Intel Zionis Kaget Dengar Rekonsiliasi Fatah-Hamas
Kairo (SI ONLINE) - “Intel Israel tidak bermutu,” demikian komentar seorang tokoh Hamas, Mahmoud Zahar, tentang kepanikan pemerintahan Zionis sesudah mengetahui rekonsiliasi Hamas – Fatah di Kairo hari Rabu 27 April lalu. Diberitakan, Tel Aviv begitu terkejut dengan kesepakatan saling memahami antara faksi Hamas dan Palestina dan mulai mengeluarkan berbagai ancaman termasuk bahwa penjajah Zionis tidak akan mau bernegosiasi dengan pemerintahan Palestina yang di dalamnya ada Hamas.
“Intelijen Anda tidak berguna,” kata Zahar kepada Channel 10 sebagaimana dikutip The Jerusalem Post. “Kami sudah berada di Kairo sejak bulan lalu, kemudian saya kembali ke Gaza kemudian ke Damaskus dan dari sana kami (menuju) Kairo (lagi).”
Diberitakan, bahkan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas – yang mendapat fasilitas dan dana dari pihak Zionis – pun baru mendengar kabar tentang “rekonsiliasi” itu sesudah selesai ditandatangani.
“Di Kairo, kami bertemu dengan menteri luar negeri Mesir (Nabil Al-Arabi) dan para tokoh intelijennya dan bahkan dengan tokoh-tokoh dewan militer Mesir,” demikian Zahar sebagaimana dikutip Ma’an. “Kami membahas semua hal ini dan bagaimana cara melaksanakan (kesepakatan rekonsiliasi) itu sebaik-baiknya.”
Netanyahu Bujuk Amerika ‘Gebuki’ Palestina
Sementara di Israel, PM Zionis Benjamin Netanyahu menegaskan kepada delegasi kongres Amerika yang sedang berkunjung ke Tel Aviv, untuk ikut bersamanya melancarkan serangkaian aksi anti-rekonsiliasi Palestina.
Ma’an melaporkan dengan mengutip berbagai sumber Zionis, pertemuan dirancang untuk menyiapkan kampanye diplomatik demi melunturkan pengakuan internasional bagi rekonsiliasi Hamas – Fatah.
Netanyahu menyatakan kepada ke tujuh anggota Kongres AS yang datang, “Israel tidak akan mengakui pemerintahan di mana pun di dunia yang di dalamnya ada orang-orang Al-Qaida.”
Netanyahu menyerukan kepada Washington untuk menghentikan bantuan dana apa pun terhadap pemerintahan Palestina yang tidak mengakui ‘Israel’ dan tidak menghentikan tindakan terorisme.
Pernyataan Netanyahu ini mengutip kalimat Menlu AS Hilary Clinton pada April 2009, bahwa tidak akan ada negosiasi damai atau bantuan ekonomi apa pun bila pihak Palestina menolak mengakui ‘Israel’ atau menerima kelompok ‘teroris’ Hamas.
Namun sebagaimana dilaporkan Sahabatalaqsha.com sebelum ini, Washington tidak pernah berhenti membanjiri ‘Israel’ dengan uang dan bantuan persenjataan. Minggu lalu, Kongres AS setuju memberikan bantuan dana militer kepada Tel Aviv sebesar USD 3 miliar – untuk tahun 2011 ini saja.
Netanyahu dan menteri perangnya Ehud Barak bersumpah Kamis 28 April kemarin, tidak akan pernah mengakui pemerintahan Palestina yang di dalamnya ada Hamas.
Rep: M Syah Agusdin
Sumber: Sahabat Al-Aqsha
Comments (2)
-
|2011-05-01 10:25:48 Muslim - Saatnya mrik setan dan yahudi hancur!
Yg bilang mossad dan cia itu hebat siapa? mrk hanya hebat dalam kekejaman dan pembunuhan org2 yg tdk disukai saja! Bukankah cia itu singkatan dari central idiot of america?!
Sukur Alhamdulillah! Semoga Fatah kembali ke jalan Allah dan mrk menyingkirkan pengkhianat2 bangsa Palestina spt mahmud abbas dan pejabat2nya yg korup! Semoga konsiliasi ini membawa jalan ke kehancuran israel dan amrik setan! Amin! Masalahnya amrik setan sudah kedodoran finansialnya. Dan israel sdh tdk dapat gas murah lagi dari mesir serta produknya semoga ditolak di mesir juga. Shg ekonominya juga segera ambruk!
-
|2011-05-02 15:04:30 Buldani Fajri - Kepura-puraan
Terkait berita di atas, wajar jika saya berasumsi ketika kita saat ini disuguhi multi informasi seputar Icon dunia Islam Osama bin Laden yang wafat pukul 1.30 (02/05/2011) pagi tadi waktu Pakistan, karena saya melihat dengan waktu yang hanya seminggu sebelumnya, di Kairo Mesir (27/04/2011) telah terjadi pentas sejarah politik baru dengan lahirnya rekonsiliasi Hammas – Fatah, yang serta merta ini semua menjadikan para komprador Zionis Israel keteteran sehingga mendelegasikan pesannya kepada AS dan sekutunya untuk menghipnotis sekaligus meliputi dunia dengan berita dimaksud, karena mereka memandang rekonsiliasi tersebut bisa jadi amunisi kebangkitan sebuah peradaban baru abad ini. Hemat saya, kenapa harus sepuluh tahun memburu Osama, apakah Dia dipelihara untuk agenda agresi kepada pihak yang dianggap mengancam otoritasnya, ataukah para intelijennya kini terbatuk-batuk untuk tugas yang diklaimnya sebagai corong “kemanusiaan”.
Powered by !JoomlaComment 4.0 beta2











Indonesia bangkrut karena korupsi dan kolonialisme. Pergantian rezim harus dilakukan secepatnya untuk menyelamatkan negeri ini. Yang tidak kalah penti...
Kasus GKI Yasmin semakin membuktikan kebenaran laporan International Crisis Group. Menurut ICG, salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antaruma...
Artawijaya
Penulis buku "Gerakan Theosofi di Indonesia" dan "Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara" Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Penganut Theosofi di Minangkabau menolak penegakkan syariat yang dianggap ancaman terhadap adat istiadat Minangkabau. Padahal syariat yang ingin ditegakkan ketik...