Israel Serang Lebanon Saat Pemerintahan Ambruk
Tentara Zionis Israel benar-benar memanfaatkan momentum. Saat pemerintahan Lebanon sedang kacau akibat 11 menterinya mengundurkan diri dalam waktu yang sama, tentara Israel menyerang di wilayah bagian selatan Lebanon. Demikian disampaikan militer Lebanon Rabu (12/1) kemarin.
Sebuah statemen dirilis militer Lebanon kemarin menyatakan bahwa tentara rezim Zionis menyusup ke desa Rmeish di selatan Lebanon. Tidak hanya itu, mereka juga menculik seorang penggembala.
Dalam statemen itu disebutkan, "Dalam sebuah serangan ‘siang bolong' ke Lebanon selatan, pasukan Israel melintasi pagar di dekat desa Rmeish dan menculik seorang warga Lebanon yang kemudian dilarikan ke wilayah Palestina pendudukan".
Militer Lebanon segera menghubungi Pasukan Penjaga Perdamaian PBB untuk Lebanon (UNIFIL) yang bertugas memantau perbatasan Lebanon-Israel guna membebaskan warga Lebanon yang diidentifikasi bernama Sharbel Khoury. Demikian dilaporkan AFP. Hingga kini militer rezim Zionis belum berkomentar tentang hal ini.
Pemerintahan Lebanon Ambruk
Serangan itu terjadi di saat dalam beberapa waktu terakhir, Lebanon tengah menghadapi krisis politik dalam negeri menyusul kasus pengadilan Rafiq Hariri.
Pemerintah Lebanon, Rabu (12/1), ambruk, setelah 11 menteri dari 30 menteri kabinet mengumumkan pengunduran diri mereka, saat dua blok yang bertikai menghadapi kebuntuan mengenai penyelidikan pembunuhan mantan perdana menteri Rafik Al-Hariri pada 2005.
Sebanyak 10 menteri dari oposisi Aliansi 8 Maret mengumumkan pengunduran diri mereka, setelah pertemuan mereka pada Rabu sore, yang diikuti oleh menteri ke-11. Menteri negara dari kelompok Syiah Adnan As-Sayed Hussein mengundurkan diri tak lama setelah pertemuan tersebut.
Menurut Undang-Undang Dasar Lebanon, pemerintah ambruk setelah lebih dari sepertiga menteri kabinet mengundurkan diri.
Para politikus Lebanon, Selasa, mengatakan Arab Saudi dan Suriah gagal mencapai kesepakatan guna meredam ketegangan mengenai pengadilan dukungan PBB, yang mulanya dirancang untuk mengeluarkan rancangan tuntutan dalam waktu dekat sehubungan dengan pembunuhan Rafik Al-Hariri pada 2005.
Para menteri itu mengundurkan diri sewaktu Saad Al-Hariri mengadakan pertemuan dengan Presiden AS Barack Obama, dan Gedung Putih belakangan mengeluarkan pernyataan yang mengecam tindakan Hizbullah dan memperingatkan mengenai "setiap ancaman atau tindakan" yang dapat merusak kestabilan Lebanon.
Kantor Saad mengatakan ia meninggalkan Washington setelah pembicaraan itu, dan bertolak ke Paris untuk bertemu dengan Presiden Nicolas Sarkozy pada Kamis.
Radio Fraance Info melaporkan Saad mendarat Rabu (12/1) larut malam di Paris. Kantor Sarkozy menyatakan pertemuan di antara kedua pemimpin tersebut dijadwalkan diadakan sekitar pukul 19:15 waktu setempat Kamis (Jumat, 01:15 WIB).
Sarkozy, katanya, membahas situasi di Lebanon dengan Presiden Suriah Bashar Al-Assad dan mengirim pesan dukungan kepada Presiden Lebanon Michel Suleiman.
Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Saud Al-Faisal mendesak Hizbullah, yang didukung oleh Iran dan Suriah, agar bergabung lagi dengan pemerintah.
Lebanon telah menghadapi serangkaian krisis sejak pembunuhan Rafik Al-Hariri, termasuk pembunuhan dan pertemuan antargolongan di jalanan di Beirut pada 2008. Banyak pengulas, Rabu, mengatakan pengunduran diri para menteri Hizbullah akan menghidupkan lagi kekhawatiran mengenai ketidakstabilan.
Sementara itu Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon menyerukan dilanjutkannya dialog di antara semua pihak dan menyampaikan kembali dukungannya bagi upaya pengadilan tersebut, kata seorang jurubicara PBB di dalam satu pernyataan. (antara/republika/shodiq ramadhan)











Indonesia bangkrut karena korupsi dan kolonialisme. Pergantian rezim harus dilakukan secepatnya untuk menyelamatkan negeri ini. Yang tidak kalah penti...
Kasus GKI Yasmin semakin membuktikan kebenaran laporan International Crisis Group. Menurut ICG, salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antaruma...
Artawijaya
Penulis buku "Gerakan Theosofi di Indonesia" dan "Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara" Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Penganut Theosofi di Minangkabau menolak penegakkan syariat yang dianggap ancaman terhadap adat istiadat Minangkabau. Padahal syariat yang ingin ditegakkan ketik...