SBY Menuju Lumpuh
Amran NasutionStaf Ahli Tabloid Suara Islam
Kawat Kedubes Amerika Serikat di Jakarta menuduh SBY korupsi dan menyalah-gunakan wewenang. Seharusnya KPK cepat turun tangan melakukan pemeriksaan
Jumat, 11 Maret 2011, betul-betul hari yang tak bisa dilupakan Presiden SBY dan istrinya, Kristiani Herawati alias Nyonya Ani Yudhoyono. Pada hari itu, dua koran berpengaruh di Australia, The Age yang terbit di Melbourne dan Sydney Morning Herald , koran Sydney, menurunkan tulisan yang betul-betul mencoreng-moreng citra SBY dan keluarganya. Padahal selama ini modal SBY terpilih menjadi Presiden dua priode adalah kelihaiannya membangun citra di mata rakyat.
Begitu berat pukulan itu bisa diketahui ketika ternyata SBY tak melakukan Shalat Jumat siang itu. Dia hanya mengurung diri di Istana. Menurut keterangan Mensesneg Sudi Silalahi, SBY kurang sehat. Sementara sang istrI, kata Sudi, menangis karena membaca koran.
Bagaimana Nyonya Ani tak menangis? Kedua koran itu terus-terang menuduh Presiden SBY melakukan korupsi, penyalah-gunaan wewenang dengan mengintervensi jaksa dan hakim guna mempeti-eskan suatu perkara pidana demi kepentingan politik, atau menggunakan Badan Intelijen Negara (BIN) memata-matai lawan politiknya, seperti Yusril Ihza Mahendra, bekas Menteri dan Ketua Umum Partai Bulan Bintang. Nyonya Ani sendiri dituduh mencari keuntungan bisnis dengan menggunakan wibawa suaminya.
BOCORAN WIKILEAKS
The Age memajang peristiwa itu sebagai berita utama (headline) di halaman depan. Judulnya terus-terang menuduh: Yudhoyono ‘abused power’ (Yudhoyono menyalah-gunakan kekuasaan). Lalu diikuti anak judul: Cables accuse Indonesian President of corruption (Kawat menuduh Presiden Indonesia korupsi).
Sesungguhnya berita yang menghebohkan ini bersumber dari kawat yang dikirim Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta ke Departemen Luar Negeri di Washington, sejak tahun 2004 sampai 2010. Rupanya adalah tugas rutin bagi setiap Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk mengirimkan kawat laporan semacam ini dari suatu negara ke Departemen Luar Negerinya.
Celakanya, seperti sudah diketahui, kabel-kabel itu bocor ke Wikileaks, website yang dikelola para aktivis internasional dan dipimpin Julian Assange, aktivis internet dari Australia. Assange sekarang ditahan di Inggris karena tuduhan perkosaan.
Sejak berdiri 2006, Wikileaks membocorkan berbagai dokumen Amerika Serikat, terutama dokumen perang di Afghanistan dan Iraq. Terhitung November 2010, Wikileaks mulai menyebarkan bocoran kawat diplomatik Departemen Luar Negeri Amerika Serikat di seluruh dunia. Maka banyak orang berpendapat tuduhan terhadap Julian Assange lebih merupakan balasan Amerika Serikat kepada kelompok aktivis itu.
Rupanya kini tiba giliran yang dibocorkan itu kawat Kedubes Amerika Serikat di Jakarta. Bocoran itu diterima The Age dan Sydney Morning Herald, keduanya terhitung koran kiri di negeri Kanguru itu. Maka babak-belurlah Presiden SBY dan Nyonya Ani Yudhoyono.
Segera setelah terpilih menjadi Presiden di tahun 2004 dengan mengalahkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, SBY rupanya ingin melakukan ‘’rujuk politik’’, dengan merangkul bekas ‘’lawannya’’ yaitu Taufik Kiemas, suami Megawati, yang kini menjadi Ketua MPR-RI.
Menurut Wikileaks, pada waktu itu, Desember 2004, Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Hendarman Supandji sedang mengusut sebuah kasus korupsi yang melibatkan Taufik Kiemas. Laporan yang diterima Kedubes Amerika Serikat di Jakarta dari T.B.Silalahi, informan politik mereka paling berharga, waktu itu Taufik Kiemas akan ditangkap Kejaksaan Agung.
Tapi kemudian Presiden SBY turun tangan langsung dan memerintahkan Herdarman Supandji menghentikan perkara itu. T.B.Silalahi yang disebut sebagai informan Kedubes itu tak lain dari mayor jenderal purnawirawan yang di zaman Orde Baru pernah menjadi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara. Kini ia menjadi Penasehat Senior dan orang dekat Presiden SBY.
Kawat Kedubes itu juga melaporkan ke Washington bahwa Wakil Presiden Jusuf Kalla diduga membayar uang suap dengan jumlah amat besar kepada para peserta Musyawarah Nasional (Munas) Golkar di Bali, Desember 2004, agar terpilih sebagai orang nomor satu di partai besar itu. Seperti diketahui kala itu Kalla mengalahkah Akbar Tanjung, Ketua Umum Golkar yang amat popular. Dia dianggap pahlawan karena berhasil memimpin Golkar (partai penguasa Orde Baru) memasuki masa reformasi dengan selamat.
Dari berbagai sumber, Kedubes mendapat informasi bahwa tim Kalla membagikan Rp 200 juta kepada pimpinan Golkar tingkat kabupaten/kota dan Rp 500 juta untuk pimpinan tingkat provinsi. Pimpinan tingkat provinsi diberi lebih besar karena selain memiliki suara, mereka bisa mempengaruhi suara kabupaten/kota.
