Menteri Pesanan Paman Sam
- Prev
- 1 of 5
- Next
Penetapan Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai Menteri Kesehatan sarat kepentingan Amerika Serikat. Siti Fadillah Supari diiming-imingi janji, sementara Nila Moeloek disabot dan dipermalukan. Siapa saja tangan-tangan yang bermain?
“Tadinya tanda tanya itu ada tiga, tapi sekarang ada enam,” kata Ribka Tjiptaning dalam jumpa pers di posko Bendera, Jalan Diponegoro 58,Jakarta, Kamis (29/10) lalu. Ketua Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) itu tampak gemas. Semua gara-gara acara dengar pendapat yang akan digelar Komisinya dengan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih di Gedung DPR/MPR Rabu (28/10) lalu, tiba-tiba dibatalkan pimpinan MPR. Menurut Ketua DPR Marzuki Alie, acara dengar pendapat yang akan digelar Komisi IX itu tidak jelas juntrungannya. “Pengundangan Menkes belum pernah dibahas di rapat Badan Musyawarah DPR,” kata Sekretaris Jenderal Partai Demokrat itu. Sementara Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso dari Partai Golkar mengatakan bahwa acara itu juga tidak tertib prosedur. “Semua harus melalui rapat Bamus,” ujarnya. Padahal, menurut Ribka, rapat itu adalah wewenang komisi. Acara yang diajukan komisi IX itu pun telah disetujui pimpinan DPR yang membawahi komisi IX, yakni Wakil Ketua DPR Marwoto Mitrohardjono. “Sekretariat Jenderal secara resmi juga mengirimkan surat berbekal persetujuan Pak Marwoto,” kata Ribka. Karena itu, dokter yang keblasuk menjadi politisi itu benar-benar merasa penasaran. Namun Marzuki dan pimpinan DPR dari partai-partai pendukung Presiden Yudhoyono bersikukuh: Acara harus dibatalkan. “Apa tujuan memanggil Menteri sementara internal komisi saja belum solid?" kata Marzuki. Menurut dia, pertanyaan itu tak dapat dijawab Marwoto. Marzuki pun menganggap, acara itu hanya akan menjadi ajang untuk memarahi, mencaci, dan menghujat Menteri Kesehatan yang baru seminggu dilantik Presiden SBY itu. Memang, dalam acara itu Ribka dan kawan-kawan telah merancang berbagai pertanyaan kepada Menkes yang baru dilantik SBY pekan lalu. Tapi politisi PDI Perjuangan itu menegaskan bahwa audiensi ini tidak untuk menghujat atau mencaci-maki. Tapi gara-gara silang pendapat itu Endang batal hadir. Padahal semula Departemen Kesehatan sudah sanggup untuk datang. “Ini sangat mencurigakan,” kata Ribka. Ia menduga pembatalan acara itu untuk mengamankan posisi Endang Tentu saja pembatalan acara dengar pendapat Komisi IX DPR dengan Menkes semakin melengkapi gempa politik di sekitar pemilihan menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. Bahkan terpilihnya Endang menjadi episentrum keguncangan itu. Sebab, lulusan Harvard School of Public Health, Boston, Amerika Serikat ini tidak ikut audisi calon menteri bersama kandidat lainnya. Bahkan ia mengikuti seleksi di saat-saat terakhir, di hari pengumuman. Janji dan Sabotase Menurut sumber Suara Islam, hingga dua hari sebelum pemanggilan calon menteri di Cikeas, SBY mengaku masih sreg untuk mengangkat kembali Siti Fadhilah Supari sebagai Menteri Kesehatan. Bahwa SBY sudah menjanjikan kursi itu kepada Siti Fadhilah. “Bapak-e masih mau kalau saya bantu beliau lagi,” kata Siti Fadhilah kepada Suara Islam beberapa hari sebelum audisi calon menteri. Keinginan SBY untuk memilih lagi Siti Fadhilah bisa difahami. Sebab selama menjadi Menteri Kesehatan, kinerja dan prestasi Siti cukup ciamik. Mantan Direktur Rumah Sakit Jantung Harapan Kita itu mencatat prestasi dalam program Asuransi Kesehatan (Askes), Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), Desa Siaga, obat murah, penanganan flu burung, penanggulangan bencana dan sebagainya. Keberhasilan Siti mengelola kesehatan di Indonesia bahkan menjadi jargon kampanye SBY dalam kampanye presiden lalu. Ironisnya, meski ditaburi janji dan diakui prestasinya oleh Presiden SBY sendiri, saat audisi calon menteri Kabinet Indonesia Bersatu II sejak Sabtu hingga Selasa, (17 – 20/10). Siti tak pernah dipanggil ke Cikeas. Untuk calon Menteri Kesehatan, muncul nama Prof Dr Nila Djuwita Moeloek, dokter ahli bedah mata dan isteri mantan Menteri Kesehatan di jaman Habibie, Farid Anfasa Moeloek. “Nggak tahu, ya, itu kan memang hak prerogative Presiden,” kata Siti ketika dimintai komentarnya itu. Ketika nama Nila Moeloek muncul sebagai calon Menteri Kesehatan pengganti dirinya, Siti Fadhilah tak banyak berkomentar. Maklumlah, mereka sesama dokter senior dari Universitas Indonesia. Siti pun sudah mengenal calon penggantinya itu sebagai orang yang profesional di bidangnya. Selain menjadi dokter mata, Nila pun aktif menjadi Ketua Dharma Wanita Pusat dan Ketua Medical Research Unit FKUI sejak dua tahun lalu. Namun Rabu (21/10) siang sekitar pukul 11.00, ketika hendak diwawancarai sejumlah media televisi dan cetak, tiba-tiba Menteri Sekretaris Negara Hatta Radjasa menelepon Nila. Saat itulah Nila diberitahu bahwa dirinya tidak lolos tes kesehatan di RSPAD Gatot Subroto, dua hari sebelumnya, terutama tes psikologi. Tentu saja Nila shock. Ia segera mengakhiri wawancara. “Mohon maaf, tidak ada wawancara lagi,” ujarnya dengan wajah merah padam menahan rasa malu dan emosi. Pemberitahuan Hatta kepada Nila siang itu agak aneh. Sebab, sehari sebelumnya, Selasa sore (20/10), informasi tentang tidak lolosnya Nila dalam audisi calon menteri sudah beredar di istana. Beberapa wartawan istana mendapat info yang tampaknya sengaja dibocorkan. “Pukul 16.17, saya mendapat SMS dari orang Istana. Isinya, Nila Moeloek tidak lulus psikotest,” kata seorang wartawan senior yang biasa mangkal di Istana. Tapi Hatta justru baru memberitahu Nila, kurang dari 12 jam sebelum pengumuman kabinet. Kegagalan Nila juga sangat mengherankan. Apalagi dengan alasan Nila tak kuat stress saat bekerja dalam tekanan tinggi. Padahal, sebagai dokter spesialis bedah mata, Nila biasa bekerja dalam tekanan tinggi ketika menangani pembedahan. “Dalam ilmu kedokteran, bedah mata adalah bedah dengan kategori tingkat kesulitan tinggi,” kata Ketua Presidium MER-C, Dr Joserizal Jurnalis Sp.OT. Dr Jose pun mempertanyakan soal pembocoran hasil psikotest kepada wartawan, karena data hasil psikotest tidak untuk konsumsi publik. Selain Nila, ada tiga calon menteri lain yang dikabarkan tak lulus, yakni calon Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar, calon Menteri Pertanian Suswono, dan calon Menteri Perumahan Rakyat Harsono Manoarfa. Jika Mustafa dan Suswono dikabarkan tak lulus tes kesehatan, Harsono tidak lulus psikotest. Saat itu berkembang pula informasi di milis-milis LSM bahwa Harsono pernah terkena masalah hukum susila saat di Kamboja beberapa tahun lalu. Namun, hingga Rabu (21/10) malam, ketiga orang itu tidak ditelpon Hatta, Sudi maupun orang dekat SBY lainnya soal kegagalan mereka. Ketika Suara Islam menanyakan hal itu, ketiga calon maupun ajudan mereka mengaku tidak tahu. “Kami belum dapat kabar,” kata Faisal Halimi, ajudan Dirut Bulog Mustafa Abu Bakar. Saat diwawancarai, Suswono tampak santai dan percaya diri, sementara Harsono mengaku heran tentang rumor kasus susila yang menimpa dirinya.
