Konstitusi Tak Berlaku Untuk Muslim
Anwar al-Awlaki, ulama dan warganegara Amerika Serikat tewas oleh rudal CIA. Kini menjadi perdebatan: mengapa ia tak diadili?Yang terjadi memang sesuai rencana CIA, badan intelijen Amerika Serikat. Ulama kharismatis itu, Anwar al-Awlaki, 40 tahun, terbunuh Jumat, 30 September lalu, di suatu tempat di Yaman, negeri yang dikuasai pemerintahan boneka Amerika Serikat.
Awlaki tewas setelah rudal yang dilepaskan dari pesawat terbang tanpa awak (drone) milik CIA mengenai mobil yang ia tumpangi. Dalam peristiwa itu dikabarkan turut terbunuh Samir Khan, seorang yang disebutkan berperan dalam penerbitan Inspire, majalah berbahasa Inggris milik al-Qaeda, beredar di Jazirah Arab. Dengan peristiwa ini Awlaki merupakan warganegara Amerika Serikat pertama dibunuh dengan sengaja tanpa melalui proses pengadilan.
Dia memang sudah lama jadi buronan CIA karena dituduh terlibat jaringan Al-Qaeda. Badan intelijen Amerika Serikat sudah lama pula diketahui memburu dan berencana membunuh ulama berkewarganegaraan Amerika Serikat itu. Awlaki melarikan diri dari Amerika dan bersembunyi di Yaman, negeri asal leluhurnya.
Sampai sekarang sebenarnya tak terlalu jelas keterlibatan Awlaki dengan Al-Qaeda. Kesalahannya terbesar tampaknya karena ia menyatakan secara terbuka bahwa menjadi kewajiban bagi ummat Islam untuk menyerang Amerika Serikat. Itu dengan alasan pemerintah Amerika Serikat memusuhi Muslim setelah peristiwa penyerangan 11 September 2001. Semua Muslim seakan dianggap teroris dan diperlakukan dengan buruk. Tapi dengan pernyataannya itu CIA langsung menuduh Awlaki aktif merencanakan tindak kekerasan.
Rencana untuk membunuh Awlaki telah mendapat persetujuan Departemen Kehakiman Amerika Serikat (lihat The Washington Post, 1 Oktober 2011). Bahkan Presiden Obama sendiri dikabarkan sudah menyetujui pembunuhan terhadap ulama yang dilahirkan di Amerika Serikat itu.
Awlaki dilahirkan 1971 di Las Cruces, New Mexico, Amerika Serikat. Ayahnya, Nasser al-Awlaki kemudian pernah menjabat Menteri Pertanian dan rektor di sebuah perguruan tinggi di Yaman, pada waktu itu sedang menjadi mahasiswa pascasarjana di sebuah perguruan tinggi di sana. Pada usia 7 tahun ia dibawa orang tuanya pulang ke Yaman.
Ketika berusia 19 tahun, Awlaki kembali ke Amerika Serikat. Ia menjadi mahasiswa teknik di Colorado State University sampai meraih gelar sarjana. Tapi kemudian ia lebih tertarik menjadi ulama. Ia adalah Imam Masjid di Denver, San Diego, dan Virginia (Washington). Berbagai ceramahnya direkam dalam CD telah terjual sebagai best sellers.
Maka terjadilah serangan teroris terhadap menara kembar WTC, 11 September 2001. Anwar al-Awlaki jelas tak setuju serangan itu. Ia mengecamnya secara terbuka dan ada dokementasinya. Tapi kemudian ia marah atas perlakuan aparat keamanan Amerika Serikat yang memperlakukan seluruh ummat Islam di Amerika Serikat sebagai teroris.
Pada 2002, Awlaki pindah ke London dan lalu pulang kampung ke Yaman. Tapi pada 2006 – 2007, pemerintah Yaman memenjarakannya tanpa tuduhan yang jelas. Untuk diketahui pemerintahan di Yaman yang didukung sepenuhnya oleh Amerika Serikat, biasa menangkap orang seenaknya tanpa bukti apa pun.
