Depan arrow Tabloid arrow Waspada, Perang Salib Masih Berlanjut
Waspada, Perang Salib Masih Berlanjut PDF Cetak E-mail
Tuesday, 19 August 2008

Tabloid SUARA ISLAM EDISI 50, Tanggal 15 Agustus - 4 September 2008 M/13 Sya’ban - 4 Ramadhan 1429 H

Perang melawan terorisme yang disebut Bush sebagai Perang Salib masih tetap menjadi kebijakan politik luar negeri AS ke depan. Hal itu tampak jelas dalam strategi pertahanan baru yang dirancang Departemen Per-tahanan AS tahun 2008. Dalam strategi baru itu ditekankan, selain melakukan operasi-operasi militer, juga perlu dilakukan inisiatif-inisiatif dengan meng-gunakan "kekuatan yang lebih lunak" untuk meredam militansi kalangan Islamis. Inisiatif-inisiatif itu bisa di-lakukan di sektor ekonomi, politik dan sosial.

Hampir bersamaan dengan dikeluar-kannya strategi Pertahanan 2008 AS, di sejumlah tempat di dunia terjadi ledakan bom. Belum lama Kedubes India dan KBRI Kabul lantak terkena bom bunuh diri di Afghanistan. Namun aksi serupa terjadi lagi di sebuah pasar tradisional. 17 Warga sipil tewas, kebanyakan anak-anak. "17 warga sipil dan 4 polisi tewas akibat serangan bom. 37 Orang lain dan 5 polisi luka. Kebanyakan korban adalah anak-anak," kata Kepala Polisi Urugzan, Juma Khan Himat seperti dilansir Reuters, Minggu (13/7/2008).

Dari Turki, BBC (9/07/2008) mela-porkan terjadi serangan dekat konsulat AS di Turki. Tiga polisi dan tiga orang ber-senjata tewas dalam satu serangan di dekat konsulat Amerika Serikat di kota Istanbul, Turki. Duta besar AS di Turki mengutuk serangan ini dan menyebutnya sebagai "tindakan teroris" yang ditujukan kepada AS. Para pegawai konsulat dilaporkan tidak ada yang cidera. Jati diri para penyerang masih samar, tapi media setempat mengisyaratkan mereka mungkin kelompok yang memiliki kaitan dengan Al Qaeda.

Sebelumnya di Indonesia pasukan anti teror Densus 88 menangkap sejumlah orang yang dituduh teroris di Palembang. Sejumlah barang bukti bahan peledak yang disebut-sebut lebih dahsyat dari bom Bali pun disita. Masyarakat Palembang-pun geger. Selama ini tidak ada tanda-tanda di Palembang ada teroris. Mereka yang ditangkapun dikenal aktivis Islam yang bergabung dalam gerakan anti permurtadan yang mulai marak di Palem-bang. Muncul sejumlah tanda tanya dibalik penangkapan ini.

Event internasional Olimpiade di China pun tak diurung terkena isu teror-isme. Sedikitnya 16 orang tewas dan 16 lainnya mengalami luka-luka akibat se-rangan  bom oleh sekelompok bersenjata pada Selasa (4/8) di Propinsi Xinjiang, Barat Laut China yang berpenduduk mayoritas muslim. Koresponden Al Ja-zeera di Peking, Izzat Sahrur mengatakan ledakan bersumber dari lemparan sebuah bom dari dua mobil yang melewati sebuah pos keamanan di perbatasan.

Sebelumnya, menurut sumber terse-but, sebuah rekaman suara yang beredar di internet dan dituduhkan kepada Kelompok Front Islam untuk Pembebas-an Turkistan Timur mengancam akan melakukan serangan bom ketika olim-piade berlangsung. Rekaman suara itu dipublikasikan bersamaan dengan per-siapan menjelang pelaksanaan petas olahraga dunia di Beijing pada 8 Agustus 2008

Di lain pihak, aksi peledakan bom di Xinjiang tampaknya akan semakin memojokkan citra umat Islam di daerah tersebut. Aksi bom ini  kemungkinan akan dimanfaatkan oleh aparat keamanan China untuk melakukan tindakan represif dan tekanan-tekanan terhadap kelom-pok-kelompok Islam, khususnya men-jelang pelaksanaan Olimpiade Beijing.

Propaganda untuk memblow up  an-caman terhadap terorisme belakang memang semakin menguat bulan-bulan ini . Tampak dari pengadilan militer AS di Guantanamo memvonis Salim Hamdan -mantan sopir Usamah bin Ladin-hukuman lima setengah tahun penjara atas tuduhan mendukung terorisme. Sebelumnya, Hamdan meminta keri-nganan hukuman setelah dituntut dengan hukuman 30 tahun penjara.

Pakar Hubungan Internasional dari Bandung, Budi Mulyana, melihat bukan tidak mungkin peledakan secara bersama  itu merupakan pengkondisian untuk menunjukkan terorisme memang men-jadi ancaman dunia. Budi melihat unsur propaganda sangat kental di balik aksi pemboman itu. Budi menyoroti selama ini informasi tentang terorisme oleh media massa bersifat satu arah yakni media massa Barat yang sering bias, tanpa ada second opinion .

Tidak hanya itu, lanjut Budi Mulyana, sumber informasi sebagian besar adalah pemerintah AS dan sekutunya. "Sumber informasi yang tidak seimbang adalah ciri khas sebuah propaganda, isu terorisme tampaknya juga seperti itu, AS lah yang paling diuntungkan dengan isu ini," jelas Budi Mulyana

Masih menurut Budi Mulyana Ameri-ka Serikat memang sangat berkepen-tingan dengan isu perang melawan terorisme. Budi melihat isu terorisme dijadikan alat oleh AS untuk melakukan intervensi ke berbagai negara, menekan negara yang tidak sejalan dengan kepentingan AS, termasuk alat legitimasi kepemimpinan internasional AS di dunia atas nama perang melawan terorisme. " AS pastilah membutuhkan legitimasi dalam setiap intervensinya di dunia, kalau dalam perang dingin, membendung komunisme dijadikan alat, pasca perang dinging perang melawan terorisme dijadikan legitimasi," papar Budi Mulyana.


