|
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakjatuhu Muqadimah Kaum muslimin rahimakumullah, Alhamdulillah atas idzin dan perkenan Allah SWT kita bisa berkumpul di masjid yang mulia ini untuk melaksanakan salah satu tugas kita sebagai hamba Allah yakni menjalankan ibadah sholat Jum'at. Semoga kehadiran kita dengan niatan yang ikhlas dan suci ini diqabul oleh Allah SWT sebagai amal sholih yang diridloi-Nya. Amin!
Kaum muslimin rahimakumullah, Masih dalam suasana tahun baru 1429 Hijriyah ini, khatib ingin menyampaikan ucapan selamat memasuki tahun baru Hijriyah, tahun baru Islam, dengan sepenuh ketaqwaan kepada Allah SWT. Semoga kita bisa mengambil makna Hijrah baginda Rasulullah saw. bersama para sahabatnya dari kota Mekkah ke kota Madinah yang membawa kejayaan bagi Islam dan kaum muslimin. Fakta sejarah menunjukkan bahwa 10 tahun kehidupan kaum muslimin di kota Madinah menghasilkan capaian yang luar biasa, jauh melebihi apa yang mereka capai dalam kehidupan 13 tahun di kota Madinah. Kalau pada periode Mekah, yang masuk Islam hanya dalam bilangan puluhan, maka dalam periode Madinah yang masuk Islam jumlahnya ratusan ribu bahkan jutaan. Kalau pada periode Mekkah, yang masuk Islam hanya dari penduduk kota Mekkah, maka dalam periode Madinah yang masuk Islam dari seluruh jazirah Arab. Kalau pada periode Mekkah Islam hanya merupakan risalah diemban oleh individu dan kelompok dakwah, maka pada periode Madinah Islam diemban sebagai risalah oleh Negara dan sepenuh rakyatnya yang muslim dan hukum-hukumnya (syariat Islam) diterapkan kepada seluruh warga Negara, yang muslim maupun yang non muslim, untuk menjamin kemaslahatan kehidupan mereka. Kaum muslimin rahimakumullah, Untuk mendapakan ibrah yang berharga dari makna hijrah tersebut dan agar kita refleksikan kepada hijrah kita umat Islam hari ini, perlu kita pelajari rahasia-rahasia dari peristiwa hijrah tersebut. Kaum muslimin rahimakumullah, Pasca wafatnya pelindung dakwah Rasul, paman beliau saw. Abu Thalib, . komunikasi dakwah dan politik dengan para pemimpin Quraisy mengalami dead lock. Ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan kaum kafir Quraisy kepada Rasulullah saw. dan kaum muslimin pun meningkat. Dalam situasi dan kondisi seperti itulah beliau saw. berfikir bahwa dakwah harus mendapatkan situasi dan kondisi yang baru yang memberi peluang buat pengembangannya. Rasul pun menghubungi para pemimpin dari suku-suku Arab non Quraisy yang datang pergi haji ke kota Makkah. Beliau saw. mengajak mereka masuk Islam dan melindungi dakwah Islam. Sampailah baginda Rasulullah saw. mendapatkan para pemimpin kaum Aus dan Khazraj yang berkuasa atas kota Yatsrib yang di belakang hari berubah nama menjadi kota Madinah. Singkatnya, para pemimpin Aus dan Khazraj yang telah masuk Islam datang berombongan berjumlah 75 orang. Mereka semua membaiat Rasulullah saw. Sebagai pemimpin dan menyerahkan kekuasaan mereka atas kota Madinah. Kaum Anshar berkata : “Kami membaiatmu wahai Rasulullah saw. Kami adalah generasi perang dan pemilik medannya. Kami mewarisinya dengan penuh kebanggaan”. Terhadap resiko baiat, kaum Anshar berkata : “Sesungguhnya kami akan mengambilnya meski dengan resiko musnahnya harta benda dan terbunuhnya para pemuka”. Para pemuka kaum Anshar itu berkata kepada Rasulullah saw.: “Wahai Rasulullah, apa bagian kami bila kami memenuhi hal itu?”