Depan arrow Tabloid arrow Ahmadiyah Tak Goyah
Ahmadiyah Tak Goyah PDF Cetak E-mail
Tuesday, 19 August 2008

Tabloid SUARA ISLAM EDISI 50, Tanggal 15 Agustus - 4 September 2008 M/13 Sya’ban - 4 Ramadhan 1429 H

Sudah banyak diduga, SKB tidak memberikan efek apa-apa. Jemaat Ahmadiyah tetap eksis melaksanakan aktivitasnya. Lihat saja di Madiun, Jawa Timur. Malah setelah SKB, aktivitas anggotanya meningkat. Ini ditunjukkan dengan jumlah jamaah di masjid Baitur Rohman (masjid milik Ahmadiyah) Madiun yang justru bertambah. Namun, bukan berarti pengikutnya bertambah, tetapi anggota yang biasanya tak berjamaah di masjid, kini hadir lebih rajin, di antaranya bertujuan mencari informasi terbaru terkait kelangsungan Ahmadiyah.


Masjid Baitur Rohman, pada sebuah gang  di Jl MT Haryono 74 B kota Madiun, yang sekaligus menjadi kantor pengurus Ahmadiyah cabang Madiun (yang meliputi Madiun, Ponorogo, Magetan dan Ngawi), hingga kini tetap menjadi pusat kegiatan disamping juga tetap menggelar shalat jamaah.

Pada saat shalat dzuhur, masjid berkapasitas sekitar 70 orang itu terisi tiga orang jamaah termasuk imam, sedangkan shalat asar sebanyak empat orang. Untuk shalat duhur dan asar jumlah jamaah rata-rata memang sebanyak itu (tiga hingga empat orang). Sedangkan jamaah shalat maghrib yang biasanya hanya 10 orang bertambah menjadi 15 orang.

Menurut Sufni Ahmad, seorang Mubaligh Ahmadiyah Madiun, makmum shalat Maghrib sebelum ini rata-rata sepuluh orang. Setelah terbit SKB, justru bertambah menjadi rata-rata 15 orang. “Mereka semula hanya ingin mencari informasi tentang SKB tersebut. Kini, mereka justru seperti merapatkan barisan, agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang menyalahi SKB tersebut,” ungkapnya.

Dari pengamatan Suara Islam, gang menuju masjid dan kantor Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Cabang Madiun ini, di mulut gang terdapat papan nama. Bagian atas papan dihiasi ornamen berbentuk kubah memuat tulisan Baitur Rohman. Pada papan memuat kalimat Tauhid yang mengakui Muhammad sebagai Rasul Allah; La Ila ha ilallah Muhammadar Rasulullah. Juga memuat tanda terdaftar pada Kementerian Kehakiman RI Nomor JA. 5/23/B tertanggal 13 Maret 1953.

Menurut keterangan, Cabang Ahmadiyah yang berkantor di Jl MT. Haryono 74B Madiun tersebut beraliran Ahmadiyah Qadian. Sementara di Madiun juga pernah terdapat Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) yang beraliran Ahmadiyah Lahore. GAI berkantor di Jl. Kenari, namun sejak lama sudah tidak tampak memasang papan nama, setidaknya sejak Ny Koesno meninggal dunia di akhir tahun 1980 an. Ny. Koesno, tercatat juga aktif memimpin perkumpulan janda yang berhimpun dalam wadah Ikatan Janda Madiun (IJM) yang juga sudah lama tidak lagi terdengar kiprahnya.

Kendati sejak lama tanpa papan nama, namun di bagian samping-belakang rumah yang pernah menjadi kantor ini, terdapat sebuah masjid cukup besar. Kader-kader GAI tetap beraktifitas. Bahkan kalangan pemudanya, dikenal dekat dengan aktifitas sebuah partai politik Islam, dan memanfaatkan masjid ini untuk berhimpun.  

Sufni membenarkan. Kedua Ahmadiyah di Madiun hingga saat ini terus  mengikuti perkembangan informasi dari pusat. Namun, ditegaskan, sejak terbitnya SKB tentang larangan bagi Ahmadiyah untuk melakukan dakwah keluar (kepada orang di luar Ahmadiyah, Red) tersebut, dapat dipatuhi. Pengurus cabang Jemaat Ahmadiyah Indonesia di  Madiun tak akan melakukan siar ke luar. “Namun, untuk kegiatan internal seperti beribadah dan pengajian kepada para anggota, tetap dilaksanakan. Sedang  tabligh maupun dakwah personal ke luar, tidak lagi dilakukan,” begitu pengakuan Sufni yang sudah 4 tahun bertugas di cabang Madiun. Tapi siapa bisa memastikan itu tak terjadi? [muhammad halwan/www.suara-islam.com]

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 

TERKAIT


Warning: fopen(/home/suaris/public_html/components/com_sef/cache/shCacheContent.php) [function.fopen]: failed to open stream: Permission denied in /home/suaris/public_html/components/com_sef/shCache.php on line 108