Istri Presiden dan saudara-saudaranya menjadi laporan politik menonjol Kedubes. Catatan diberikan para diplomat atas kegiatan keluarga Presiden SBY, terutama Nyonya Kristiani Herawati, dalam mencari keuntungan finansial dari posisi politik mereka.
Awal 2006, Kedubes memberikan komentar kepada Washington bahwa Ibu Negara Kristiani Herawati meningkatkan aktivitasnya mencari keuntungan pribadi dengan bertindak sebagai broker atau fasilitator dalam spekulasi bisnis. ‘’Sejumlah sumber juga mengatakan bahwa anggota keluarga Kristiani mulai mendirikan perusahaan guna mengkomersialkan pengaruh keluarga,’’ bunyi salah satu kawat itu. Karena peran itu, orang-orang di Kedubes Amerika Serikat di Jakarta menjuluki Kristiani Herawati dengan Cabinet One People (kabinet satu orang) atau Top Presidential Adviser (penasehat Presiden paling top).
Kedubes tahu bahwa Ibu Ani memang penasehat Presiden yang sesungguhnya. Sementara penasehat Presiden yang formal seperti TB Silalahi hampir putus asa memberikan nasihat ke SBY karena tak pernah didengar. Keluhan seperti ini banyak terdengar dari para anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang merasa makan gaji buta alias digaji tanpa bekerja, karena nasehat mereka tak pernah didengarkan Presiden SBY.
Di dalam tulisan koran The Age berjudul Yudhoyono Abused Power, diungkap bahwa kawat Kedubes mengungkap hubungan Presiden SBY dengan para pebisnis keturunan China, yang paling menonjol adalah pengusaha Tomy Winata, pemilik Grup Artha Graha.
Pada 2006, Agung Leksono (kini Menko Kesra) melaporkan ke pejabat Kedubes bahwa TB Silalahi berperan sebagai penghubung dalam urusan dana antara Tomy Winata dengan SBY. ‘’SBY dilindungi dari kemungkinan adanya risiko kalau berhubungan secara langsung,’’ tulis The Age. Nama lain disebut sebagai penghubung adalah Muhammad Lutfi, bekas Kepala BKPM yang kini menjadi Duta Besar di Tokyo.
Betulkah semua cerita di atas? Bantahan berhamburan dari Istana. Mulai dari Juru Bicara Presiden sampai para menteri, semua membantah. ‘’Itu fitnah,’’ kata Sudi Silalahi. Hanya bekas Wakil Presiden Jusuf Kalla yang bicara berbeda. ‘’Ya, saya menghabiskan Rp 2 milyar sampai Rp 3 milyar,’’ katanya kepada wartawan. Duit itu dihabiskan Kalla untuk membiaya tiket pesawat dan hotel 3000 peserta Munas Golkar. Maka sebenarnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus turun tangan melakukan pemeriksaan.
Apalagi yang terpenting sebenarnya berita koran itu ada sumbernya, yaitu kawat Kedubes Amerika Serikat di Jakarta. Artinya, laporan Kedubes itulah yang memojokkan SBY, istri, dan keluarganya. Padahal SBY adalah seorang pecinta Amerika Serikat.
Ketika mengunjungi Amerika Serikat di tahun 2003, SBY berkata, ‘’I love the United States with all its faults. I consider that its my second country.’’ (International Herald Tribune, 8 Agustus 2003). Saya cinta Amerika Serikat dengan segala kesalahannya. Saya anggap Amerika Serikat negeri saya yang kedua.
Yang lebih menarik, meski SBY menang besar dalam Pemilu 2009, karena kontroversi yang dilakukannya , menurut Kedubes Amerika Serikat di Jakarta, populeritasnya turun dengan sangat cepat. Kedubes mengatakan: SBY sedang menuju kelumpuhan. Apa artinya?.
-
|2011-03-13 00:07:26 Muhammad Syahroji
kpk... dpr...mpr... parpol...ham ada ditangan dia, mana mungkin bisa nanya apa yang dituduhkan itu....
-
|2011-03-13 11:03:44 bima - ddada
lama2 jg bakal kebongkar kok kebusukan2 yg dilakukan oleh para petinggi negeri ini. dan keburukan2 sistem yg sedang berjalan di negeri ini saaat ini.
mantapppp......
-
|2011-03-13 11:41:31 ahmad - nah ini dia
udah dibilangin ama FPI bubarin ahmadiyah yang jelas2 menghina islam atau suatu saat akan dibalas oleh alloh swt dihinakan di dunia, mungkin INI DIA
afwan
-
|2011-03-14 06:43:49 Pro Islam - Sumpah pocong!
Pak beye dan keluarga gak perlu membantah, sewot, marah2. Cukup sumpah pocong! Nanti khan jadi headlines CNN, BBC, VOA, Washington Post, New York Times dan media2 lainnya. Dijamin dapat mengangkat citra dirinya!
-
|2011-03-21 00:05:02 mukhtar - transparant kok
sejak reformasi semua transparant kok ! . Kaus Century transparan : di sini Presiden mempuat pernyataan bahwa ada harta negara yang diurus pejabat negara bukan sebagai harata negara ! yang membuat akuntan publik tidak dapat bekerja. pada kasus Antasari Azhar rakyat dengan gamblang melihat bagaiamna seorang penegak hukum difitnah sehingga mendekam sebagai terpidan. Ali hukum diam, anggota dpr diam ! satu saat rakyat tidak akan diam ! Kaena suatu saat kita semua akam mengalaminya !rekayasa
Powered by !JoomlaComment 4.0 beta2
PENCARIAN