Perluasan Perang Ideologi

Yang menarik dalam strategi terbaru 2008 departemen pertahanan AS meng-ingatkan tentang pentingnya perluasan perang bukan hanya militer tapi juga ideologi Islam yang oleh Pentagon disebut ideologi ekstrimisme. Dalam strategi baru itu ditekankan, selain melakukan operasi-operasi militer, juga perlu dilakukan inisiatif-inisiatif dengan menggunakan "kekuatan yang lebih lunak" untuk mere-dam militansi kalangan Islamis. Inisiatif-inisiatif itu bisa dilakukan di sektor ekonomi, politik dan sosial.

Strategi baru yang dituangkan Gates dalam dokumen sepanjang 23 halaman, tidak jauh berbeda dengan pendahulunya, mantan menteri pertahanan Donald Rumsfeld. Gates berpandangan adanya hubungan yang paralel antara teologi Islam yang keras dan ideologi-ideologi abad ke-20 seperti fasisme dan komunis-me."Untuk masa depan yang bisa diduga, memenangkan perang panjang melawan gerakan ekstrimis yang mengedepankan kekerasan akan menjadi tujuan sentral dari AS, " demikian bagian isi dari strategi pertahanan AS untuk tahun 2008.

Pentingnya perang ideologi ini sudah dinyatakan pada tahun 2002 oleh Sek-retaris Menteri Pertahanan AS saat itu Paul Wolfowitz. “Saat ini, kita sedang bertempur dalam perang melawan teror perang yang akan kita menangkan. Perang yang lebih besar yang kita hadapi adalah perang pemikiran jelas suatu tantangan, tetapi sesuatu yang juga harus kita menangkan," ujarnya.  

Pada tahun 2004 Penasihat Keaman-an Nasional AS saat itu , Condoleezza Rice juga mengatakan: “Kemenangan sebenar-nya tidak akan muncul hanya karena teroris dikalahkan dengan kekerasan, tetapi karena ideologi kematian dan kebencian dikalahkan." Senada dengan itu tahun 2007 sebuah laporan dari RAND institute menyatakan: “Perjuangan yang terjadi di hampir semua Negara Muslim pada esensinya adalah sebuah perang ide. Hasil peperangan ini akan menentukan masa depan Dunia Islam.”

Ajaran Islam yang sejati seperti syariah Islam, jihad, khilafah menjadi sasaran penghancuran perang pemikiran (ideolog) ini. Wakil Menteri Pertahanan urusan intelijen Letnan Jenderal William Boykin pernah berujar "the U.S. battle with Islamic terrorists as a clash with the devil (bahwa perang melawan teroris Islam sama dengan perang melawan setan) ."(VOA,22 oktober 2003)

Sejak awal perang, Bush telah meng-isyaratkan ini dengan menyebut perang melawan terorisme adalah Crusade (Perang Salib). Perang ini pun menjadi-kan Islam sebagai monster dan iblis. Tampak dari istilah-istilah berkonotasi buruk yang disandingkan dengan Islam oleh Bush untuk menamakan musuhnya seperti istilah 'Islam fasis', 'Islam radikal', atau 'Islam militan'.

Bush dan sekutunya pun menjadikan konsepsi Islam seperti syariah, jihad dan Khilafah sebagai musuh dalam perang ini. Jihad yang demikian mulia dalam pan-dangan Islam pun dikonotasikan jelek dan merusak. Bush dan sekutunya juga menuduh teroris kaum Muslim yang bercita-cita menerapkan syariah Islam dan Khilafah.

Rumsfeld pun mengatakan hal yang sama dengan mengatakan di Irak akan berdiri Khilafah Islam kalau tentara AS ditarik dari sana (Washington Post, 5/12/2005). Blair sekutu dekat Bush juga lebih jelas lagi dengan menyebut empat ciri ideologi setan para teroris: anti Israel; anti nilai-nilai Barat; ingin menerapkan syariah Islam, dan mempersatukan umat Islam dengan Khilafah (BBCNews, 16/7/2005).

Apalagi sebagian besar nama orang dan data organisasi yang dianggap teroris adalah orang Islam dan organisasi dengan nama Islam. Tak pelak, korban yang paling besar justru adalah umat Islam. Perang Irak dan Afganistan telah menelan korban ratusan ribu kaum Muslim. Bandingkan dengan korban Tragedi WTC yang berjumlah 3000 orang.

Adalah semakin jelas, perang melawan terorisme bukan perang bersifat universal untuk kepentingan dunia, perang ini tidak lain adalah perang ala AS untuk kepen-tingan negara imperialis itu. Dan yang menjadi sasarannya adalah umat Islam dan ajaran Islam. Dalam front kalau militer yang paling banyak korbannya adalah umat Islam. Sementara dalam front pemikiran (ideologi) yang menjadi sasaran adalah ajaran Islam yang kaffah dan ideologis . Karena itu, tidak ada jalan lain untuk membendung perang ini kecuali dengan Khilafah Islam. Negara super power inilah yang akan mampu secara berimbang  menghadapi negara arogan seperti AS. [farid/www.suara-islam.com]

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 

TERKAIT


Warning: fopen(/home/suaris/public_html/components/com_sef/cache/shCacheContent.php) [function.fopen]: failed to open stream: Permission denied in /home/suaris/public_html/components/com_sef/shCache.php on line 108