Nama Yang Muncul Mendadak
Meski belum ada kejelasan soal calon Menteri Kesehatan, Rabu malam (21/10), sekitar pukul 18.30 WIB, di Cikeas, juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng, mengatakan bahwa Presiden akan mengumumkan kabinetnya malam itu juga di Istana. “Paling cepat pukul 10 malam,” ujarnya. Padahal saat itu juga beredar kabar bahwa SBY masih mencari seorang dokter wanita asal Indonesia Timur untuk menjadi calon Menteri Kesehatan.
Walhasil, para wartawan, dan seluruh rakyat Indonesia baru mengetahui nama Menkes yang baru ketika SBY mengumumkan kabinetnya di Istana Merdeka, tepat pukul 22.00. Saat nomor 19 dibacakan, Presiden SBY menyebut nama pengganti Nila Djuwita Moeloek yang tereliminasi. “19, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih,” ujarnya. Begitu nama Endang diumumkan, Menkes Siti Fadilah Supari langsung berkomentar. “Loh, Endang ini dulu saya pecat karena membawa sample virus H5N1 ke Vietnam untuk diberikan ke seorang professor dari Amerika Serikat. Masa orang itu dipilih menjadi Menteri,” ujarnya. Saat dipecat, Endang adalah Kabalitbang Depkes, tempat laboratorium Naval Medical Research Unit Two alias NAMRU-2 milik Angkatan Laut Amerika Serikat berkantor. Sebelum menjadi Kabalitbang Depkes, Endang adalah peneliti di NAMRU-2. Bersama NAMRU-2 perempuan Jawa bersuami MJN Mamahit, dari Sulawesi Utara itu, meneliti berbagai penyakit di masyarakat. Kemudian ia mendapat beasiswa di bidang Kesehatan Masyarakat dari Harvard School of Public Health hingga meraih gelar Master dan Doktor. Setelah dicopot dari jabatannya, Endang hanya menjadi peneliti biasa. “Semua juga kaget, kok bisa dia. Dia itu eselon II dan tidak punya jabatan,” kata Siti. Bagi wartawan nongkrong di Cikeas dan RSPAD untuk menunggu kedatangan para calon menteri yang diaudisi SBY, munculnya nama Endang juga sangat mengejutkan. Sebab, mereka tak melihat Endang datang di Cikeas maupun di RSPAD. Padahal, Endang mengaku datang ke Cikeas setelah ditelepon ketika sedang rapat di Hotel Horizon Bekasi. “Saya mendapat telepon yang tidak saya kenal," kata Endang di rumahnya di Jalan Pendidikan Raya III, Blok J-55 Kompleks IKIP Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (22/10). Ketika diminta ke Cikeas untuk menjalani tes, Endang setengah tak percaya. "Saya pikir ini serius atau acara salah sambung…" ujarnya. Ia mengaku tak sempat memanggil supir dan terpaksa naik taksi ke Cikeas. Namun, Endang dan supir taksi yang konon belum pernah ke Cikeas itu tidak kesasar. “Di Cikeas sudah ada tim RSPAD Gatot Soebroto. Saya menjalani psikotes 500 pertanyaan dan tes wawancara, saya lalu dipanggil presiden dan wapres,” ujarnya. Keterangan detil ini justru menimbulkan tanda tanya. Sebab, calon menteri lainnya mengaku dicecar 567 pertanyaan psikotest. Adapun test kesehatan yang ditangani tim RSPAD pun sangat lengkap. Untuk satu orang calon menteri saja, dibutuhkan waktu untuk pemeriksaan hingga 6 jam lebih. Sementara beberapa menteri belum puasa pada hari Senin wajib datang lagi untuk diperiksa lagi di hari berikutnya. Menurut sebuah sumber Suara Islam, peralatan medis untuk test kesehatan di RSPAD cukup banyak dan ribet. Pasti akan terjadi kesulitan luar biasa jika peralatan itu harus dibawa ke Cikeas yang jaraknya cukup jauh dari RSPAD di Senen, Jakarta Pusat. Apalagi beberapa calon seperti Marty Natalegawa dan Kuntoro Mangkusubroto masih harus diperiksa di RSPAD. Kalaupun