NTC Minta NATO Perpanjang Operasi di Libya
Tripoli (SI ONLINE) - Kepala Dewan Transisi Nasional, Mustafa Abdul Jalil, meminta NATO memperpanjang operasinya di Libia dengan tujuan membantu rakyat Libia mengawasi surplus senjata dan menghadapi pendukung Khadafi.
"Kami berharap (NATO) akan terus melakukan operasi sampai paling tidak akhir tahun ini untuk membantu kami dan negara-negara tetangga," ungkap Jalil di Qatar dalam pertemuan negara-negara yang mendukung upaya NTC, Selasa (25/10/2011).
Ia mengatakan seruan itu ditujukan untuk "menjamin tidak ada senjata yang masuk ke negara-negara itu dan menjamin keamanan rakyat Libia dari sisa-sisa pendukung Muamar Khadafi."
Jalil menambahkan NTC ingin bantuan untuk membantu pengembangan "sistem pertahanan dan keamanan Libia."
NATO, yang telah beroperasi di Libia sejak Maret lalu dibawah mandat PBB untuk melindungi warga sipil, mengatakan akan memutuskan waktu operasi di Libia pada hari Jumat (28/10).
"Seperti yang disepakati, NATO akan terus mengawasi situasi di lapangan dan mengawasi ancaman apapun terhadap warga sipil," kata juru bicara NATO Carmen Romero.
Kepala angkatan bersenjata Qatar Mayor Jendral Hamad bin Ali al-Atiya mengatakan kepada kantor berita AFP, negaranya telah mengerahkan pasukan di Libia.
"Pasukan Qatar yang berada di lapangan ratusan orang di setiap wilayah," kata al-Atiya.
Negara Teluk yang kaya gas ini juga sebelumnya membantu operasi udara NATO.
Di tengah perkembangan ini, NTC mendapatkan tekanan dari sejumlah organisasi hak asasi terkait meninggalnya Khadafi pekan lalu.
"Saya menyerukan kepada pasukan bersenjata untuk mencegah penindasan kepada rakyat Libia dan warga asing," kata Philippe Kirsch, kepala Komisi Penyelidikan PBB di Libia.
Khadafi diduga ditembak mati setelah ditangkap dalam keadaan hidup di kota kelahirannya, Sirte.
Namun para pejabat NTC mengatakan ia tertembak di tengah pertempuran namun kelompok-kelompok hak asasi mempertanyakan bagaimana Khadafi dan putranya, Mu'tassim, tewas.
Red: Jaka
Sumber: bbc
"Kami berharap (NATO) akan terus melakukan operasi sampai paling tidak akhir tahun ini untuk membantu kami dan negara-negara tetangga," ungkap Jalil di Qatar dalam pertemuan negara-negara yang mendukung upaya NTC, Selasa (25/10/2011).
Ia mengatakan seruan itu ditujukan untuk "menjamin tidak ada senjata yang masuk ke negara-negara itu dan menjamin keamanan rakyat Libia dari sisa-sisa pendukung Muamar Khadafi."
Jalil menambahkan NTC ingin bantuan untuk membantu pengembangan "sistem pertahanan dan keamanan Libia."
NATO, yang telah beroperasi di Libia sejak Maret lalu dibawah mandat PBB untuk melindungi warga sipil, mengatakan akan memutuskan waktu operasi di Libia pada hari Jumat (28/10).
"Seperti yang disepakati, NATO akan terus mengawasi situasi di lapangan dan mengawasi ancaman apapun terhadap warga sipil," kata juru bicara NATO Carmen Romero.
Kepala angkatan bersenjata Qatar Mayor Jendral Hamad bin Ali al-Atiya mengatakan kepada kantor berita AFP, negaranya telah mengerahkan pasukan di Libia.
"Pasukan Qatar yang berada di lapangan ratusan orang di setiap wilayah," kata al-Atiya.
Negara Teluk yang kaya gas ini juga sebelumnya membantu operasi udara NATO.
Di tengah perkembangan ini, NTC mendapatkan tekanan dari sejumlah organisasi hak asasi terkait meninggalnya Khadafi pekan lalu.
"Saya menyerukan kepada pasukan bersenjata untuk mencegah penindasan kepada rakyat Libia dan warga asing," kata Philippe Kirsch, kepala Komisi Penyelidikan PBB di Libia.
Khadafi diduga ditembak mati setelah ditangkap dalam keadaan hidup di kota kelahirannya, Sirte.
Namun para pejabat NTC mengatakan ia tertembak di tengah pertempuran namun kelompok-kelompok hak asasi mempertanyakan bagaimana Khadafi dan putranya, Mu'tassim, tewas.
Red: Jaka
Sumber: bbc











Indonesia bangkrut karena korupsi dan kolonialisme. Pergantian rezim harus dilakukan secepatnya untuk menyelamatkan negeri ini. Yang tidak kalah penti...
Kasus GKI Yasmin semakin membuktikan kebenaran laporan International Crisis Group. Menurut ICG, salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antaruma...
Artawijaya
Penulis buku "Gerakan Theosofi di Indonesia" dan "Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara" Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Penganut Theosofi di Minangkabau menolak penegakkan syariat yang dianggap ancaman terhadap adat istiadat Minangkabau. Padahal syariat yang ingin ditegakkan ketik...