Jelang Pertukaran Tawanan, Status Gaza Darurat
Pemerintah HAMAS, yang menguasai Jalur Gaza pada Senin (17/10) malam, mengumumkan status darurat, beberapa jam sebelum pertukaran tahanan dilaksanakan sesuai dengan kesepakatan yang dicapai dengan Israel pekan lalu.
Menurut pihak Israel dan HAMAS, prajurit Israel Gilad Shalit -- yang telah ditahan sejak Juni 2006, dijadwalkan dibebaskan pada Selasa pagi bersamaan dengan pembebasan 1.027 tahanan Palestina dan Arab.
Kementerian Dalam Negeri HAMAS mengumumkan pemberlakuan status darurat di seluruh wilayah Jalur Gaza mulai Senin malam hingga prosesi penyambutan para tahanan yang dibebaskan digelar pada Selasa siang. Dalam siaran pers yang dikirimkan kepada wartawan, pihak kementerian mengatakan bahwa mereka telah selesai melakukan pengaturan keamanan dan persiapan guna menerima para tahanan yang dibebaskan serta memastikan mereka tiba dalam keadaan selamat.
Pernyataan itu juga mengajak para anggota keluarga tahanan dan seluruh rakyat Palestina untuk merayakan dan bergembira tanpa melakukan pelanggaran hukum. "Tembakan ke udara sangat dilarang," demikian menurut siaran pers itu.
Kementerian tersebut juga telah memilih rute bus yang akan membawa para tahanan dari Rafah menuju ke Kota Gaza, tempat upacara penyambutan besar bagi mereka akan dilangsungkan.
Gerakan Perlawanan Islam Hamas menyatakan, pembebasan Gilad Shalit menunggu para mantan tahanan Palestina mencapai Tepi Barat dan Mesir.
Begitu ex-tahanan terakhir bebas, maka Hamas akan segera membebaskan Shalit. Demikian disampaikan pemimpin Hamas di Gaza, Dr. Mahmoud Al-Zahar hari ini.
Kesepakatan pertukaran pembebasan tahanan antara Gilad Shalit yang telah ditahan Hamas selama lima tahun, dengan 1027 tahanan Palestina ini akan direalisasikan dalam dua tahap.
Untuk pembebasan tahap pertama, terang Al-Zahar, para mantan tahanan akan dikumpulkan di dua lokasi yang berdekatan dengan Tepi Barat dan Mesir. Setelahnya, mereka akan diserahkan kepada otoritas Palang Merah.
Adapun untuk tahap kedua dimana ada sekitar 550 tahanan yang akan dibebaskan, Hamas tidak akan ikut menentukan nama-nama tahanan yang akan dilepas. Sesuai kesepakatan, pembebasan tahap ke dua akan direalisasikan dua bulan setelah tahap pertama selesai.
Walaupun tidak ikut menentukan nama-nama tahanan yang akan dilepas, Hamas meminta agar tahanan-tahanan yang telah ditahan dalam waktu lama lebih diprioritaskan. Begitu pun dengan tahanan-tahanan yang sudah lanjut usia, sakit, dan yang akan segera habis masa tahanannya.
Al-Zahar juga memastikan keselamatan para tahanan selama masa-masa pembebasan. Pembebasan tahanan ini membuat Zionis ‘Israel’ cemas karena beberapa tahanan yang akan dibebaskan merupakan pemimpin dan tokoh-tokoh terkemuka.
Dari 50 nama tokoh-tokoh yang diajukan Hamas, Al-Zahar menjelaskan, ‘Israel’ hanya menyepakati 40 orang. “Beberapa nama yang ditolak adalah Abdullah Barghouthi, Marwan Abbas, Hasan, dan Ahmad Saadat Salameh,”.
Al-Zahar lebih lanjut mengatakan bahwa Mesir telah banyak berperan dalam pencapaian kesepakatan pertukaran tahanan ini. “Mesir adalah mitra dan sponsor utama dalam semua tahapan negosiasi ini,” kata Al-Zahar.
Kesepakatan yang sempat berlangsung alot ini, lanjutnya, sempat membuat Mesir menarik diri dari keterlibatan sebagai mediator lantaran melihat kurangnya keseriusan ‘Israel’ dalam negosiasi. “Tetapi akhirnya sekarang kesepakatan tercapai dan ini berkat peranan yang kuat dari Mesir.”
Menurut pihak Israel dan HAMAS, prajurit Israel Gilad Shalit -- yang telah ditahan sejak Juni 2006, dijadwalkan dibebaskan pada Selasa pagi bersamaan dengan pembebasan 1.027 tahanan Palestina dan Arab.
