Kontroversi Nobel Perdamaian Bagi Obama
Keputusan Obama untuk mengirim 30.000 tentara lagi ke Afghanistan dan telah meminta kepada sekutu-sekutu NATO untuk mengirimkan pasukan lebih banyak menuai banyak keritik, salah satunya terlontar dari Michel Rocard mantan Perdana Menteri Prancis.
Komite Nobel nampaknya juga telah mengambil risiko besar saat mengumumkan bahwa Barack Obama berhak mendapat Nobel Perdamaian 2009. Presiden Amerika Serikat (AS) ini memimpin kekuatan militer yang paling kuat di dunia, yang tengah berperang di Afganistan dan Irak.
Sejumlah pengamat di penjuru dunia mengritik Komite Nobel karena hanya memperhatikan lontaran-lontaran retorika dengan memunculkan Obama sebagai pemenang Nobel tahun ini.
Pidato Obama di Kairo (Mesir) awal tahun ini tidak menunjukkan adanya perubahan dalam iklim hubungan antara dunia Muslim dan Amerika. Dialog dengan Iran dan dengan dunia Muslim, misalnya, masih tergantung pada penyelesaian konflik Israel-Palestina. Konflik ini masih menghambat potensi dialog dan kemajuan yang hendak dibangun.
Kaum protagonis dalam konflik itu masih berseberangan. Faktanya, di Israel, kekuatan mayoritas di parlemen masih membiarkan perluasan pemukiman - yaitu pembangunan 200 rumah baru di Tepi Barat. Sikap ini menggambarkan masih berlanjutnya aksi para pihak yang mengganggu upaya pembebasan tanah Palestina.
Dalam melanjutkan perluasan pemukiman, Israel secara bertahap mempersempit ruang bagi terciptanya negara Palestina yang normal - yang membutuhkan wilayah yang utuh dan memiliki perbatasan yang jelas. Ada sesuatu yang kriminal di balik kebijakan pasukan Israel yang menghancurkan peluang ini dan ada sesuatu yang tragis melihat ketidakberdayaan komunitas Israel untuk mencegah penghancuran itu.
Elie Barnavi, mantan duta besar Israel untuk Prancis, baru-baru mempublikasikan sebuah buku berjudul "Hari Ini atau Mungkin Tidak Sama Sekali" (Aujourd'hui ou peut-être jamais) dengan sub-judul "Isu Perdamaian Amerika di Timur Tengah" (Pour une paix américaine au Proche Orient). Barnavi menyorot kemunduran situasi.
Berdasarkan pemaparan di atas, penganugerahan Nobel Perdamaian bagi Obama terasa terlalu cepat karena, pada kenyataannya, belum ada sesuatu yang terjadi..
Komite Nobel kali ini telah mengambil risiko besar dengan tidak memberi penghargaan kepada karya yang telah menunjukkan hasil. Perdamaian, walau sesulit apapun dicapai, harus diasah dengan harapan dan tentu saja hanya akan dicapai dengan tegaknya Islam. (mj)











Indonesia bangkrut karena korupsi dan kolonialisme. Pergantian rezim harus dilakukan secepatnya untuk menyelamatkan negeri ini. Yang tidak kalah penti...
Kasus GKI Yasmin semakin membuktikan kebenaran laporan International Crisis Group. Menurut ICG, salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antaruma...
Artawijaya
Penulis buku "Gerakan Theosofi di Indonesia" dan "Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara" Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Penganut Theosofi di Minangkabau menolak penegakkan syariat yang dianggap ancaman terhadap adat istiadat Minangkabau. Padahal syariat yang ingin ditegakkan ketik...