Subhanallah...
luar biasa...
Sirah Nabawiyah
Oleh: Prof.Dr. Rawwas Qal’ahji
8. Berkah Menyusui Rasulullah saw. Bagi Bani Sa’ad.
Sudah menjadi kebiasaan para wanita Bani Sa’ad mencari pekerjaan sebagai tukang menyusui bayi. Halimah berkata, “Aku mempunyai keledai betina yang warnanya agak hijau dan unta betina yang sudah tua. Demi Allah, unta betina itu tidak menghasilkan susu setetes pun, sehingga kami setiap malam tidak dapat tidur, sebab bayi kami terus menangis karena lapar, air susuku tidak mencukupi, sedang air susu untaku tidak membuat aku kenyang, namun kami terus berharap untuk mendapatkan pertolongan dan kemudahan hidup.
Aku pergi mengendarai keledaiku hingga sampai di Makkah. Di sana aku menawarkan jasa sebagai tukang menyusui bayi. Namun, tidak satu pun wanita yang menawarkan bayinya, kecuali Aminah yang menawarkan Rasulullah saw. Awalnya aku tidak mau menerimanya, sebab dia itu yatim, sedang aku berharap mendapatkan bayi yang ayahnya masih ada. Namun akhirnya aku mengambil bayi yatim itu. ‘Suamiku berkata, ‘Lakukanlah, mudah-mudahan Allah memberi kita berkah dengan adanya bayi itu.”
Ternyata hal itu benar-benar terjadi. Halimah berkata, “Setelah aku ambil, aku gendong bayi yatim itu, maka air susuku menjadi deras, sehingga dia dan saudaranya dapat minum dengan puas, lalu keduanya tidur. Kami pun dapat merasakan tidur nyenyak yang tidak pernah kami rasakan sebelumnya. Unta betina kami air susunya penuh. Lalu kami minum bersama-sama hingga kami merasa puas dan kenyang. Itulah malam pertama yang kami lalui dengan penuh kebaikan dan kebahagian.”
Tidak hanya itu. Demi Allah. Keledaiku mampu menempuh perjalanan yang tidak dapat dilakukan oleh keledai-keledai lain. Keberkahan terus berlanjut. Ketika kami sampai di rumah, kami dapati kambing-kambing kami sudah kenyang dan putingnya penuh dengan susu, sedang kambing-kambing tetanggaku tidak didapat sesetes pun air susu di putingnya. Sehingga mereka berkata kepada tukang gembalanya: ’Gembalakanlah kambing-kambing ini di mana kambing-kambing anak perempuan Abi Duaib digembalakan.’ Meski demikian, kambing-kambing mereka pulang tetap masih lapar dan putingnya tidak berisi air susu setetes pun. Sedang kambing-kambing kami pulang dalam keadaan kenyang dan putingnya penuh dengan air susu .
Keberkahan Muhammad bagi keluarga Halimah tentu menarik perhatian masyarakat pedalaman. Sehingga dia menjadi sorotan, yang suatu saat akan menjadi tiang penyanggah yang kuat ketika Muhammad menerima kepemimpinan umat ini. Sebab, orang-orang akan berkata: ”Inilah oarang yang telah kami ketahui berkahnya di saat masih kecil. Sehingga siapa yang akan menghalangi kami, jika kami bersamanya dikala dia sudah besar...”
9. Muhammad Dibelah Dadanya dan Dikembalikan pada Keluarganya.
Halimah bercerita: ” Beberapa bulan setelah Muhammad aku bawa kembali ke daerah pedalaman, dia bersama saudaranya Abdullah bin al-Harits putra Halimah dan beberapa anak kambing sedang berada dibelakang rumah, tiba-tiba saudaranya datang kepada kami dalam keadaan tegang dan tergopoh-gopoh, lalu dia berkata, ’Saudaraku orang Quraisy itu diambil dua orang laki-laki berpakaian putih-putih, kemudian kedua orang itu membaringkannya dan lalu membelah dadanya, selanjutnya kedua orang itu mengacak-acak isi perutnya.’ Mendengar itu semua, maka aku dan ayahnya segera keluar, ternyata kami mendapati Muhammad dalam keadaan berdiri sedang wajahnya tampak lemah dan pucat, lalu dengan cepat kami memeluknya. Kami bertanya, ’Apa yang terjadi pada dirimu, wahai anakku?’ Dia berkata, ’Telah datang kepadaku dua orang lelaki berpakaian putih-putih, lalu aku dibaringkan dan perutku dibelah, terakhir keduanya menaruh sesuatu ke dalam perutku, namun aku tidak tahu apa itu?’
Setelah kejadian itu Halimah dan suaminya memutuskan untuk mengembalikan Muhammad saw. kepada ibunya. Ibunya berkata, ’Kenapa kamu kembalikan Muhammad, hai Halimah, pada hal kamu sangat merasa senang jika dia tetap tinggal bersamamu?’
Aku berkata, ’Allah telah menjadikan dia besar, dan telah lama hidupnya dihabiskan bersamaku, namun sekarang aku takut dia tertimpa musibah, untuk itu aku kembalikan dia kepadamu, meski aku sangat mencintainya.’
Ibunya berkata, ’Apakah kamu takut dia akan dikerjai setan?’ Aku berkata, ’Ya. ’ Ibunya berkata, ’Jangan takut, demi Allah, tidak ada jalan bagi setan untuk mengerjainya, sebab puteraku akan memiliki kedudukan penting, maukah kamu aku beritahu berita tentang dia. ”Aku berkata, tentu aku mau.” Ibunya berkata, ”Ketika aku mengandungnya, aku melihat dariku keluar cahaya yang menerangi istana bushro”.
Demikianlah perkara-perkara yang menjadi bahan bagi kokohnya kepemimpinan Muhammad Rasulullah saw. di masa depan. Wallahua’lam!
Last Updated (Wednesday, 04 November 2009 05:11)