian, di babak awal film ini, ada adegan penusukan terhadap seorang pendeta yang tidak jelas motifnya. Belum lagi adegan pengeboman gereja. Kasus-kasus itu diangkat, untuk memberi steroetype orang Islam yang diperankan secara buruk. Begitu juga, seorang muslim yang murtad dari Islam diangap wajar saja. Kemudian semua agama digambarkan menuju satu tujuan dan tuhan yang sama.
Menurut Adian, ide-de pluralisme itu sendiri sudah lama ditentang oleh Islam. Karena kerukunan itu bisa diwujudkan tanpa mengorbankan keyakinan masing-masing. Adian menilai, film Hanung terkesan lebay alias berlebihan. Film ini ingin menciptakan kerukunan, tapi malah merusak konsep keyakinan pada masing-masing agama, terutama agama slam.
”Sangat disayangkan film ini telah sebarluaskan. Ini bukan menciptakan kerukunan, tapi justru bisa merusak kerukunan itu sendiri. Kalau konsep kebenaran pada setiap agama dihilangkan atas nama pluralisme, justru ini sangat berbahaya,” tukas Adian kesal.
Dikatakan Adian, tidak mungkin setiap agama menghilangkan klaim pada keyakinannya. Selama ini tidak ada masalah. Tidak bisa seorang muslim seenaknya, di masjid melafalkan QS Al Ikhlas, tapi disisi lain memerankan Yesus di sebuah gereja pada hari Pasca dan kegiatan kebaktian agama Nasrani lainnya. Toleransi sebetulnya cukup dengan menghormati orang lain, bukan mencampuradukkan keyakinan.
“Jelas sekali dalam ajaran islam, ada tauhid ada syirik, ada iman ada kufir. Nah, batas-batas itulah yang seharusnya dipegang. Jika produser, penulis, sutradara, pemain itu seorang muslim, seharusnya dia menjaga batas-batas keimanan dan akidahnya, yakni kapan dia mempertahankan konsep keyakinannya dan kapan rukun dengan orang lain yang tidak seagama. Film ini jelas Ini melampaui batas, ini merugikan kerukunan umat beragama itu sendiri,” paparnya.
Ketika ditanya, apakah sebaiknya ada seruan untuk memboikot film ini? Adian sendiri tidak menganjurkan agar film ini diboikot. Ia beralasan, sekarang ini era kebebasan, eranya orang boleh menyebarkan apa saja. Terpenting, kata Adian, setiap muslim wajib mempertahankan keimanannya, sehingga tidak tergoda, tidak terjebak, tidak terpesona serta tidak terpeleset.
Di era keterbukaan ini, siapa yang bisa melarang untuk memboikot. Yang pasti tokoh agama harus menjelaskan kepada umat akan bahaya film pluralisme agama yang jelas menyesatkan. Bagi Adian, yang penting masing-masing orang tahu, mana tauhid mana syirik, mana iman mana kufur, mana sunnah mana bidah, mana halal dan mana haram,
”Kadangkala tontonan yang menyesatkan itu dibungkus dengan humor dan gambaran-gambaran sinematografi yang memancing tawa. Sehingga orang lupa dibalik canda dan tanda itu ada sesuatu yang serius. Muslim di era globalisasi adalah menjaga diri dan keluarganya dari api neraka,” tandas Adian.
Mengutip QS Al An'am: 112, musuh para Nabi itu selalu mengungkapkan kata-kata yang indah dengan tujuan menyesatkan manusia. “Mudah-mudahan Hanung tidak sadar, keliru, dan segera bertobat. Itu lebih baik, daripada mempertahankan hal yang salah. Kita kan hanya bisa menghimbau. Terserah produser dan sutradaranya masing-masing.”
Menjadi aneh, seorang muslimah berkerudung tapi merasa nyaman bekerja di sebuah restoran yang menjual daging babi. Mungkin saja ada kasus itu, tapi apakah itu menjadi contoh ideal dari sebuah toleransi? Jelas itu contoh yang tidak baik.
Adian juga menyesalkan adegan seorang muslim memerangkan adegan Yesus, lalu sebagai sesuatu yang wajar. ”Ini bukan wilayah sosiologis dan toleransi lagi, tapi wilayah teologis, yang masing-agama punya konsep yang eksklusif dan khas. Ini salah pandang, dikira kerukunan bisa dibangun dengan menghilangkan klaim kebenaran (truth claim). Jelas ini konsep yang keliru dari sebuah pluralisme.”
Jika pluralisme itu dimaknai semua agama benar, ujung-ujung adalah orang tidak beragama pun boleh. Orang yang ateis dan pluralisme itu sangat dekat. Ketika semua agama dianggap benar, tidak beragama juga tidak apa-apa. Yang penting, baik kepada sesama manusia. Aneh.
Rep: Dez Hamzah
-
|2011-04-07 20:25:36 M. Sejuki
@Sabar Sitanggang
Menjaga batas sulit? Ah yang benar aja. Tidak sulit kok sepanjang memahami aturan agama yang dianut (khususnya Islam) secara utuh. Di mana sulitnya? Akan sulit memang, jika tidak faham agama. Dan akan sulit pula (meski sudah faham agama) adalah melawan hawa nafsu untuk mematuhi atau melanggar aturan yang sudah digariskan Allah dan Rasul-Nya. Itu yang sulit Mas.
