Turki Tidak Akan Tinggal Diam Jika Israel Serang Libanon
Turki tidak akan tinggal diam jika Israel serang Lebanon atau Gaza, ujar Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan, Kamis (25/11/2010).
"Apakah (Israel) pikir bisa masuk Libanon dengan pesawat paling modern untuk membunuh perempuan dan anak-anak, dan menghancurkan sekolah serta rumah sakit, lalu kemudian mengharapkan kita untuk tetap diam?" Erdogan mengatakan hal tersebut pada konferensi yang diselenggarakan oleh Union of Arab Banks.
"Apakah mereka berpikir dapat menggunakan senjata paling modern, amunisi fosfor dan bom cluster untuk membunuh anak-anak di Gaza dan kemudian mengharapkan kita untuk tetap diam?
"Kami tidak akan diam dan kami akan mendukung keadilan dengan segala cara yang tersedia bagi kita."
Turki pernah menjadi sekutu terdekat militer Israel di Timur Tengah tetapi hubungan mulai memburuk ketika Ankara mengkritik Israel bulan Desember 2008 sampai Januari 2009 serangan terhadap Gaza.
Hubungan kemudian berubah pada tanggal 31 Mei 2010 ketika komando angkatan laut Israel menyerbu sebuah kapal Marmara Mavi, armada yang mencoba untuk mematahkan blokade Israel dari wilayah Palestina. Sembilan aktivis Turki tewas dalam serangan itu.
Erdogan mengatakan negaranya tidak akan mulai memulihkan hubungan dengan Israel hingga meminta maaf atas "serangan biadab"-nya di kapal Marmara Mavi.
Kamis adalah hari terakhir kunjungan utama Turki dua hari ke Lebanon, di mana ia meresmikan sebuah pusat perawatan luka bakar di Sidon, di sebuah kota pantai utama di selatan. Lebanon Selatan adalah wilayah terparah yang terkena serangan mematikan selama perang 2006 antara milisi Hizbullah dengan Israel. (me/mj)











Indonesia bangkrut karena korupsi dan kolonialisme. Pergantian rezim harus dilakukan secepatnya untuk menyelamatkan negeri ini. Yang tidak kalah penti...
Kasus GKI Yasmin semakin membuktikan kebenaran laporan International Crisis Group. Menurut ICG, salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antaruma...
Artawijaya
Penulis buku "Gerakan Theosofi di Indonesia" dan "Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara" Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Penganut Theosofi di Minangkabau menolak penegakkan syariat yang dianggap ancaman terhadap adat istiadat Minangkabau. Padahal syariat yang ingin ditegakkan ketik...