Pembahasan Anggaran Buntu, Amerika ‘Gulung Tikar’
Washington (SI ONLINE) - Ketua DPR AS John Boehner mengatakan para anggota DPR akan bertindak paling cepat, Jumat (8/4/2011), untuk memastikan bahwa pemerintah tetap beroperasi. John Boehner mengatakan ia merasa berbesar hati mengenai tercapainya kompromi, sementara para wakil rakyat berusaha memecah kebuntuan mengenai anggaran pemerintah federal tahun 2011.
Meskipun telah terjadi negosiasi intensif, para pemimpin Kongres tetap menemui jalan buntu dalam mengatasi beda pendapat soal anggaran hari Kamis (7/4) , sehari sebelum dana pemerintah saat ini habis.
DPR Amerika hari Kamis mengesahkan proposal fraksi Republik untuk perpanjangan anggaran belanja sementara selama satu minggu agar pemerintah tetap beroperasi melewati hari Jumat. Namun, Pemimpin Mayoritas Senat Harry Reid dari Partai Demokrat mengatakan dia menentang RUU itu dan menjulukinya “non-pemula.” Gedung Putih mengatakan Presiden Barack Obama akan memveto RUU itu jika berhasil sampai di mejanya.
Hari Kamis, Obama bertemu di Gedung Putih dengan Harry Reid dan Ketua DPR John Boehner dari Partai Republik – pertemuan serupa ketiga dalam tiga hari ini. Setelah pertemuan itu, kedua tokoh mengutarakan kekecewaan bahwa belum dicapai kesepakatan.
Boehner mengatakan dalam konferensi pers, Kamis pagi, bahwa para anggota DPR akan bertindak paling cepat hari Jumat untuk memastikan bahwa kantor-kantor pemerintah tetap beroperasi. Ia telah mendesakkan rencana pengeluaran jangka pendek yang baru untuk melanjutkan pendanaan pemerintah federal seminggu lagi.
Kegagalan mencapai kesepakatan pada hari Jumat akan menyebabkan penutupan operasi kantor-kantor pemerintah, yang membuat sekitar 800.000 pegawai pemerintah federal dirumahkan tanpa digaji.
Gaji bagi personel militer juga akan dihentikan sementara, museum-museum dan taman-taman nasional akan tutup, dan Washington, DC, akan membatalkan pawai tahunan festival bunga sakura pada hari Sabtu, serta sebagian besar kegiatan kota yang biasanya didanai Kongres.
Patung Liberty kemungkinan tidak bisa lagi dikunjungi ramai-ramai, senasib dengan Grand Canyon dan berbagai taman nasional Amerika Serikat lainnya jika masalah anggaran belum terpecahkan.
Penutupan itu akan mempengaruhi situs-situs yang dioperasikan oleh National Park Service termasuk obyek wisata populer di Barat seperti Yellowstone dan Alcatraz. "Kami harap tidak ada penutupan oleh pemerintah. Bila ada, kami akan menutup semua 394 situs taman nasional kami," kata juru bicara National Parf Service, David Barna, seperti dikutip AFP.
Instansi itu tidak hanya mengoperasikan taman, tetapi situs-situs bersejarah, termasuk Patung Liberty di pelabuhan New York dan bekas penjara Alcatraz di Teluk San Francisco. Obyek-obyek wisata itu dikunjungi rata-rata 800.000 pengunjung setiap hari tahun ini.
Jila ditutup, petugas keamanan di tempat itu akan mengusir orang-orang, dan di taman-taman di mana orang tinggal di perkemahan atau hotel, "kami akan meminta mereka pergi," kata Barna.
Dalam satu kasus penutupan situs, National park Service hanya akan mempertahankan kira-kira 2.000 dari 17.000 pegawai untuk melindungi situs-situs itu. Sebanyak 15.000 pegawai subkontrak seperti hotel juga berisiko menghentikan pegawainya bisa tidak ada anggaran yang disetujui.
Barna mengatakan kerugian ekonomi dari penutupan situs itu akan berjumlah 32 juta dollar per hari.
Mengingat Gedung Putih dan Kongres menghentikan anggaran, rencana cadangan telah dibuat untuk menutup dinas-dinas pemerintah yang tidak penting. Hal ini bisa mempengaruhi nasib 800.000 pegawai pemerintah dan situs-situs seperti museum-museum dibawah Smithsonian Institution, termasuk Kebun Binatang Nasional.
Rep: M Syah Agusdin
Sumber: VOA/ANTARA











Indonesia bangkrut karena korupsi dan kolonialisme. Pergantian rezim harus dilakukan secepatnya untuk menyelamatkan negeri ini. Yang tidak kalah penti...
Kasus GKI Yasmin semakin membuktikan kebenaran laporan International Crisis Group. Menurut ICG, salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antaruma...
Artawijaya
Penulis buku "Gerakan Theosofi di Indonesia" dan "Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara" Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Penganut Theosofi di Minangkabau menolak penegakkan syariat yang dianggap ancaman terhadap adat istiadat Minangkabau. Padahal syariat yang ingin ditegakkan ketik...