Kini Marzuki Menentang SBY
Meski pun dikecam habis oleh masyarakat, pembangunan gedung baru DPR yang mewah tetap dilanjutkan. Peristiwa kedua Marzuki berani melawan SBYSemua orang sependapat pernyataan Presiden SBY Kamis, 7 April itu, adalah permintaan agar DPR setidaknya menunda, kalau tak bisa membatalkan rencana membangun gedung baru DPR yang berbiaya lebih satu triliun rupiah.
Permintaan itu sungguh masuk akal. Pertama apa yang disuarakan Presiden sesungguhnya adalah suara mayoritas rakyat. Itu bisa dilihat dari riuh-rendahnya protes para tokoh masyarakat dan aktivis LSM selama ini terhadap rencana membangun gedung itu. Apalagi survei yang dilakukan koran Kompas baru-baru ini memperlihatkan bahwa mayoritas responden (82,2%) tak mendukung pembangunan gedung DPR (Kompas 4 April 2011). Artinya, tanpa permintaan Presiden pun, semestinya DPR sebagai lembaga wakil rakyat segera memahami keinginan rakyat, dan membatalkan rencana tak popular itu.
Tapi bukan itu yang terjadi. Rapat konsultasi pimpinan dan fraksi DPR yang diadakan beberapa waktu saja setelah Presiden SBY mengeluarkan pernyataan, memutuskan bahwa pembangunan gedung baru itu dilanjutkan. Anis Matta, Wakil Ketua DPR yang ditugaskan Ketua DPR Marzuki Alie untuk memberi keterangan pers , menyatakan bahwa semuanya setuju pembangunan itu diteruskan kecuali Fraksi Gerindra dan PAN.
Artinya, sejumlah fraksi yang sebelumnya ramai-ramai menyerang rencana itu seperti Fraksi PPP, Hanura, dan PDIP, ternyata telah berubah haluan jadi pendukung. Itu biasa dalam politik. Yang belum jelas apa ‘’imbalannya’’ sampai partai-partai itu mengubah haluan. Tentu saja tak ada makan siang yang gratis. There is no free-lunch.
Tapi yang paling menarik adalah Fraksi Partai Demokrat. Sejak semula fraksi pemerintah ini adalah pendukung pembangunan gedung DPR. Apalagi Marzuki Alie, Ketua DPR yang sejak lama paling ngotot sebagai pendukung pembangunan gedung adalah tokoh Partai Demokrat. Selain sebagai fraksi terbesar, Partai Demokrat memimpin koalisi mayoritas di DPR. Sehingga kemana Partai Demokrat melangkah, ke sanalah nampaknya keputusan DPR akan mengarah.
Maka begitu Presiden SBY menyampaikan pernyataan terbuka yang nadanya meminta tunda pembangunan gedung, orang menduga rencana itu segera terhenti. ‘’Pembangunan gedung yang tak memenuhi ketentuan yang dikeluarkan atau bahasa saya tak memenuhi standar kepatutan agar ditunda terlebih dahulu. Direvisi penyesuaiannya, bahkan barangkali jika tidak dibutuhkan bisa ditunda atau dibatalkan,’’ ujar Presiden siang itu di kantornya.
SBY adalah pendiri dan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Selain memegang jabatan paling menentukan itu, semua orang tahu partai itu tak lain dari tempat berkumpul para pengagum dan pendukung SBY atau lebih tepatnya: Partai Demokrat merupakan sebuah ‘’SBY Fan Club.’’
Maka tak sedikit orang terperanjat ketika ternyata DPR memutuskan melanjutkan pembangunan gedung DPR, bertolak-belakang dengan apa yang disarankan SBY. Apa yang sedang terjadi?
Sesungguhnya barangsiapa mengamati perkembangan Partai Demokrat dengan seksama akan menemukan bahwa perlawanan terhadap SBY bukan pertama kali ini terjadi. Itu sudah terjadi dalam kongres partai itu di Bandung, Mei tahun lalu.
Ketika itu amat kentara kalau SBY menginginkan Andi Mallarangeng, bekas Juru Bicara Presiden yang menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga, akan menjadi Ketua Partai Demokrat. Maka Andi didampingi Edhie Baskoro alias Ibas putra bungsu Presiden SBY, berkampanye berkeliling Indonesia. Dengan Ibas berada di sampingnya, Andi Mallarangeng tampak percaya diri bahwa dia akan memenangkan pertarungan memperebutkan Ketua Umum. Soalnya, kehadiran Ibas tentu menjadi isyarat jelas bahwa Andi didukung SBY.