Endang datang sore hari, pasti test kesehatan belum selesai. “Saya yakin, Endang belum ditest kesehatannya,” kata sumber Suara Islam itu. Joserizal pun mengkritisi penetapan Endang. Sebab, orang yang belum menjalani test kesehatan justru bisa mengeliminasi profesor senior yang sangat nasionalis seperti Nila Moeloek maupun Siti Fadillah. “Alasan diskualifikasi Ibu Nila sangat tidak masuk akal, sementara Endang seolah-olah dicalonkan last minute,” ujarnya. Karena itu berbagai pihak justru menduga nama Endang sebenarnya sudah dipersiapkan sejak lama. Namanya disodorkan setelah hasil psikotest Nila disabot. Tangan-tangan Amerika Serikat
Maka dugaan adanya intervensi Amerika Serikat dalam penunjukan Endang merebak. “Amerika Serikat tidak senang dengan Menteri Kesehatan yang berani menentang dan bahkan mempermalukan Amerika Serikat seperti Siti Fadhilah Supari,” kata Ketua Bidang Kaderisasi FUI HM Mursalin. Sebab selama lima tahun menjabat, Siti membikin banyak gebrakan yang membuat mereka kebakaran jenggot. Misalnya penghentian kerjasama NAMRU-2, menentang dominasi Amerika Serikat dalam penguasaan sample biologis di World Health Organization (WHO), dan sebagainya.
Karena itu, meski SBY awalnya menjanjikan kursi Menkes kepada Siti Fadilah, bisikan bahwa sebaiknya cucu pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan itu dicoret berseliweran. Sementara itu, ketika SBY sudah memanggil Nila menjadi calon Menteri Kesehatan, dengan penuh rekayasa, hasil psikotes sang professor itu pun disabot. “Masalah ini yang sebenarnya akan kita tanyakan dan kita klarifikasikan kepada pemerintah,” kata Ribka. Tampaknya, kedekatan dengan NAMRU-2 menjadi pangkal utama skenario memuluskan Endang untuk duduk di kursi Menteri Kesehatan. Diduga nama Endang ditawarkan ke SBY lewat geng antek Amerika Serikat. Kebetulan, para antek itu dikomandani juru bicara presiden, Dino Patti Djalal. Endang pun sangat dekat dengan Dino. “Dino adalah orang yang membela Endang mati-matian saat ia digeser Siti Fadillah dari posisi Kabalitbang Kesehatan dua tahun lalu,” kata sumber Suara Islam di BIN. Repotnya SBY menganggap Amerika Serikat adalah negara keduanya. “I love America with all it’s fault. I consider that it is my second country,” kata SBY dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi Al Jazeera beberapa waktu lalu sebagaimana dikutip berbagai media. Maka, ketika nama Endang disodorkan setelah psikotest Nila disabot, apalagi ditambah puja puji dan iming-iming dua gelar dari Universitas Harvard yang dimiliki Endang dihembuskan, SBY pun langsung klepek-klepek. Tanpa banyak pertimbangan lagi, SBY pun memilih Endang untuk menggantikan Nila. Tapi tentu saja Dino membantah dugaan tentang adanya intervensi asing dalam pemilihan Endang. “Tidak ada sama sekali,” ujarnya seusai pelantikan para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II di Istana Negara, Kamis 22 Oktober 2009. Soal keterkaitan Endang dengan NAMRU-2 dan dirinya, Dino juga memilih tak menjawab. “Saya tidak mau berkomentar mengenai itu. Artinya orang-orang yang dipilih presiden, semua menteri yang diseleksi, confidential [rahasia] dan internal,” ujarnya. Endang pun membantah dirinya telah dimutasikan Siti Tadhilah gara-gara membawa dan memperjualbelikan sample virus H5N1. “Kalau waktu itu saya dimutasi, saya terima. Tapi saya tidak memperjualbelikannya,” ujarnya. Menurut dia, seorang peneliti boleh membawa hasil