Ahmadinejad: Kehadiran NATO di Libya Perburuk Konflik
Tehran (SI ONLINE) - Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menuding NATO memiliki ambisi akan sumber daya minyak Libya, sehingga lebih memilih melakukan perang daripada memediasi pihak-pihak yang berkonfrontasi.
Ahmadinejad mengaku telah menawarkan penyelesaian damai berupa dialog antar kedua belah pihak, tetapi, rekomendasinya itu tidak diperhatikan, bahkan kondisi di Libya justru makin parah dengan kehadiran NATO.
"Pada awalnya kami merekomendasikan suatu dialog antara kedua belah pihak dan semua pihak, tetapi mereka (NATO) tidak memperhatikan rekomendasi kami. Dan tentu saja intervensi NATO efektif makin memperburuk konflik."
Hal ini, menurut Ahmadinejad, karena NATO memiliki ambisi di Libya, yakni sumber daya minyak Libya.
"Awalnya kami menyatakan harus ada tim internasional untuk menengahi konflik di Libya agar mendorong semua pihak mencapai satu pemahaman. Tapi NATO memiliki ambisi di Libya, mereka ingin sumber minyak di Libya."
Ia menilai kehendak rakyat Libya menuntut adanya perubahan adalah hak asasi yang wajib dihormati oleh siapapun. Namun, ia menyayangkan jika untuk mencapainya harus mengorbankan banyak nyawa.
"Kehendak rakyat dimanapun harus dihormati. Keadilan dan kebebasan adalah hak asasi semua bangsa. Tapi tentunya, semua itu bisa dicapai tanpa harus ada konflik dan bentrokan. Saya sangat menyesalkan banyak orang yang harus terbunuh," ujarnya.
Ahmadinejad menambahkan, "Kami mengimbau bahwa pemerintah harus bertanggung jawab atas keinginan dari rakyatnya, menjamin keamanan dan hak-hak rakyatnya adalah hal yang umum bagi Iran, Libya, Suriah, Eropa, Amerika Serikat, Afrika, dan dimana pun. Itu sudah aturan yang umum."
"Kami percaya bahwa untuk membentuk sebuah pemerintahan bagi sebuah negara tak perlu adanya intervensi dari pihak luar. Posisi Amerika tidak akan membantu. Mereka pun seharusnya bisa melakukan hal-hal yang lebih baik bagi Libya," ungkapnya.
Red: Jaka
Sumber: cnn
Ahmadinejad mengaku telah menawarkan penyelesaian damai berupa dialog antar kedua belah pihak, tetapi, rekomendasinya itu tidak diperhatikan, bahkan kondisi di Libya justru makin parah dengan kehadiran NATO.
"Pada awalnya kami merekomendasikan suatu dialog antara kedua belah pihak dan semua pihak, tetapi mereka (NATO) tidak memperhatikan rekomendasi kami. Dan tentu saja intervensi NATO efektif makin memperburuk konflik."
Hal ini, menurut Ahmadinejad, karena NATO memiliki ambisi di Libya, yakni sumber daya minyak Libya.
"Awalnya kami menyatakan harus ada tim internasional untuk menengahi konflik di Libya agar mendorong semua pihak mencapai satu pemahaman. Tapi NATO memiliki ambisi di Libya, mereka ingin sumber minyak di Libya."
Ia menilai kehendak rakyat Libya menuntut adanya perubahan adalah hak asasi yang wajib dihormati oleh siapapun. Namun, ia menyayangkan jika untuk mencapainya harus mengorbankan banyak nyawa.
"Kehendak rakyat dimanapun harus dihormati. Keadilan dan kebebasan adalah hak asasi semua bangsa. Tapi tentunya, semua itu bisa dicapai tanpa harus ada konflik dan bentrokan. Saya sangat menyesalkan banyak orang yang harus terbunuh," ujarnya.
Ahmadinejad menambahkan, "Kami mengimbau bahwa pemerintah harus bertanggung jawab atas keinginan dari rakyatnya, menjamin keamanan dan hak-hak rakyatnya adalah hal yang umum bagi Iran, Libya, Suriah, Eropa, Amerika Serikat, Afrika, dan dimana pun. Itu sudah aturan yang umum."
"Kami percaya bahwa untuk membentuk sebuah pemerintahan bagi sebuah negara tak perlu adanya intervensi dari pihak luar. Posisi Amerika tidak akan membantu. Mereka pun seharusnya bisa melakukan hal-hal yang lebih baik bagi Libya," ungkapnya.
Red: Jaka
Sumber: cnn











Indonesia bangkrut karena korupsi dan kolonialisme. Pergantian rezim harus dilakukan secepatnya untuk menyelamatkan negeri ini. Yang tidak kalah penti...
Kasus GKI Yasmin semakin membuktikan kebenaran laporan International Crisis Group. Menurut ICG, salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antaruma...
Artawijaya
Penulis buku "Gerakan Theosofi di Indonesia" dan "Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara" Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Penganut Theosofi di Minangkabau menolak penegakkan syariat yang dianggap ancaman terhadap adat istiadat Minangkabau. Padahal syariat yang ingin ditegakkan ketik...