Depan arrow Tabloid arrow Mahasiswa Kristen Picu Bentrokan
Mahasiswa Kristen Picu Bentrokan PDF Cetak E-mail
Saturday, 09 August 2008

Tabloid SUARA ISLAM EDISI 49, Tanggal 1 - 14 Agustus 2008 M/29 Rajab - 12 Sya’ban 1429 H

Bentrok antara warga Kampung Pulo Pinangrangti dengan pihak kampus SETIA (Sekolah Tinggi Theologi Injili Arastamar) terjadi karena provokasi dan sikap anarkis mahasiswa.

Sejak Sabtu dini hari (26/7) hingga berita ini dibuat (Ahad, 27/7) sua-sana Kampung Pulo, Kelurahan Pinangranti, Kecamatan Makasar, Jakar-ta Timur mencekam. Beberapa kali terjadi bentrok antara warga dengan pihak kampus SETIA (Sekolah Tinggi Theologi Injili Arastamar). Warga mengaku terprovokasi sikap anarkis mahasiswa.

Risman Hadi, ketua Forum Komuni-kasi Muslim Kampung Pulo (FKMK)  mengatakan, ketegangan warga dengan pihak kampus bermula dari tertangkap-nya mahasiswa bernama Julius di asrama Gang Melinjo. Julius dipergoki warga hendak mencuri pompa air dari rumah warga. Julius pun diamankan ke rumah ketua RW, kemudian diserahkan ke petugas Polsek Pinangranti.

Namun tiba-tiba ada salah seorang warga yang melaporkan bahwa rumahnya dilempari mahasiswa SETIA. Mendengar kabar tersebut, sejumlah warga menda-tangi asrama mahasiswi untuk menanya-kan alasan mengapa mahasiswa yang ada di asrama itu melempari rumah warga. Ketika sampai di depan asrama, warga malah disambut dengan lemparan batu bata dan balok yang di atasnya ada paku tajam. “Ini seolah-olah ada desain dimana ada pemicu awal. Kemungkinan maling itu sebagai pemicu awalnya,” ujar Risman.

Mendapat serangan itu, warga akhir-nya mundur dan menunggu petugas datang. Begitu petugas datang, warga kembali lagi mendatangi asrama untuk meminta penjelasan kenapa  mahasiswa melempari warga. Yang terjadi, sikap mahasiswa bertambah beringas. Akhir-nya warga melayaninya. Bentrok pun tak terhindarkan. Walhasil warga kalah kare-na posisinya berada di bawah, sementara mereka berada di lantai dua asrama.

Pada jam satu pagi, warga kembali ke masjid. Namun tiba-tiba muncul enam pria berbaju hitam dan berkulit gelap, melakukan provokasi. Warga kemudian mengejarnya. Spontanitas warga men-datangi asrama, karena warga berke-yakinan enam pria tersebut bersembunyi di  asrama. Bentrok pun akhirnya  terjadi. “Warga sebenarnya tidak akan anarkis kalau tidak ada provokasi,” ujar Risman.

Sementara itu menurut versi SETIA seperti dikutip detik.com, penyerangan berawal saat mahasiswanya yang bernama Julius Coli dituduh mencuri di rumah warga. Humas SETIA, Senny Manafe mengatakan Julius saat itu tengah pulang usai membeli makan di warung pada Jumat 25 Juli 2008 pukul 21.00 WIB. Di jalan, Julius bertemu tikus dan melempar tikus itu dengan sandal. Tetapi rupanya, sandal Julius masuk ke halaman rumah seorang warga. Julius diteriaki maling dan diamuk massa. Dia lalu dibawa ke rumah ketua RW dan digiring ke kepolisian. Tidak lama kemudian, terjadi penyerangan-penyerangan oleh warga.

“Para mahasiswalah yang pertama kali melempari batu ke warga, sehingga warga pun membalasnya,” bantah Risman pada Suara Islam. Pernyataan bahwa si maha-siswa bernama Julius itu tak berniat melakukan pencurian juga dibantah Risman. “Pernyataan Seny itu mengada-ada dan mustahil. Si mahasiswa itu jelas-jelas akan melakukan pencurian.”

Bentrok Kembali terjadi

Kondisi Kampung Pulo Pinangranti Sabtu siang (26/7) sebenarnya sudah kondusif. Para mahasiswi pun sudah dievakuasi dari asrama putri. Namun  menjelang malam suasana kembali mencekam. Warga dan pihak SETIA saling serang. Ini sangat disayangkan, sebab sebelumnya antara kedua belah pihak telah bertemu di Kantor Camat, Makasar, Jakarta Timur, Sabtu (26/7/ 2008). Mereka sepakat untuk cooling down.

Maman, salah seorang warga menga-takan, pihak SETIA berusaha memancing warga dengan menurunkan preman ba-yaran. “Mereka menurunkan preman bayaran, mengacungkan samurai, mema-nah dan melempar batu. Ini kampung kita, kami tidak ridha, kami jihad,” ujarnya pada Suara Islam, Sabtu malam.