penelitiannya kemana pun juga. Tampaknya Endang lupa, bahwa ketika itu Siti Fadillah sempat mengeluarkan aturan larangan membawa sample biologi keluar Indonesia, apalagi kemudian diberikan kepada pihak asing. Soal kedekatannya dengan laboratorium milik Angkatan Laut AS, NAMRU-2, Endang mengakui dia memang memiliki kedekatan. Tapi menurut dia hal itu wajar-wajar saja. Bahkan ia mengaku tidak hanya dekat dengan peneliti-peneliti Amerika Serikat saja. “Saya tidak mengelak kalau dikatakan dekat dengan NAMRU. Kalau saya dekat dengan Ibu (Siti Fadilah), nanti dikira sombong,” ujarnya merendahkan diri untuk berupaya meningkatkan mutu. Tapi tampaknya, sepak terjang Endang sudah tergambar jelas. Meski baru bulan lalu Siti Fadillah merilis surat penghentian hubungan kerjasama kesehatan dengan Amerika Serikat lewat NAMRU-2, sehari setelah dilantik Endang justru menyatakan bahwa dirinya ingin meneruskan kerjasama dengan Amerika Serikat. Kerjasama itu kini berganti nama menjadi Indonesia United States Center for Medical Research (IUC). “Kerjasama Indonesia-Amerika ini luas, salah satunya laboratorium biomedis,” ujarnya tanpa rasa bersalah. Menurut Endang, kerjasama di bidang biomedis ini salah satunya untuk pengembangan vaksin, alat diagnostik, identifikasi virus, bakteri, dan lain-lain. Jadi tampaknya dengan lembaga baru ini sebenarnya apa yang selama tiga dasawarsa dilakukan NAMRU-2 akan tetap diteruskan. Hanya namanya saja yang diganti sementara Indonesia tetap menjadi ladang plasma nutfah biomedis, dan rakyatnya menjadi kelinci percobaan. “Padahal virus telah dijadikan komoditas bisnis dan senjata biologi oleh negara-negara maju,” kata Jose. Sementara itu, gara-gara mengritik calon penggantinya dan membeberkan keterlibatan tangan Amerika Serikat dalam penetapan Endang sebagai Menkes di berbagai media cetak dan elektronik, Siti Fadhillah pun ditelepon dan diancam beberapa orang yang tak jelas identitasnya. “Ibu diancam mau dibunuh, karena itu saat serah terima jabatan dengan Bu Endang, beliau jadi agak melunak,” kata seorang sumber Suara Islam yang dekat dengan Siti Fadhilah. Gara-gara kritik keras terhadap menteri barunya, SBY pun angkat bicara. Sebelum rapat perdana Kabinet Indonesia Bersatu II Jumat (23/10), di Istana, SBY berupaya meyakinkan masyarakat bahwa langkahnya benar. Menurut dia, Nila memiliki satu dua titik kelemahan yang tidak tepat jika diforsir sebagai Menteri. “Dua hari saya membahasnya,” ujarnya. Ia mengaku sudah mengincar Nila untuk menjadi menterinya sejak 2004. Uniknya, SBY mengakui bahwa Endang baru melewati sebagian tes kesehatan. “Tes Bu Endang memang belum menyeluruh. Tapi berdasarkan riwayat selama ini, tak ditemui kelainan,” ujarnya. Padahal, dari hasil tes yang cuma sebagian itu SBY mengaku menemukan gangguan meski hanya kecil pada diri Endang. “Hanya perlu treatment sedikit,” kata SBY. Lalu bagaimana jika dalam test kesehatan secara menyeluruh ternyata ditemukan masalah serius? Apakah nama Endang langsung akan dicoret? Kabinet Neoliberal
Gonjang-ganjing penetapan Kabinet Indonesia Bersatu II tentu saja memancing komentar para pengamat dan politisi. Ketua Partai Hanura Fuad Bawazir termasuk yang melontarkan kritik pedas. Menurut dia, Kabinet SBY jilid dua ini benar-benar kabinet neoliberal. Hal itu terlihat dari susunan menteri di pos ekonomi, politik, pertahanan dan kesehatan. “Neoliberalisasi pasti akan mejalar ke berbagai bidang,” ujarnya.