Kementerian Dalam Negeri HAMAS mengumumkan pemberlakuan status darurat di seluruh wilayah Jalur Gaza mulai Senin malam hingga prosesi penyambutan para tahanan yang dibebaskan digelar pada Selasa siang. Dalam siaran pers yang dikirimkan kepada wartawan, pihak kementerian mengatakan bahwa mereka telah selesai melakukan pengaturan keamanan dan persiapan guna menerima para tahanan yang dibebaskan serta memastikan mereka tiba dalam keadaan selamat.
Pernyataan itu juga mengajak para anggota keluarga tahanan dan seluruh rakyat Palestina untuk merayakan dan bergembira tanpa melakukan pelanggaran hukum. "Tembakan ke udara sangat dilarang," demikian menurut siaran pers itu.
Kementerian tersebut juga telah memilih rute bus yang akan membawa para tahanan dari Rafah menuju ke Kota Gaza, tempat upacara penyambutan besar bagi mereka akan dilangsungkan.
Gerakan Perlawanan Islam Hamas menyatakan, pembebasan Gilad Shalit menunggu para mantan tahanan Palestina mencapai Tepi Barat dan Mesir.
Begitu ex-tahanan terakhir bebas, maka Hamas akan segera membebaskan Shalit. Demikian disampaikan pemimpin Hamas di Gaza, Dr. Mahmoud Al-Zahar hari ini.
Kesepakatan pertukaran pembebasan tahanan antara Gilad Shalit yang telah ditahan Hamas selama lima tahun, dengan 1027 tahanan Palestina ini akan direalisasikan dalam dua tahap.
Untuk pembebasan tahap pertama, terang Al-Zahar, para mantan tahanan akan dikumpulkan di dua lokasi yang berdekatan dengan Tepi Barat dan Mesir. Setelahnya, mereka akan diserahkan kepada otoritas Palang Merah.
Adapun untuk tahap kedua dimana ada sekitar 550 tahanan yang akan dibebaskan, Hamas tidak akan ikut menentukan nama-nama tahanan yang akan dilepas. Sesuai kesepakatan, pembebasan tahap ke dua akan direalisasikan dua bulan setelah tahap pertama selesai.
Walaupun tidak ikut menentukan nama-nama tahanan yang akan dilepas, Hamas meminta agar tahanan-tahanan yang telah ditahan dalam waktu lama lebih diprioritaskan. Begitu pun dengan tahanan-tahanan yang sudah lanjut usia, sakit, dan yang akan segera habis masa tahanannya.
Al-Zahar juga memastikan keselamatan para tahanan selama masa-masa pembebasan. Pembebasan tahanan ini membuat Zionis ‘Israel’ cemas karena beberapa tahanan yang akan dibebaskan merupakan pemimpin dan tokoh-tokoh terkemuka.
Dari 50 nama tokoh-tokoh yang diajukan Hamas, Al-Zahar menjelaskan, ‘Israel’ hanya menyepakati 40 orang. “Beberapa nama yang ditolak adalah Abdullah Barghouthi, Marwan Abbas, Hasan, dan Ahmad Saadat Salameh,”.
Al-Zahar lebih lanjut mengatakan bahwa Mesir telah banyak berperan dalam pencapaian kesepakatan pertukaran tahanan ini. “Mesir adalah mitra dan sponsor utama dalam semua tahapan negosiasi ini,” kata Al-Zahar.
Kesepakatan yang sempat berlangsung alot ini, lanjutnya, sempat membuat Mesir menarik diri dari keterlibatan sebagai mediator lantaran melihat kurangnya keseriusan ‘Israel’ dalam negosiasi. “Tetapi akhirnya sekarang kesepakatan tercapai dan ini berkat peranan yang kuat dari Mesir.”
Red: Agusdin Syah
Sumber: Antara/Sahabat Al-Aqsha











Indonesia bangkrut karena korupsi dan kolonialisme. Pergantian rezim harus dilakukan secepatnya untuk menyelamatkan negeri ini. Yang tidak kalah penti...
Kasus GKI Yasmin semakin membuktikan kebenaran laporan International Crisis Group. Menurut ICG, salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antaruma...
Artawijaya
Penulis buku "Gerakan Theosofi di Indonesia" dan "Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara" Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Penganut Theosofi di Minangkabau menolak penegakkan syariat yang dianggap ancaman terhadap adat istiadat Minangkabau. Padahal syariat yang ingin ditegakkan ketik...