Komarudin Hidayat: Konflik Palestina-Israel Sengaja Diciptakan Barat
Konflik palestina dengan Israel, merupakan sesuatu yang memang disengaja dirancang oleh dunia Barat. Hal Ini ditegaskan Komarudin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah dalam diskusi buku karya wartawan Kompas, Trias Kuncahjono yang berjudul 'Jalur Gaza, Tanah Terjanji, Intifada dan Pembersihan Etnis' di Auditorium Nurcholis Madjid, Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu malam (28/10).
''Ini dinamakan dengan teori konspirasi, yang banyak mengemuka belakangan ini mengapa Israel selalu menyerbu dan menyerang Palestina. Dunia Barat takut sekali kalau Timur Tengah berkembang dan kemudian pro pada dunia Timur. Karena antara lain Timur Tengah kaya akan minyak. Kalau mereka berkembang dan pro Barat, itu tidak masalah,'' jelas Komarudin.
Menurut Komarudin inilah yang menjadi salah satu alasan kuat mengapa selalu diciptakan kegaduhan serta konflik di Palestina. ''Konflik di Palestina memang sulit untuk diselesaikan, karena begitu rumit dan kompleks. Pasalnya ini menyangkut kepentingan sejumlah negara dan merupakan konspirasi besar,'' paparnya.
Sementara di sisi lain, lanjut Komarudin, negara-negara Timur Tengah sendiri, khususnya yang berdekatan dengan Palestina, tidak solid. ''Arab sendiri misalnya, susah dijawab apakah Arab lebih dekat ke Palestina atau ke Amerika. Demikian juga Mesir. Ibarat gunung pasir, kadang muncul dan mudah hilang. Artinya kadang di saat tertentu, satu negara berpihak pada negara lain. Namun pada situasi lain, keberpihakan itu bisa ditarik dan berbalik,'' jelas doktor bidang Filsafat Barat di Middle East Techical University, Ankara, Turki tahun 1990 itu.
Rakyat Palestina sendiri, menurutnya memiliki tiga alasan kuat mengapa mereka juga terus melakukan perlawanan. ''Mereka memiliki militansi tinggi karena tanah air dan tanah kelahirannya diusik. Kedua, orang rela berpefrang karena harta rampasan. ketiga, Unsur keyakinan agama yang membuat mereka menjadi semakin militan. Ini ditakuti oleh Barat dan Israel,'' papar lelaki kelahiran Magelang, 18 Oktober 1953 itu.
Di tempat yang sama pengajar FISIP UI, Kusnanto Anggoro mengungkapkan hal senada. ''Konflik di Palestina dan Gaza sulit betul untuk diselesaikan. Karena tidak memiliki batasan-batasan yang jelas,'' papar Kusnanto. Dikatakannya, negara-negara di sekitar Palestina, secara tidak langsung sebenarnya menghendaki konflik di Palestina terus berlangsung. (republika/shodiq)
Last Updated (Thursday, 29 October 2009 17:01)











Indonesia bangkrut karena korupsi dan kolonialisme. Pergantian rezim harus dilakukan secepatnya untuk menyelamatkan negeri ini. Yang tidak kalah penti...
Kasus GKI Yasmin semakin membuktikan kebenaran laporan International Crisis Group. Menurut ICG, salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antaruma...
Artawijaya
Penulis buku "Gerakan Theosofi di Indonesia" dan "Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara" Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Penganut Theosofi di Minangkabau menolak penegakkan syariat yang dianggap ancaman terhadap adat istiadat Minangkabau. Padahal syariat yang ingin ditegakkan ketik...