Fuad menunjukkan, betapa posisi-posisi kunci di kabinet tetap diisi tokoh fundamentalis neoliberal. Misalnya dipertahankannya Sri Mulyani dan Mari Elka Pangestu di bidang ekonomi, dipasangnya Purnomo Yusgiantoro di Pertahanan, dan Endang di Kesehatan. “Pemilihan menteri-menteri itu menguatkan adanya dominasi asing, sementara Wakil Presiden Boediono dari dulu adalah tokoh neoliberal garis keras,” ujarnya. Padahal para menteri itu memiliki track record buruk. Sri Mulyani dan Boediono terlibat dalam kasus jebolnya uang publik Rp 6,7 triliun dalam kasus skandal Bank Century. Sementara Mari Pangestu sangat jelas langkahnya dalam liberalisasi perdagangan asing ke Indonesia. “Mereka adalah simbol IMF (International Monetary Fund) dan World Bank. Mereka memakai tekanan lembaga keuangan dunia agar kembali masuk kabinet,” kata pengamat ekonomi Hendri Saparini. Fuad khawatir jika faham neoliberal merambah bidang pertahanan dengan masuknya Purnomo Yusgiantoro di Dephan. Sebab, selama Purnomo menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Pertamina tidak lagi menjadi tuan rumah di negeri sendiri, sementara kekayaan alam Indonesia makin dikuras dan dikuasai asing. “Kita sudah kehilangan kedaulatan atas sumber-sumber kekayaan alam kita. Apakah hal itu akan diperluas ke bidang Hankam melalui tangan Purnomo,” ujarnya. Menurut Fuad, neoliberalisasi di Indonesia tampaknya akan diperluas dari bidang politik dan ekonomi ke bidang pertahanan keamanan dan kesehatan.“Naiknya Endang Sedyaningsih yang juga peneliti di Laboratorium NAMRU-2 semakin menguatkan dominasi asing dan lemahnya kedaulatan Republik Indonesia. “Perang di masa depan itu bukan lagi perang fisik, tapi perang ekonomi dan biologi,” ujarnya. Nah, sudah siapkah ummat Islam menghadapi tantangan yang luar biasa ini?. (Abu Zahra)
Last Updated (Thursday, 05 November 2009 15:24)
- MER-C Kirim Tim Relawan ke Padang
- Memalukan, Dua Politisi RI Kena Skandal Seks di Kamboja
- Endang Menkes, Namru Menang
- Siapa Endang Rahayu Sedyaningsih?
- FUI: Menkes 'Antek' dan 'Kaki Tangan' AS
- MER-C: Tolak Bisnis Penyakit
- “Century Gate” Pembelajaran Buat DPR Baru
- Komisi I DPR Segera Panggil Menlu Bahas Palestina
- Gus Choy: Mana Ada Sumpah "Lillahi Taala?"
- Masjid Agung Al Azhar Tolak Pemurtadan Di Sumbar
- Menuntut Menkes Sampai Tetes Darah Terakhir
- MER-C Indonesia Resmikan Rumah Sederhana Di Sumatera Barat
- Tim Medis MER-C Siap Berangkat ke Haiti