. Rasul menjawab: “Surga”. Maka sejak itulah Rasulullah saw. memerintahkan kaum muslimin secara bergelombang hijrah ke kota Madinah. Meskipun menghadapi ancaman dan teror-teror kaum musyrikin Quraisy yang merasa gelisah dengan hijrahnya kaum muslimin. Namun kaum muslimin secara mantap hijrah ke kota Madinah yang siap menerima mereka untuk membangun kehidupan baru, yakni kehidupan yang dinaungi cahaya risalah Islam, cahaya yang mengusir kegelapan kehidupan jahiliyah. Dan gelombang hijrah itu terus berlangsung hingga hijrahnya baginda Rasulullah saw. bersama Abu Bakar Shiddiq r.a. ke kota Madinah untuk secara riil memimpin kaum muslimin dalam kehidupan Islam di kota itu. Dari uraian fragmen peristiwa baiat para sahabat Anshar kepada Rasulullah saw. dan hijrahnya Rasulullah saw. dan para sahabat muhajirin dari kota Makkah ke kota Madinah, kita mendapatkan beberapa pelajaran sebagai berikut: Pertama, kayakinan jahiliyah dan para pendukung fanatiknya akan senantiasa memerangi Islam dan umat Islam. Berbagai rekayasa akan mereka buat untuk menyudutkan Islam dan para pengembannya yang setia demi menghilangkan eksistensi Islam dan para pejuangnya dari muka bumi. Kedua, Islam sebagai suatu kebenaran yang datang dari Allah akan dijaga oleh Allah SWT dengan menakdirkan sebagian orang-orang yang memiliki kekuatan (Ahlul Quwwah) di muka bumi ini untuk memeluknya dan membelanya dengan segala kekuatan dan keperkasaan yang mereka miliki. Kelompok Ahlul Quwwah yang telah meyakini kebenaran Islam sebagai suatu pandangan dan aturan hidup yang akan menyelamatkan umat manusia itu akan siap mengorbankan harta dan nyawa mereka demi melindungi Islam dan para pengembannya. Ketiga, Islam sebagai pandangan dan aturan kehidupan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada umat manusia melalui baginda Rasulullah saw. akan berlaku secara efektif bila dijalankan dengan suatu otoritas yang mengikat umat manusia. Rasulullah saw. yang mendapatkan wahyu Allah itu tidak bisa menerapkan aturan Allah SWT tentang kehidupan itu di kota Mekkah lantaran kekuasaan kota Mekkah, yakni Abu Jahal dan kawan-kawan tidak menyerahkan kekuasaan tersebut kepada beliau saw. sekalipun beliau saw. sudah menawarkan kepada mereka bahwa mereka bakal berkuasa atas bangsa Arab dan Ajam (Non Arab) bila mereka mengimani risalah yang beliau saw. bawa. Rasulullah saw. baru bisa menerapkan pandangan dan aturan hidup Islam yang beliau terima dari Allah SWT kepada umat manusia secara praktis setelah beliau berhijrah ke kota Madinah dan mendapatkan otoritas atas seluruh penduduk kota Madinah secara riil. Keempat, makna hijrah baginda Rasulullah saw. dan para sahabat Muhajirin ke kota Madinah, adalah perubahan situasi kondisi dimana Islam yang tadinya hanya suatu ajaran yang diyakini oleh individu muslim yang memeluknya dan mengemban dakwah kepada manusia menjadi ajaran yang diyakini oleh Negara dan masyarakatnya. Dengan lembaga Negara, kehidupan Islam yang bersih dan utuh sesuai ajarannya yang asli bisa dijaga. Sebab tugas kepala Negara dalam pandangan Islam adalah menjaga dan melindungi ajaran Islam dan kaum muslimin. Kata Nabi saw. : “Imam itu laksana perisai”. Oleh karena itu, dalam meneladani hijrahnya Rasulullah SAW. dan para sahabat pada kaum muslimin hari ini, kaum muslimin perlu menilai secara kritis kondisinya hari ini. Adakah mereka sudah hidup dalam kehidupan Islam yang kaffah? Dan adakah Negara yang mereka miliki telah menerapkan syariat Allah secara kaffah dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia sebagaimana daulah yang dipimpin oleh baginda Rasul di Madinah? Bila belum, maka itulah focus yang dituju oleh kaum muslimin hari ini. Bila umat Islam dan Negaranya telah menjalankan kehidupan Islam secara kaffah dalam bidang ibadah, muamalah ekonomi dan social, serta politik, hukum, dan pemerintahan, maupun pertahanan dan keamanannya, maka ajaran Islam yang rahmatan lil alamin akan terwujud secara nyata. Bukan hanya orang Islam yang mendapatkan rahmat, tapi juga orang-orang non muslim (ahlu dzimmah) yang hidup sebagai warga Negara yang menjalankan aturan Islam tersebut mendapatkan kerahmatannya. Allah SWT berfirman: Wamaa arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamiin. Penutup Khutbah/Do’a
|