|
Tabloid SUARA ISLAM EDISI 51, Tanggal 5 - 18 September 2008 M/5 - 18 Ramadhan 1429 H Pada Ahad, 22 Sya'ban 1429 H atau 24 Agustus 2008, Pesantren Al Quran KH Abdullah Syafi'ie As Syafi'iyah Pulo Air, Sukabumi pimpinan KH Abdul Rasyid AS, menggelar acara Tasyakur Pesantren Al Quran ke XVIII, Haul Alm KH Abdullah Syafi'ie ke XXIII, Haul Akbar Bersama Keluarga Jamaah, Peringatan Maulid dan Isra Mi'raj Nabi Muhamad SAW. Acara rutin tahunan ini digelar di komplek pesantren, di Jalan Sukabumi Cianjur KM 10 Sukalarang, Sukabumi.
Ribuan jamaah dari berbagai daerah seperti Jakarta, Sukabumi dan sekitarnya hadir dalam acara tersebut. Jamaah datang secara bergelombang dengan menaiki ratusan bis. Acara tasyakuran diisi dengan membaca sholawat, ceramah berbahasa Arab dan Inggris dari santri serta sambutan dan tausiyah dari para tokoh yang hadir. Tokoh yang hadir di antaranya: H Maftuh Basyuni (Menteri Agama Republik Indonesia), H Ahmad Heryawan (Gubernur Provinsi Jawa Barat), H Sukmawijaya (Bupati Kabupaten Sukabumi), Tuan Guru Bajang KH M Zainul Majdi (Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat) dan Aru SA (Forum Umat Islam dan Pimred Suara Islam). KH Abdul Rasyid AS mengatakan bahwa pondok pesantren yang dipimpinnya itu bisa tumbuh berkembang adalah berkat do'a-do'a umat Islam. Juga karena adanya sumbangan umat Islam yang menjadi jamaahnya. “ Dengan itulah pesantren ini bisa berkembang. Dengan do'a dari umat Islam yang cinta,” ujar KH Abdul Rasyid kepada jamaah yang hadir. Di hari tasyakur pengabdiannya yang ke 18 itu, KH Abdul Rasyid menjelaskan bahwa keberadaan pesantren Al Quran ini merupakan pertanggungjawaban darinya atas penerimaan amal dan titipan jariyah dari kaum muslimin baik sedikit maupun banyak. “Inilah yang kami mampu laksanakan. Tapi cita-cita kami ingin terus mengembangkan pesantren ini,” ujarnya . Beliau bercita-cita untuk membangun Kota Pelajar di Sukabumi ini sebagai tempat ditempanya anak-anak menuju manusia yang bertakwa kepada Allah SWT. Cita-cita mulia itu berangkat dari keresahan KH Abdul Rasyid ketika menyaksikan fenomena yang mengerikan dari anak-anak muda sekarang seperti narkoba, pergaulan bebas dan lainnya. “Pernah saya baca di sebuah surat kabar bahwa di kota Bandung ternyata 40 persen pecandu narkoba adalah pelajar. Innalillahi wa inna ilaihi raji'uun,” ujarnya lagi prihatin. Menurutnya, salah satu penyebab kerusakan akhlak itu adalah akibat keberadaan televisi yang tidak mendidik. Karena itu di situlah pentingnya keberadaan pesantren Al Quran KH Abdullah Syafi'ie As Syafi'iyah, untuk menghasilkan anak didik yang bertakwa kepada Allah SWT. “Di sinilah para santri mendapat pendidikan, baik dari segi kepesantrenan maupun sekolah formal dari SD hingga SMA, yang insya Allah mutunya tidak kalah dengan sekolah lain,” ujarnya. Sementara itu Bupati Kabupaten Sukabumi, Sukmawijaya, mengatakan, Pesantren Al Quran KH Abdullah Syafi'ie AS Syafi'iyah Pulo Air bisa menjadi salah satu model pembelajaran pendidikan yang maju. Itu katanya, bukan karena muridnya banyak tapi karena kurikulumnya dan materi ajarnya yang lengkap baik sain maupun agama. “Insya Allah kehadiran pondok pesantren ikut menyemarakkan pendidikan di Sukabumi menuju terciptanya SDM yang berakhlak mulia, beriman dan bertakwa,” ujarnya. Bekas Taman Rekreasi Pulo Air
Pesantren Al Quran KH Abdullah Syafi'ie As Syafi'iyah dirintis pada 1990-an. Pesantren ini berdiri di atas tanah wakaf pengusaha restauran Sunda, Haji Soekarno (alm). Tanah itu awalnya berupa taman rekreasi Pulo Air seluas 3,3 hektar. KH Abdul Rasyid memberi nama pesantren itu dengan nama ayahnya sebagai salah satu tanda bakti kepada ayahandanya. Pertama kali dibuka, jumlah santrinya hanya 13 murid SD. Namun seiring dengan berjalannya waktu, perkembangannya kini sungguh amat pesat. Sekarang saja Pesantren KH. Abdullah Syafi’ie telah menempati tanah seluas 28 ha dengan sarana bangunan yang dimiliki terbilang lengkap. Santrinya lebih dari 650 orang yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan pernah ada yang berasal dari Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, maupun