Mereka Menyerang Kapitalisme
Presiden Obama tampaknya akan terpilih lagi tahun depan. Gerakan Occupy Wallstreet yang menyerang kapitalisme menguntungkannya. Mengapa?Gerakan anti-konglomerat sekarang menggejala ke seluruh dunia. Bermula sebulan yang lalu di Wallstreet, sebuah jalan yang amat terkenal di Manhattan, New York, tempat institusi keuangan terbesar Amerika Serikat (termasuk bank-bank raksasa) berkantor. Gerakan itu menamakan diri Occupy Wallstreet, duduki Wallstreet.
Menurut pada aktivis gerakan ini sistem kapitalisme menghasilkan orang yang sangat rakus (greedy), selain mengakibatkan kekayaan menumpuk kepada orang-orang tamak di Wallstreet. Penguasaan kekayaan yang berlebihan itu pada gilirannya menyebabkan terjadi krisis yang sekarang dialami Amerika Serikat dan Eropa, mengakibatkan seluruh rakyat merasakan dampaknya.
Bila semula gerakan itu hanya terpusat di Taman Zuccotti (Zuccotti Park), Manhattan, kini ia menular dan merambat ke seluruh dunia: London, Zurich, Roma, Tokyo, Seoul, Sydney, Melbourne, bahkan Jakarta. Di Roma, pekan lalu, para demonstran bentrok dengan polisi, puluhan orang luka-luka. Di Jakarta tampaknya gerakan ini akan dapat dukungan karena pemerintahan Presiden SBY sudah amat terkenal sebagai pendukung utama kapitalisme.
Sampai sekarang setidaknya Occupy Wallstreet sudah mendapat dukungan rakyat Amerika Serikat. Itu bisa diketahui dari jajak pendapat terbaru yang dilakukan The Washington Post – ABC News, yang menunjukkan bahwa 68% kelompok independen dan 60% pendukung Partai Republik memiliki kesan negatif terhadap institusi keuangan raksasa (The Washington Post, 15 Oktober 2011).
Maka Presiden Barack Obama dan timnya akan menjadikan kemarahan publik Amerika Serikat terhadap Wallstreet sebagai salah satu tema sentral kampanye dalam pemilihan presiden di pengujung tahun 2012.
Soalnya, para ahli strategi Obama melihat saingan potensial mereka dari Partai Republik adalah Mitt Romney, bekas Gubernur Massachusetts yang kaya dan bekas eksekutif perusahaan investasi sehingga bisa dijadikan sasaran sebagai simpatisan Wallstreet.
Apalagi selama ini Obama memang sudah berkampanye untuk menggolkan regulasi pembaruan Wallstreet – antara lain dengan membuat sistem perlindungan terhadap konsumen. Bahkan secara terbuka Obama menyerang Bank of America karena kebijakannya merugikan nasabah.
‘’Kami akan jadikan itu salah satu bagian sentral dari kampanye tahun depan,’’ kata David Plouffe, penasehat senior Obama seperti disiarkan koran The Washington Post tadi. ‘’Ketika orang akan menentukan sikapnya 12 bulan lagi dari sekarang, mereka akan tahu siapa yang membuat keputusan untuk membantu rakyat atau membantu Wallstreet.’’
Tentu saja semua itu tak mudah. Soalnya Amerika Serikat adalah negeri Mbahnya kapitalisme dunia. Maka tak sedikit para pelaku bisnis di Wallstreet punya hubungan dengan para penasehat Presiden Obama, atau dengan para tokoh Partai Demokrat. Sekadar contoh, William Daley yang menjadi Kepala Staf yang baru berasal dari kalangan perbankan. Artinya, dia adalah orang Wallstreet yang berada di ketiak Obama.
Hal itu setidaknya akan menyebabkan gerakan Obama akan dicurigai dan tak didukung oleh para aktivis Occupy Wallstreet. ‘’Fakta bahwa Obama dekat ke Wallstreet akan memberikan pukulan kepadanya,’’ kata Van Jones, pengamat dan bekas staf Obama.
Memang harus diakui selama memimpin Amerika Serikat, Obama menghadapi banyak persoalan. Ketika ia terpilih, 2008, negerinya lagi dihantam resesi. Sampai sekarang, sesungguhnya Amerika Serikat belum pernah pulih seperti sediakala. Kini krisis baru menghantui negeri dengan ekonomi terbesar di dunia itu. Citra Obama sebagai presiden pun ikut terpuruk.
