Depan arrow Tabloid arrow Pemimpin yang Kredibel
Pemimpin yang Kredibel PDF Cetak E-mail
Tuesday, 19 August 2008

Tabloid SUARA ISLAM EDISI 50, Tanggal 15 Agustus - 4 September 2008 M/13 Sya’ban - 4 Ramadhan 1429 H

Seorang sahabat Nabi SAW senior bernama Abu Dzar Al Ghifari r.a. suatu hari pernah berkata kepada Rasulullah SAW.: “ berilah aku jabatan”. 

Rasulullah SAW. menepuk pundak Abu Dzar lalu bersabda: “Wahai Abu Dzar,. sesungguhnya anda adalah orang yang lemah dan sesungguhnya jabatan itu adalah amanat dan sesungguhnya pada hari kiamat akan menjadi sesalan dan kehinaan. Kecuali orang yang meng-ambil jabatan dengan hak dan melak-sanakan yang menjadi kewajibannya dalam jabatannya” (HR. Muslim).

Dalam hadits di atas Rasulullah SAW tidak memberikan jabatan kepada Abu Dzar Al Gihfari r.a. dengan menyebut bahwa Abu Dzar adalah orang yang le-mah. Jelas di sini bahwa sifat lemah adalah faktor negatif bagi seorang pemimpin. Oleh karena itu, Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitab Nizhamul Hukm fil Islam menulis bahwa salah satu syarat yang harus dimiliki oleh seorang khalifah sebagai pemimpin seluruh umat Islam adalah memiliki kemampuan (qudrah). Tentunya agar bisa mengemban segala tugas dan kewa-jiban yang ada dalam amanat jabatan tersebut.


Kekuatan yang bagaimana yang harus dimiliki?

Allah SWT memberikan pelajaran kepada kita bahwa Thalut yang Allah pilih menjadi Raja Bani Israil adalah orang yang diberi kelebihan ilmu dan fisik, bukan kelebihan harta kekayaan.  Dia SWT berfirman:

Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah Telah mengangkat Thalut menjadi rajamu." mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah Telah memilih rajamu dan menganuge-rahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan pemerin-tahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah 247).

Jelas pemimpin harus memiliki tubuh yang sehat dan kuat, tidak pernah atau jarang sekali sakit.  Sebab pemimpin yang sering sakit berarti akan sering udzur dari kewajibannya mengurus urusan umat.  Sebab mengurus urusan umat perlu mem-berikan perhatian dan pengorbanan,  sedangkan orang sakit perlu diperhatikan dan diurus.     

Ilmu yang luas juga menjadi keha-rusan bagi seorang pemimpin sehingga dia memiliki wawasan luas.  Dan dengan wawasan ilmu yang luas pemimpin akan mengetahui jalan-jalan keluar bagi upaya  menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi rakyatnya.  

Dalam kitab Ar Rasul Al Qaaid, Mahmud Syeit Khatthab menulis bahwa salah satu faktor penyebab keberhasilan pasukan Islam dalam berbagai pertem-puran yang dipimpin oleh Rasulullah SAW, adalah kepemimpinan beliau SAW, yang brilian sebagai seorang panglima.  Karakteristik kepemimpinan panglima  secara globa adalah: (1) Mampu membe-rikan keputusan secara cepat dan benar; (2) Memiliki keberanian dan kemau-an/tekad yang mantap; (3) Memiliki kesiapan memikul tanggung jawab tanpa keraguan; (4) Mengetahui prinsip-prinsip perang; (5) memiliki emosi yang stabil, tidak gampang berubah dalam dua ke-adaan, menang atau kalah; (6) Menge-tahui watak dan tabiat serta kecen-derungan dan kemampuan bawahan; (7) Saling menaruh kepercayaan antara dirinya dan anggota pasukannya; (8) Memiliki kepribadian yang kuat dan berpengaruh; dan ada yang menambah-kan sifat (9) bersih dan mulia masa lalunya.  

Agar bisa memberikan keputusan yang tepat dan benar, maka seorang panglima harus memiliki kemampuan daya fikir yang kuat dan menguasai berbagai informasi  tentang musuh dan medan. Selama 13 tahun di Mekkah, Rasul yang membawa Risalah siang dan malam dan membacakan Al Quran kepada masyarakat Mekkah adalah pemimpin yang telah terasah dalam berbagai pergulatan pemikiran (as shira' al fikri) sehingga dengan bekal wahyu dan sifat fathonah beliau memiliki kemampuan daya fikir yang tinggi.  Selain itu berbagai peperangan kecil, patroli, dan berbagai pengintaian, serta musyawarah yang beliau lakukan dengan para ahli startegi dan taktik perang sebelum perang Badar  memberikan syarat yang cukup bagi beliau untuk cepat mengambil keputusan dengan benar sehingga bisa memenang-kan Perang Badar Kubro. Berkaitan dengan hal ini, Syaikh Taqiyuddin An Nabhani mengatakan dalam suatu kitab, bahwa agar bisa membawa umat dan jamaahnya menjadi yang terdepan, pemimpin itu harus memiliki kepribadian kepemimpinan yang secara mendasar harus cerdas (qiyadah dzakiyah), juga perlu punya intuisi (qiyadah mulhamah), dan last but not least harus memiliki kreativitas (qiyadah mubdi'ah).

Selain hal-hal yang menjadi syarat kredibilitas kepemimpinan secara duni-awi di atas, tentu kita butuh pemimpin yang dicintai oleh Allah.  Yakni pemimpin yang mukmin dan  kuat. Sebab Rasulullah SAW Bersabda: ”Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah”. Dan tentu saja pemimpin yang betul-betul melaksanakan kewajibannya dengan dasar ketaqwaan kepada Allah SWT.

Sebab pemimpin yang taqwa memiliki kepekaan yang tinggi terhadap nasib umat. Umar bin Khaththab contoh figur pemimpin yang kuat dan dicintai Allah.  Beliau memiliki badan yang besar, sehat, dan kuat.  Beliau sangat perhatian  kepada nasib rakyat. Ideologi Islam membinanya menjadi pemimpin yang kredibel.  Menang secara duniawi, beruntung secara ukhrawi.  Di bawah kepemimpinan beliau, umat Islam berhasil menaklukkan adidaya Persia dan memukul mundur adidaya Rumawi dari berbagai wilayah yang mereka kuasai hingga lari ke Konstantinopel.  Dalam situasi kemenangan dan melimpah-ruahnya harta benda hasil rampasan perang, beliau tetap sebagai hamba Allah yang sederhana.  Kapankah kepemimpinan Sang Khalifah Al Faruq ini kembali? Wallahua'lam! [muhammad al khaththath/www.suara-islam.com]

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 

TERKAIT


Warning: fopen(/home/suaris/public_html/components/com_sef/cache/shCacheContent.php) [function.fopen]: failed to open stream: Permission denied in /home/suaris/public_html/components/com_sef/shCache.php on line 108