Terbongkarnya Konspirasi Otorita Palestina-Israel
Situs berita Filastin Al-Yawm mengutip sumber di Washington mengungkapkan, penentangan Pemerintah Otorita Palestina terhadap pembahasan laporan Richard Goldstone di Dewan HAM PBB disebabkan karena ancaman rezim zionis Israel yang memperingatkan bakal membongkar bukti keterlibatan dan kerjasama Otorita dengan Tel Aviv dalam Perang 22 Hari di Gaza.
Sumber tersebut juga membeberkan bahwa perundingan terakhir antara delegasi Palestina dan rezim zionis Israel yang digelar di Washington baru-baru ini merupakan upaya untuk menekan Otorita Palestina supaya menarik kembali tuntutan pembahasan laporan Ketua Tim Pencari Fakta PBB Richard Goldstone di Dewan HAM.
Sebagaimana diberitakan situs Filastin Al-Yawm, mulanya pemerintah Otorita Palestina menolak tuntutan Israel. Namun setelah ditayangkannya rekaman video yang mengungkap konspirasi Mahmoud Abbas dan rezim zionis, Otorita Palestina pun mengubah pandangannya. Rekaman itu menggambarkan upaya Mahmoud Abbas yang mendesak Menteri Perang Rezim Zionis, Ehud Barak untuk terus melanjutkan serangan militer ke Gaza. Padahal, saat itu Barak sempat ragu untuk melanjutkan perang meski mendapat restu Tzipi Livni, menteri luar negeri Israel saat itu.
Selain rekaman video, dalam pertemuan itu juga dibeberkan rekaman telepon antara Tayeb Abdul Rahim, sekretaris jenderal kepresidenan Palestina dengan Ketua Kantor Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Dov Weissglas. Dalam percakapan itu, Tayeb menyatakan, "Ini adalah saatnya untuk memasuki kamp-kamp pengungsi Jabaliya dan Syathi'. Jatuhnya kedua kamp pengungsi Palestina ini akan mengakibatkan berakhirnya kekuasaan Gerakan Perlawanan Islam "Hamas" di Jalur Gaza dan sekaligus membuat mereka mengibarkan bendera putih."
Dalam pertemuan di Washinton itu, rezim zionis mengancam bakal membeberkan bukti tersebut ke media massa jika Otorita Palestina pimpinan Mahmoud Abbas masih bersikukuh untuk membawa laporan Richard Goldstone ke Dewan HAM. Karena itu, Otorita Palestina lantas menarik tuntutannya dan memutuskan untuk menunda pembahasan laporan hasil investigasi Goldstone. Abbas sendiri dalam pernyataannya juga menyatakan secara tersirat bahwa keputusan tersebut diambil lantaran terpengaruh tekanan beberapa negara Arab yang menerapkan kompromi politik dengan rezim zionis Israel.
Menyikapi keputusan itu, Hamas menyebutnya sebagai pengkhianatan terhadap amanat darah rakyat Palestina dan hak-haknya. PM Palestina, Ismail Haniyeh sangat menyayangkan keputusan tersebut. Apalagi hal itu muncul dari pihak yang mengklaim dirinya mewakili rakyat Palestina. Dengan nada bertanya, Haniyeh menegaskan, "Bagaimana bisa itu terjadi sementara mereka bersorak-sorak dengan musuh Israel sedangkan rakyatnya dihabisi dan dibunuh?"











Indonesia bangkrut karena korupsi dan kolonialisme. Pergantian rezim harus dilakukan secepatnya untuk menyelamatkan negeri ini. Yang tidak kalah penti...
Kasus GKI Yasmin semakin membuktikan kebenaran laporan International Crisis Group. Menurut ICG, salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antaruma...
Artawijaya
Penulis buku "Gerakan Theosofi di Indonesia" dan "Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara" Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Penganut Theosofi di Minangkabau menolak penegakkan syariat yang dianggap ancaman terhadap adat istiadat Minangkabau. Padahal syariat yang ingin ditegakkan ketik...