Selepas dari tahanan ia ke Amerika Serikat dan membuka website, blog, dan Facebook, yang dikunjungi puluhan ribu penggemar. Awlaki mulai dikenal sebagai seorang yang anti-Barat. Misalnya, ia memuji-muji Mayor Nidal Malik Hasan sebagai pahlawan. Padahal sang mayor dituduh menembaki kawan-kawannya di asrama militer di Fort Hood, Texas, mengakibatkan 13 tentara terbunuh.
Ceramahnya yang keras dan tersebar melalui kaset atau CD, terutama melalui website, memang mempengaruhi penggemarnya di Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris. Maka aparat keamanan di Amerika Serikat mulai membuntutinya. Akhirnya ia melarikan diri dan bersembunyi di Yaman – di negeri leluhurnya itu sekarang sedang berkecamuk revolusi -- sampai terbunuh oleh rudal Amerika Serikat.
Kini kematian Anwar al-Awlaki memicu perdebatan. Soalnya, ia seorang warganegara Amerika Serikat. ‘’Seperti sama kita saksikan, ini adalah program yang menyebabkan warganegara Amerika Serikat yang bukan berada di medan perang telah dieksekusi mati oleh pemerintahnya sendiri tanpa proses hukum dan tanpa berdasarkan standar dan bukti. Dan itu dirahasiakan bukan hanya dari masyarakat tapi juga dari pengadilan,’’ kata Jameel Jaffer, Deputi Direktur Hukum American Civil Liberties Union (ACLU), organisasi kebebasan sipil di Amerika Serikat (The New York Times, 30 September 2011).
Padahal Amendemen Kelima di dalam konstitusi Amerika Serikat menegaskan bahwa tak seorang warganegara pun yang bisa direnggut hidupnya, kebebasannya, atau hartanya, tanpa melalui proses hukum.
Kenyataannya nama Anwar al-Awlaki menjadi warganegara Amerika Serikat pertama yang dicantumkan di dalam daftar CIA, untuk dibunuh. Ia dituduh terlibat teroris Al-Qaeda. Terbukti ia terbunuh oleh rudal CIA tanpa proses pengadilan.
Persoalannya: bagaimana kalau tuduhan CIA yang melibatkannya dengan Al-Qaeda hanya tuduhan palsu? Divol, wanita yang pernah menjadi pengacara CIA mengingatkan pemberitaan media di tahun 2004, tentang penangkapan Khaled el Masri, warganegara Jerman, oleh CIA dengan tuduhan terorisme. Khaled sempat berbulan-bulan mendekam di dalam tahanan sebelum akhirnya diketahui dia hanya korban salah tangkap. ‘’Bagaimana jadinya kalau kita sempat masukkan dia dalam daftar orang yang harus dibunuh?’’ kata pengacara itu.
Itulah sebabnya selaku warganegara Amerika Serikat mestinya Anwar al-Awlaki mendapat perlakuan yang sama untuk dihadapkan ke depan sidang pengadilan, sebagaimana dimaksud Amendemen Kelima. Bukan dihukum mati dengan rudal hanya semata-mata karena tuduhan CIA. Rupanya dalam kasus ini Amendemen Kelima tak berlaku. Besar kemungkinan karena Anwar al-Awlaki seorang Muslim.
Padahal seperti terbukti dalam kasus bom Oslo, Norwegia, terorisme tak kenal agama. Anders Behring Breivik, teroris yang menjagal 92 korban (sebagian anak kecil) dengan dingin itu, bukan seorang Muslim.
Begitu pula Timothy Mc Veigh, teroris yang mengebom gedung federal di Oklahoma City pada 1995 yang menyebabkan hampir 200 nyawa melayang, dan disebut sebagai peristiwa teror terbesar di Amerika Serikat sampai terjadi peristiwa 11 September.
Amran Nasution
Staf Ahli Suara Islam