-
|2011-04-11 09:34:49 PuspitaHassei - Sayapun kaget saat menonton Tanda Tanya
Setuju sekali dengan artikel ini.. berkali2 saya dibuat terkejut saat menonton film ini.. karena toleransi yang berlebihan.. terutama toleransi di dalam ibadah.. toleransi antar umat beragama itu sangat baik.. tp ada batasannya.. tidak ke arah ibadah dan makanan haram.. #opini
-
|2011-04-15 21:08:56 hendra
ikut prihatin dengan pembuatan film seperti itu walaupun niatanya baik tapi sayang caranya salah
terlalu berlebihan
-
|2011-04-17 22:05:45 I Love Islam - Prihatin dg "?"
Untukmu agamamu dan untukQ agamaQ!!
.
Smga Allah Swt mjga keimanan qt smw dan tdk trpengaruh ma hal2 yg mngurangi rasa imtaq qt kpd Allah Swt,
amien ya rabbal alamien
-
|2011-04-17 22:25:06 saman - santai aja, bro.
gak masalah sih, kenapa harus takut dengan film, toh semua juga tahu kalau film itu fiksi. santai sajalah. iman khan tidak perlu ditakutkan. kenapa sih pada takut banget sama iman sendiri? jangan2 tiap lihat film udah pada goyah imannya... hahahahaha...
-
|2011-04-19 12:08:27 bushido - hanung sesat
Kesan Film ini merupakan kampanye Islamophobia, karena : 1. Muslim kerja di Restoran Cina (jual Babi) pernah saya temui faktanya, tapi muslimah berjilbab kerja di Restoran China terlalu mengada - ada. yg terjadi para muslimah dipaksa membuka jilbabnya ketika kerja. 2. Non muslim memberi kesempatan karyawannya utk sholat banyak ditemui tapi non muslim mengingatkan seorang muslim agar tidak lupa sholat juga mengada - ada 3. Banser jaga gereja, banyak faktanya. Banser bunuh diri ? terlalu mengada - ada 4. Muslimah minta cerai krn poligami banyak faktanya, tp muslimah murtad krn poligami adalah mengada - ada. bahkan bbrp muslimah bersedia cerai saat suaminya kembali ke agama lama (murtad) 5. Sweeping restoran di saat ramadhan sering terjadi, menyerang restoran jual babi di hari kedua syawal adalah mengada - ada 6. Non muslim menganggap islam teroris adalah hal lumrah tp orang cina meneriaki muslim dg sebutan teroris di tempat terbuka pastilah mengada - ada. Kesimpulannya : Judul film i...
-
|2011-04-19 12:08:54 bushido
ijin copy
Kesan Film ini merupakan kampanye Islamophobia, karena : 1. Muslim kerja di Restoran Cina (jual Babi) pernah saya temui faktanya, tapi muslimah berjilbab kerja di Restoran China terlalu mengada - ada. yg terjadi para muslimah dipaksa membuka jilbabnya ketika kerja. 2. Non muslim memberi kesempatan karyawannya utk sholat banyak ditemui tapi non muslim mengingatkan seorang muslim agar tidak lupa sholat juga mengada - ada 3. Banser jaga gereja, banyak faktanya. Banser bunuh diri ? terlalu mengada - ada 4. Muslimah minta cerai krn poligami banyak faktanya, tp muslimah murtad krn poligami adalah mengada - ada. bahkan bbrp muslimah bersedia cerai saat suaminya kembali ke agama lama (murtad) 5. Sweeping restoran di saat ramadhan sering terjadi, menyerang restoran jual babi di hari kedua syawal adalah mengada - ada 6. Non muslim menganggap islam teroris adalah hal lumrah tp orang cina meneriaki muslim dg sebutan teroris di tempat terbuka pastilah mengada - ada. Kesimpulannya : J...
-
|2011-04-19 12:10:18 bushido
tantangan buat hanung
jika murtad itu biasa dan semua agama itu sama..
silahkan hanung keluar dari ISLAM dan cari agama lain selain islam.
-
|2011-04-28 21:50:56 Sajid - -
mohon untuk berpikiran terbuka dalam sebuah film. memang banyak pesan-pesan yang sedikit abu disini *opini*. Perfilm-an banyak bisa menghasilkan persepsi orang dengan cara berbeda-beda, tp jangan mengambil kesimpulan dan 'menyerang' dahulu sebelum mengerti jelas maksudnya apa. Menurut saya sebagai orang muslim, dan terus belajar tentang agama saya yang sangat saya cintai ini, film "?" walaupun ada yang berlebihan seperti apa yang dikatakan @bushido: kenyataan orang non-muslim mempekerjakan orang muslim, tetapi ketika orang non-muslim mengingatkan orang sholat itu mengada-ada. yang seperti ini saya rasa menjadi contoh positif bukan? memang agak berlebihan, tapi menurut saya positif dan menghargai kewajiban umat agama lain. mungkin yang masalah disini adalah salahnya penafsiran dari pemikiran kita, dan terlalu dini mengambil kesimpulan. atau dari awal sudah berpikir secara negatif? Dan negara kita juga negara Pancasila yang menjunjung tinggi toleransi keagamaan, yang bebas...











Indonesia bangkrut karena korupsi dan kolonialisme. Pergantian rezim harus dilakukan secepatnya untuk menyelamatkan negeri ini. Yang tidak kalah penti...
Kasus GKI Yasmin semakin membuktikan kebenaran laporan International Crisis Group. Menurut ICG, salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antaruma...
Artawijaya
Penulis buku "Gerakan Theosofi di Indonesia" dan "Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara" Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Penganut Theosofi di Minangkabau menolak penegakkan syariat yang dianggap ancaman terhadap adat istiadat Minangkabau. Padahal syariat yang ingin ditegakkan ketik...