An-Nahdah Menang Pemilu Tunisia
Tunisia menjadi negara 'Arab Spring' pertama yang menggelar pemilihan umum. Masyarakat Tunisia melaksanakan pemilu pada Minggu (23/10/2011) waktu setempat.
Masyarakat Tunisia terlihat begitu antusias mengikuti pemilu pertama di negara tersebut setelah mengalami era otoriter rezim Zine El Abidine Ben Ali yang dinilai korup dan sarat nepotisme. Pemilih terlihat menggerombol di gedung-gedung sekolah dan gedung-gedung lain yang digunakan sebagai lokasi tempat pemilihan suara.
Pemilu di Tunisia ini juga yang pertama dilakukan sejak merebaknya gejolak politik di Arab atau dikenal dengan sebutan 'Arab Spring'. Bukan hanya kaum pria, para perempuan juga terlihat antusias datang ke tempat pemungutan suara untuk menentukan pilihannya.
"Sebelumnya, kami bahkan tidak memiliki hak untuk mengatakan ya atau tidak," ujar Maha Haubi, salah satu pemilih perempuan yang ikut mengantri di antara ribuan pemilih lainnya di sebuah sekolah di Kota Menzah.
Lebih dari 60 partai politik dan ribuan kandidat independen berkompetisi untuk mengisi 218 kursi di Majelis Konstitusi yang akan bertugas membuat konstitusi dan menyusun kerangka sistem pemerintahan baru.
Kemenangan An-Nahdah
Partai Islam An-Nahdhah menyatakan kemenangannya dalam pemilu yang berlangsung hari Minggu kemarin. Ini merupakan kemenangannya yang kedua An-Nahdhah, yang pernah memenangkan pemilu tahun l989, dan mendapatkan suara mayoritas, dan kemudian partai itu, dibubarkan oleh Presiden Zine Al-Abidin ben Ali, dan para pemiminnya dipenjarakan.
Revolusi Februai yang menyebabkan jatuhnya Presiden Zine al-Abidin ben Ali, menyebabkan perubahan politik di negeri Mediteranian, dan sekarang memasuki babak baru dalam politik, di mana proses demokrasi di negeri itu, dan melangsungkan pemilihan.
Partai An-Nadhah yang pernah dilarang Ben Ali, menyatakan kemenangannya dan menapatkan 40 persen suara, dari menurut hasil awal penghitungan suara. Sementara itu, Partai Ettakatol yang berhaluan sekuler hanya mendapatkan suara 20 persen. Kemungkinan bila An-Nadhah tidak mencapai mayoritas mutlak di parlemen, partai yang berhaluan Islam itu akan melakukan koalisi.
Pemilu yang berlangsung pertama kali pasca Presiden Zen al-Abidin ini, diikuti 90 persen penduduk Tunisia, yang berdasarkan catatan sekitar 4,3 juta rakyat Tunisia memberikan suaranya.
Red: Agusdin Syah
Sumber: Pelita/eramuslim
Masyarakat Tunisia terlihat begitu antusias mengikuti pemilu pertama di negara tersebut setelah mengalami era otoriter rezim Zine El Abidine Ben Ali yang dinilai korup dan sarat nepotisme. Pemilih terlihat menggerombol di gedung-gedung sekolah dan gedung-gedung lain yang digunakan sebagai lokasi tempat pemilihan suara.
Pemilu di Tunisia ini juga yang pertama dilakukan sejak merebaknya gejolak politik di Arab atau dikenal dengan sebutan 'Arab Spring'. Bukan hanya kaum pria, para perempuan juga terlihat antusias datang ke tempat pemungutan suara untuk menentukan pilihannya.
"Sebelumnya, kami bahkan tidak memiliki hak untuk mengatakan ya atau tidak," ujar Maha Haubi, salah satu pemilih perempuan yang ikut mengantri di antara ribuan pemilih lainnya di sebuah sekolah di Kota Menzah.
Lebih dari 60 partai politik dan ribuan kandidat independen berkompetisi untuk mengisi 218 kursi di Majelis Konstitusi yang akan bertugas membuat konstitusi dan menyusun kerangka sistem pemerintahan baru.
Kemenangan An-Nahdah
Partai Islam An-Nahdhah menyatakan kemenangannya dalam pemilu yang berlangsung hari Minggu kemarin. Ini merupakan kemenangannya yang kedua An-Nahdhah, yang pernah memenangkan pemilu tahun l989, dan mendapatkan suara mayoritas, dan kemudian partai itu, dibubarkan oleh Presiden Zine Al-Abidin ben Ali, dan para pemiminnya dipenjarakan.
Revolusi Februai yang menyebabkan jatuhnya Presiden Zine al-Abidin ben Ali, menyebabkan perubahan politik di negeri Mediteranian, dan sekarang memasuki babak baru dalam politik, di mana proses demokrasi di negeri itu, dan melangsungkan pemilihan.
Partai An-Nadhah yang pernah dilarang Ben Ali, menyatakan kemenangannya dan menapatkan 40 persen suara, dari menurut hasil awal penghitungan suara. Sementara itu, Partai Ettakatol yang berhaluan sekuler hanya mendapatkan suara 20 persen. Kemungkinan bila An-Nadhah tidak mencapai mayoritas mutlak di parlemen, partai yang berhaluan Islam itu akan melakukan koalisi.
Pemilu yang berlangsung pertama kali pasca Presiden Zen al-Abidin ini, diikuti 90 persen penduduk Tunisia, yang berdasarkan catatan sekitar 4,3 juta rakyat Tunisia memberikan suaranya.
Red: Agusdin Syah
Sumber: Pelita/eramuslim











Indonesia bangkrut karena korupsi dan kolonialisme. Pergantian rezim harus dilakukan secepatnya untuk menyelamatkan negeri ini. Yang tidak kalah penti...
Kasus GKI Yasmin semakin membuktikan kebenaran laporan International Crisis Group. Menurut ICG, salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antaruma...
Artawijaya
Penulis buku "Gerakan Theosofi di Indonesia" dan "Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara" Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Penganut Theosofi di Minangkabau menolak penegakkan syariat yang dianggap ancaman terhadap adat istiadat Minangkabau. Padahal syariat yang ingin ditegakkan ketik...