Tapi agaknya dalam Pilpres 2012, peruntungan Obama tak seburuk itu. Pertama, sebagai incumbent ia langsung menjadi calon Partai Demokrat. Artinya, ia tak perlu menghadapi pertarungan internal untuk memperebutkan kursi calon partainya.
Selain itu, dalam daftar Partai Republik sebagai saingan belum terlihat calon kuat yang mampu menggungguli Obama. Sekarang beredar banyak bakal calon: bekas Gubernur Minnesota Tim Pawlenty, bekas Gubernur Utah Jon Huntsman, anggota DPR dari Minnesota, Michele Bachmann, anggota DPR asal Texas, Ron Paul, Gubernur Texas Rick Perry, dan Mitt Romney. Belakangan muncul nama Herman Cain, pensiunan eksekutif makanan cepat saji Pizza.
Semua nama itu harus bertarung di dalam pemilihan pendahuluan Partai Republik – disebut primary – guna menentukan satu calon yang akan bertarung menghadapi calon Partai Demokrat, Barack Obama.
Menurut The New York Times 14 Oktober lalu, dilihat dari pengumpulan dana yang dilakukan para bakal calon, dua nama yang menonjol adalah Mitt Romney dan Rick Perry. Data dari Komisi Pemilihan Federal (Federal Election Commission) selama tiga bulan sampai 30 September lalu, menunjukkan bahwa Rick Perry mengumpulkan 17 juta dollar (sekitar Rp 145 milyar) , disusul Mitt Romney 14 juta dollar (sekitar Rp 120 milyar).
Tapi dibanding Obama jumlah itu nyaris tak berarti. Soalnya Presiden Amerika Serikat pertama yang berkulit hitam dan di masa kanak-kanak pernah menetap di Jakarta, dalam priode yang sama telah mengumpulkan 42 juta dollar (sekitar Rp 360 milyar).
Bila Romney yang memenangkan kursi calon presiden dari Partai Republik sebagaimana diantisipasi oleh para ahli strategi kubu Obama, hampir bisa ditebak Obama akan kembali memenangkan kursi Presiden Amerika Serikat.
Kenapa begitu? Sebagai pemeluk Mormon, Mitt Romney dianggap oleh banyak orang Amerika Serikat bukanlah Kristen. Dalam sejarah Amerika Serikat lebih 200 tahun, selalu yang menjadi Presiden Amerika Serikat adalah seorang Kristen. Jadi sekali pun konstitusi Amerika Serikat melarang orang dipilih dengan dasar agama, toh sejarah membuktikan lain.
Hanya pernah terjadi satu kali ‘’kecelakaan’’ di tahun 1960, sewaktu JF Kennedy dari Partai Demokrat dan seorang beragama Katolik yang minoritas terpilih sebagai Presiden. Tapi seperti sama kita ketahui kemudian Kennedy ditembak mati oleh sebuah komplotan sebelum masa jabatannya berakhir. Selain itu kelemahan Romney tentulah posisinya sebelumnya sebagai bekas pemilik perusahaan keuangan yang bisa digolongkan sebagai kelompok Wallstreet. Padahal sekarang gerakan anti-Wallstreet telah menggema di seantero negeri.
Amran Nasution
Staf Ahli Suara Islam
-
|2011-10-18 11:54:38 Babah Liem - Lihat dulu siapa biangnya!
Lihat dulu siapa biangnya, dong! Dibalik semua krisis adalah iblis yahudi! Kalau saja amrik setan tidak tunduk pada segelintir iblis yahudi, keadaannya tidak akan separah seperti sekarang ini. Penguasa amrik setan begitu tunduk dan mudahnya didikte oleh para iblis yahudi. Menyerang Irak dan Afghanistan saja suda meruntuhkan keuangan amrik setan. Belum lagi krisis2 keuangan sebelumnya yg semua diatur oleh yahudi. Tujuan yahudi satu: menghancurkan penguasa2 dunia dan ganti mereka yang menjadi penguasa tunggal. USSR telah dihancurkan lewat perestroikanya si yahudi gorbachov. Kini amrik setan dan eropa tengah dihancurkan. Berikutnya yahudi2 itu akan muncul sbg penguasa tunggal dunia. Itu maunya! Apakah akan berhasil? Jawabnya: TIDAK! Justru dari situlah awal kehancuran mrk! Ditambah dengan turunnya Nabi Isa AS dan Imam Mahdi serta Dajjal. Sempurnalah kehancuran iblis yahudi! Lihat saja nanti! Allah SWT tidak buta dan tidak tuli!