“Awalnya pada jam 10  malam, warga sedang mengadakan pengajian. Di saat itu muncul sekitar delapan orang pria petan-tang-petenteng bolak-balik di depan mas-jid. Salah seorang dari mereka melempari Masjid. Melihat provokasi seperti itu warga pun mengejarnya hingga ke asrama putri. Di sana mereka sudah disambut puluhan preman. Akhirnya terjadilah serang menyerang,” ujar Risman Hadi menambahkan. Risman mengatakan ada 15 orang warga terluka akibat timpukan batu bata dan dua orang terkena panah. Panah tersebut diduga berasal dari Kupang. Panah tersebut berbau anyir, dan begitu luka keluar darah hitam. Tiga orang petugas juga terluka terkena batu.

Di awal bentrokan, polisi tampak tidak bisa melerai pertikaian itu. Satu kompi pasukan kemudian didatangkan untuk melerai bentrokan itu.

Menjelang tengah malam, dua buah mobil Brimob tampak bergerak menuju asrama putri SETIA untuk mengevakuasi para preman. Warga yang berusaha mendekati asrama dihalau polisi. Untuk menghalau warga, Polisi sempat menem-bakkan gas air mata sehingga mengakibatkan dua orang warga terluka. “Salah seorang yang bernama Buyung dalam keadaan kritis. Kita sedang usahakan evakuasi,” ujar Risman saat kejadian. Puluhan pria yang diduga preman pun akhirnya  dievakuasi polisi dari asrama putri mahasiswa SETIA.

Menjelang Ahad pagi (27/7) kondisi di Kampung Pulo berangsur normal. Tak terlihat lagi kerumunan massa yang besar baik di depan kampus atau masjid. Warga kembali beraktivitas sebagaimana bia-sanya.

Namun, sayang itu tidak berlangsung lama. Isu kedatangan preman Ambon dengan truk menuju Kampung Pulo membuat warga kembali siaga. Polisi pun tampak berjaga-jaga. Bahkan mereka terus mendapat tambahan pasukan untuk membantu pengamanan di daerah ini. Suasana sempat tegang ketika ada dua orang preman yang menyusup ke Kam-pung Pulo berhasil ditangkap warga. Polisi minta warga membubarkan diri. Namun warga menolaknya. Warga hanya ingin memastikan kedua preman itu tidak dilepas lagi.

Sementara itu Pemerintah Kota Jakar-ta Timur dan MUI sempat datang ke Kampung Pulo untuk mencari solusi terbaik atas masalah yang terjadi di daerah tersebut.


Pemerintah Diminta Relokasi SETIA

Perselisihan antara warga Kampung Pulo dan pihak SETIA (Sekolah Tinggi Theologi Injil Arastamar) sebenarnya sudah berlangsung lama. Sejak sekolah tersebut berdiri tahun 1991 warga telah memprotesnya.

“Saya atas nama masyarakat Kam-pung Pulo, tidak menginginkan lagi keberadaan kampus SETIA di kampung Pulo. Segera dan secepatnya dipindahkan keluar!” kata Jufri, Ketua RW 04 Kelurahan Pinangranti usai mengikuti pertemuan bersama Walikota di Keca-matan Makasar, yang dihadiri Kapolres Jakarta Timur, Dandim dan aparat setem-pat Ahad sore (27/7).

Jufri yakin walikota Jakarta Timur, Murdani akan berusaha semaksimal mungkin untuk memindahkan kampus ini. Meskipun tentunya perlu waktu dan proses. ”Saya harapkan dia tidak bohong, dia katakan A ya A. Saya sendiri tidak mau dibohongi seperti dengan walikota sebe-lumnya,” ujar Jufri lagi.

Hal yang sama disampaikan Risman Hadi, Ketua FKMP. Ia minta pemerintah segera menindaklanjuti urusan ini sampai tuntas. Sebab  keberadaan kampus SETIA jelas tidak diharapkan oleh warga. Warga menginginkan mereka keluar dari Kam-pung Pulo. Warga tidak menginginkannya sejak berdirinya  hingga sekarang. “Saya pikir pemerintah harus secepatnya menyelesai-kannya,” ujar Risman.

Menurut Risman, tidak ada tawar menawar dengan pihak pemerintah soal keberadaan kampus tersebut.

Menanggapi permintaan warga Kam-pung Pulo itu, Walikota Jakarta Timur, Murdani mengatakan, jika persoalan SETIA ini tidak sesuai peraturan, maka dirinya secara bertahap akan mencoba melakukan pendekatan dan mendorong pihak yayasan untuk merelokasi kampus. “Kami akan panggil pihak yayasan. Kalau itu melanggar aturan, akan kita tindak, seperti misalnya izin bangunan dan lainnya akan kita cek,” ujar Murdani.

Murdani berjanji akan segera meng-ambil keputusan sesuai dengan hasil pertemuan dan ketentuan yang berlaku. Tentu saja, katanya, itu perlu proses. “Kepada pihak kampus kami minta menghentikan dulu kegiatan-kegiatan yang memancing timbulnya bentrok. Ma-sing-masing pihak hendaknya menahan diri,” ujarnya lagi kepada wartawan.

Ketika berita ini ditulis (Senin,28/7) sekitar 1300 mahasiswa telah dievakuasi polisi ke UKI dan kantor PDS. Ketegangan di Kampung Pulo pun mulai mereda. [pd/www.suara-islam.com]

Comments (0)Add Comment

Write comment
smaller | bigger

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 

TERKAIT