dari Jeddah, Saudi Arabia. Selain belajar dan Menghafal Al Quran mereka pun belajar pengetahuan umum yang diajarkan mulai dari TK, SD, SMP, SMU. Demikianlah warna pesantren KH. Abdullah Syafi'i, ia memadukan gaya pesantren hafidz Quran dengan sekolah umum. Untuk meningkatkan imtaq dan iptek para santrinya ini, pengelola pesantren tidak setengah-setengah mewujudkannya. Tiap sekolah yang berada di bawah koordinasi pondok telah menyediakan laboratorium tersendiri di bidang fisika, komputer dan bahasa. Pesantren ini juga memiliki sarana asrama yang amat bersih, juga masjid yang cukup memadai di tengah kampus. Dalam tiga tahun terakhir ini malah telah berdiri stasiun radio FM Pulo Air. Mengenal KH Abdullah Syafi'ie Almarhum KH Abdullah Syafi'ie, ayahanda dari KH Abdul Rasyid AS, lahir di Kampung Bali Matraman, Jakarta Selatan pada 16 Sya'ban 1329 H/10 Agustus 1910 hari Sabtu. Semasa hidupnya almarhum KH Abdullah Syafi'ie populer dengan sebutan “Macan Betawi”. Sejak kecil almarhum sudah diarahkan untuk belajar ilmu agama. Sambil menuntut ilmu, ia pun mengajar. Ketika berumur 23 tahun beliau mulai membangun Masjid Al Barakah di Kampung Bali Matraman. Di situlah Almarhum lebih menekuni pembinaan masyarakat-umat. Selanjutnya beliau membangun sejumlah pesantren dan madrasah. Beliau membangun AULA AS-SYAFI'IYAH, membangun Akademi Pendidikan Islam As-Syafi'iyah (AKPI As-Syafi'iyah), mendirikan Stasiun Radio As-Syafi'iyah, membangun pesantren putra dan pesantren putri di Jatiwaringin, membangun pesantren khusus untuk Yataama dan Masaakin, mengembangkan sarana untuk pendidikan dan pesantren di sekitar Jakarta seperti Cilangkap-Pasar Rebo, di Payangan-Bekasi, Kp. Jakasampurna-Bekasi dan menyiapkan lokasi untuk kampus Universitas Islam As-Syafi'iyah di Jatiwaringin. Jiwa dan semangatnya adalah membangun umat untuk menghidupkan syi'arnya agama Islam. Mendirikan masjid-masjid, musholla dan madrasah serta pesantren-pesantren. Menggalakkan umat untuk beramal jariah, infak dan shodaqoh serta berwakaf. Pada Selasa 3 September 1985 dinihari jam 00.30 KH Abdullah Syafi'ie berpulang ke rahmatullah saat menuju rumah sakit Islam. Almarhum dishalatkan di masjid Al Barkah Bali Matraman oleh puluhan ribu umat Islam secara bergelombang dipimpin oleh para Alim Ulama. Turut serta tokoh-tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah. Dimakamkan pada selasa tgl. 18 Dzulhijjah 1405 H./ 3 September 1985 di Komplek Pesantren Putra As-Syafi'iyah Jatiwaringin Pondokgede, diantar oleh ratusan ribu umat Islam. Tuan Guru Bajang KH Zainul Majdi, yang juga mantu dari KH Abdul Rasyid AS mengatakan, meski dirinya belum pernah bertemu dengan KH Abdullah Syafi'ie tapi ia yakin bahwa KH Abdullah Syafi'ie merupakan orang yang mulia. “Kenapa saya yakin beliau orang mulia? Karena banyak sekali orang yang suka sama beliau,” ujarnya. Menurutnya, kalau ulama sampai ratusan tahun bahkan ribuan tahun masih dikenang umat dengan kebaikan, berarti ketika ia hidup menanam kebaikan pada umat. Menag Maftuh Basyuni, mengaku cukup mengenal baik KH Abdullah Syafi'ie, yakni di tahun 1960 an ketika baru belajar di Universitas Madinah. “Saya melihat beliau itu seorang ulama yang alim dan istiqamah dalam memegang kebenaran,” ujarnya. KH Abdullah Syafi'ie, masih kata ia, termasuk orang begitu gigih memperjuangkan kebenaran, bijak dan arif ketika melihat suatu permasalahan. Namun demikin tetap tegas dalam memegang prinsip. Meskipun memiliki ilmu yang tinggi tapi beliau tetap rendah hati, tak pernah sombong, congkak atau pun egois. “Orang seperti ini sekarang langka,”katanya. H Ahmad Heryawan mengatakan bahwa almarhum semasa hidupnya merupakan kyai kharismatik yang berusaha sekuat tenaga memberi pemahaman keislaman kepada umat dengan pemahaman yang benar, yakni pemahaman ahlu sunnah waljamaah. “Haul ini harus menjadi sebuah rekomendasi, sebuah deklarasi, bahwa orang-orang soleh seperti beliau, patut kita contoh sepak terjang perjuangannya dalam menegakkan agama Allah di bumi Indonesia ini, khususnya di Jakarta sampai Sukabumi,” ujarnya. [pendi/www.suara-islam.com]
|