Hubungan Pakistan AS Semakin Tegang
Washington (SI ONLINE) - Pasca pembunuhan pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden oleh pasukan komando AL AS yang semena-mena memasuki wilayah teritorial Pakistan, membuat hubungan kedua negara nuklir itu semakin tegang.
Sebagaimana dikatakan juru bicara Pentagon, Kolonel Dave Lapan, Kamis (26/5), Pemerintah Pakistan meminta AS agar mengurangi jumlah militer yang bermarkas di wilayahnya. Hal itu terjadi di tengah gencarnya serangan gerilyawan Taliban sejak terbunuhnya Osama bin Laden. Usulan Pakistan menunjukkan semakin tegangnya hubungan mereka dengan AS.
Pemerintah Pakistan menegaskan, bahwa militer AS tidak diperlukan lagi dalam beberapa latihan yang ditugaskan untuk membantu tentara Pakistan.
Permintaan itu akan mengurangi jumlah keseluruhan misi militer AS di Pakistan menjadi hanya beberapa orang personil militer saja.
"Kami baru-baru ini (dalam waktu dua pekan terakhir) diberitahu secara tertulis bahwa pemerintah Pakistan berharap AS mengurangi jejaknya di Pakistan. Dengan demikian, kami mulai melakukan pengurangan," kata juru bicara Kolonel Dave Lapan dalam surat elektronik kepada wartawan.
Taliban mengawali Perang Bader (awal musim semi) sejak permulaan Mei. Sasaran utama kelimpok militan ini adalah markas militer tentara Pakistan dan tentara asing.
Sejumlah serangan dilancarkan terhadap markas paramiliter medio Mei lalu, menyebabkan 80 orang calon tentara Pakistan tewas. Lapan mengatakan tidak ada perubahan nyata sebagai dampak pengurangan misi latihan militer AS di Pakistan.
Awal bulan ini satu tim komando AS Navy SEALs berhasil melancarkan misi pembunuhan pemimpin Al-Qaida Osama bin Laden. Jumlah pelatihan saat ini di Pakistan tidak diumumkan secara rinci tetapi Lapan mengatakan jumlah seluruh misi militer AS berkisar antara 200 hingga 300 orang.
Pengurangan itu diminta beberapa minggu setelah penyergapan yang menewaskan Bin Laden di rumahnya dekat Islamabad, yang membuat AS semakin ragu mengenai kemungkinan peran Pakistan dalam melindungi gerilyawan serta memperkeruh hubungan kedua negara. Di lain pihak, warga Pakistan menganggap penyergapan itu sebagai pelanggaran jelas kedaulatan negara.
Dalam 10 tahun terakhir, Kongres AS telah menyetujui sekitar 20 miliar dolar AS (Rp 172,4 triliun) kepada Pakistan sebagai bantuan ekonomi dan membiayai tentara pemerintah melawan gerilyawan Taliban dan Al Qaeda disepanjang perbatasan Pakistan-Afghanistan.
Rep: Abdul Halim
Sumber: AFP











Indonesia bangkrut karena korupsi dan kolonialisme. Pergantian rezim harus dilakukan secepatnya untuk menyelamatkan negeri ini. Yang tidak kalah penti...
Kasus GKI Yasmin semakin membuktikan kebenaran laporan International Crisis Group. Menurut ICG, salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antaruma...
Artawijaya
Penulis buku "Gerakan Theosofi di Indonesia" dan "Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara" Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Penganut Theosofi di Minangkabau menolak penegakkan syariat yang dianggap ancaman terhadap adat istiadat Minangkabau. Padahal syariat yang ingin ditegakkan ketik...