Ternyata Marzuki Alie dan terutama Anas Urbaningrum, mendapat cukup banyak dukungan dari masyarakat Partai Demokrat. Dukungan itu mereka peroleh setelah keduanya bertarung habis-habisan dengan segala macam cara untuk terpilih. Dari arena kongres waktu itu tercium aroma tak sedap: berkecamuknya permainan politik uang.
Seperti sama diketahui, dalam kongres ini Presiden SBY dipermalukan karena Andi Mallarangeng, jagonya, dikalahkan Anas Urbaningrum. Tak mau kalah telak, sebagai orang paling menentukan di partai itu SBY menggunakan pengaruh sehingga anaknya Baskoro yang masih begitu hijau terpilih menjadi Sekjen.
Jadi dalam Kongres Bandung inilah boleh dikatakan pertama kali terjadi keinginan SBY dilawan para kadernya: Anas Urbaningrum dan Marzuki Ali. Keputusan DPR meneruskan pembangunan gedung DPR kali ini merupakan perlawanan kedua dari Marzuki Alie.
JADI TERTUDUH KORUPSI
Perlu dicatat bahwa sejak peristiwa ini menjadi isu kontroversial mulai tahun lalu, Ketua DPR Marzuki Alie dan para wakil ketua seperti Priyo Budi Santoso, Pramono Anung Wibowo, M.Anis Matta, dan Taufik Kurniawan, tampak kompak dan sepakat.
Entah apa yang menyebabkan para pimpinan yang datang dari berbagai partai berbeda bisa bersatu dalam isu pembangunan gedung DPR. Belakangan Taufik Kurniawan dari Fraksi PAN nampak beda dengan temannya sesama pimpinan, setelah fraksinya yang dulu mendukung belakangan pindah posisi menolak pembangunan gedung bersama Fraksi Gerindra.
Gedung baru dengan 36 lantai itu menelan biaya Rp 1,138 trilyun, dan akan menaikkan gengsi 560 anggota DPR. Betapa tidak. Setiap anggota nantinya dibantu sekretaris, staf pribadi, dan 5 staf ahli, akan menempati ruangan yang luasnya 120 meter persegi.
Harga tiap ruangan itu sekitar Rp 800 juta atau menyamai harga apartemen mewah di Jakarta. Belum dihitung biaya untuk desain interior dan mebel. Singkat cerita para anggota DPR ini akan menyamai gaya para Senator Amerika Serikat. Yang mereka lupa bahwa pendapatan perkapita orang Amerika Serikat sudah mendekati 50.000 dollar, sungguh tak sebanding dengan Indonesia yang masih kere dengan 3000 dollar perkapita.
Jika semua ini kelak jadi kenyataan maka Marzuki Alie akan tercatat sebagai tokoh yang berhasil mengubah bekas gedung Conefo, peninggalan Bung Karno itu, yang mulai kelihatan tua kembali remaja sebagai salah satu gedung pencakar langit Jakarta.
Marzuki lahir di Palembang 6 November 1955, dan mulai dikenal ketika menjadi salah seorang direktur di perusahaan BUMN PT Semen Baturaja, setelah reformasi 1998. Tapi sesungguhnya karir Marzuki diramalkan waktu itu akan berakhir dengan kelabu kalau saja dia tak bergabung dengan Partai Demokrat, partai yang didirikan oleh SBY.
Menurut catatan Indonesian Corruption Watch (ICW), Maret 2004, Marzuki ditetapkan oleh Kejaksaan sebagai tersangka dalam kasus korupsi di PT Semen Baturaja, dengan nilai proyek Rp 600 milyar. Tapi ketika itu Marzuki sudah mulai dikenal sebagai tokoh Partai Demokrat. Setahun kemudian dia malah diangkat menjadi Sekjen Partai Demokrat.
Untuk diketahui saja dalam Pemilu 2004, sebagai calon Partai Demokrat SBY terpilih menjadi Presiden. Dengan konstelasi politik seperti itu tak gampang bagi Kejaksaan untuk mengusut perkara korupsi PT Semen Baturaja.
Maka sekali pun sudah ditetapkan sebagai tersangka Marzuki tak pernah ditahan. Malah belakangan perkara itu terkatung-katung (sebagaimana beberapa perkara korupsi tokoh Partai Demokrat lainnya) dan akhirnya Kejaksaan menyatakan perkara Marzuki dihentikan (SP3) karena kurang bukti. Nah, sekarang Marzuki berani menentang SBY.
Amran Nasution
Staf Ahli Tabloid Suara Islam
PENCARIAN


