Pendidikan

Alternatif Sekolah

Minggu, 12/05/2013 18:10:14 | Shodiq Ramadhan
Kami berpikir untuk melakukan homeschooling (HS) bagi anak-anak. Namun, keinginan untuk (HS) terkendala dua faktor. Pertama, ber-HS berarti saya harus menjadi full-stay-home mom sedangkan penghasilan suami masih belum menentu. Kedua, saya tinggal berdekatan dengan orang tua saya yang menganggap HS bukanlah suatu pilihan alternatif pendidikan. Menurut Bunda, apa yang harus saya lakukan?

LBGT

Selasa, 23/04/2013 16:25:28 | Shodiq Ramadhan
Apa yang harus kita lakukan? Kita harus berani menentang kemaksiatan ini. Kita harus menolak masuknya buku-buku pro-LGBT di perpus sekolah anak-anak. Kita harus berani menasehati pelakunya.

Belajar versus Tes Calistung

Senin, 07/04/2013 23:19:24 | Shodiq Ramadhan
Anak-anak Amerika sudah mulai belajar calistung sejak dini, baik via playgroup maupun belajar di rumah. Namun, mereka tidak mendapatkan tes.

Kurikulum 2013 Masih Sekular [Bag-2]

Kamis, 14/03/2013 12:00:51 | Shodiq Ramadhan
Beberapa contoh yang telah disebutkan pada edisi lalu menunjukkan bahwa integrasi nilai dalam Kurikulum 2013 justru salah kaprah

Kurikulum 2013 Masih Sekular [Bag-1]

Kamis, 28/02/2013 18:09:37 | Shodiq Ramadhan
Kurikulum 2013 merupakan topik yang sedang hangat. Pembahasannya memerlukan sebuah buku khusus karena banyaknya aspek yang perlu dibincangkan.

Anak SD Menonton Video Porno

Kamis, 28/02/2013 17:58:22 | Shodiq Ramadhan
Pornografi merupakan problem kita bersama. Arus teknologi dan globalisasi tanpa penjagaan dari negara membuka akses informasi secara liberal (bebas), termasuk konten pornografi.

Tiga Metode Sahih dalam Studi Islam

Sabtu, 02/06/2012 23:11:53 | Shodiq Ramadhan
Saat ini, studi Islam yang dilakukan di berbagai universitas, termasuk universitas Islam, kebanyakan tidak lebih dari teori. Belajar tentang Islam tak ubahnya seperti mempelajari ilmu lain, seperti Fisika, Kimia, Matematika, Geografi atau Sejarah, yang hanya bersifat pengetahuan belaka. Akhirnya mempelajari Islam hanya untuk memenuhi dahaga instelektualitas semata.

Integrasi Ilmu dalam Pendidikan

, 16/09/2011 09:36:14 | Shodiq Ramadhan

Erma Pawitasari, M.Ed
Kandidat Doktor Universitas Ibnu Khaldun Bogor
Direktur Eksekutif Andalusia Education Center & Management Services (AIEMS)


Assalamu’alaikum Bu Erma,
Kita melihat kenyataan di lapangan saat ini umat Islam terbelakang di bidang sains dan teknologi atau ilmu-ilmu yang dikembangkan Dunia Barat. Namun demikian umat Islam tidak ingin kehilangan identitasnya sebagai seorang muslim yang taat pada ajaran agama dengan mengadopsi dan mengadaptasi ilmu-ilmu pengetahuan umum yang berasal dari Barat. Beberapa institusi pendidikan menerapkan integrasi ilmu dalam dunia pendidikan. Bagaimana sebenarnya inti dari ide integrasi ilmu tersebut?

Handri, Kuningan

Wa’alaykum salam, Pak Handri,

Ide pengintegrasian ilmu dikembangkan pertama kali oleh Bapak Muhammad Natsir. Beliau melihat bahwa mereka yang hanya mempelajari ilmu agama dan yang hanya mempelajari ilmu dunia, sama-sama jauh dari agamanya. Sebab, di dalam Al Quran surat al-Qashash ayat 77 Allah memerintahkan kita agar hidup ”seimbang”, mengejar akhirat tapi dunia tidak boleh lupa.

Kedua jenis pendidikan ini tidak boleh dipisahkan (dikotomi), dalam arti saling meniadakan. Tapi keduanya saling mengisi agar umat dalam memperoleh kejayaan dunia akhirat, sebagaimana pernah dicapai oleh kaum muslimin terdahulu. Pemikiran tentang pendidikan harus integral, tidak boleh memisahkan ilmu agama dan ilmu dunia, ilmu agama dan ilmu umum. Keduanya satu kesatuan. Memisahkan dan mempertentangkan salah satunya akan membuat umat tidak bisa berjaya, terutama di kancah pergulatan kehidupan dunia ini.

Untuk mewujudkan visi misi pendidikannya, Natsir mendirikan lembaga pendidikan di lingkungan pergerakan Persatuan Islam di Bandung yang diberi nama “Pendidikan Islam” (Pendis) pada tahun 1927. Ini merupakan Pendidikan dasar formal pertama yang ada di lingkungan keluarga besar Persatuan Islam. Pendidikan Islam (Pendis) bermula dari cita-cita dan idealisme Natsir mengenai pendidikan Islam dan umat Islam setelah melihat kenyataan yang terjadi di lapangan saat itu.

Tahun 1981, setelah konferensi Pendidikan sedunia di Mekkah pada tahun 1977, Ismail Raji Al-Faruqi mencetuskan ide Islamisasi Ilmu pengetahuan dengan cara integrasi ilmu. Ide integrasi ilmu Al-Faruqi didefinisikan sebagai usaha yaitu memberikan definisi baru, mengatur data-data, memikirkan lagi jalan pemikiran dan menghubungkan data-data, mengevaluasi kembali kesimpulan-kesimpulan, memproyeksikan kembali tujuan-tujuan –dan melakukan semua itu sedemikian rupa sehingga disiplin-disiplin itu memperkaya wawasan Islam dan bermanfaat bagi cita-cita Islam.

Dalam menjalankan proses Islamisasi pengetahuan ini Al-Faruqi merumuskan

Ciri-ciri Sekolah Bagus

, 24/08/2011 13:40:57 | Shodiq Ramadhan

Erma Pawitasari, M.Ed
Kandidat Doktor Universitas Ibnu Khaldun Bogor
Direktur Eksekutif Andalusia Education Center & Management Services (AIEMS)


Assalamu ’alaikum Bu Erma,
Setiap tahun ajaran baru akan dimulai saya melihat beberapa orang tua sibuk untuk mencarikan sekolah anaknya. Mereka berharap anaknya bisa masuk ke sekolah yang bagus. Mereka pun bertanya-tanya kepada rekan, saudara atau pakar yang mengetahui mutu sekolah-sekolah mana sekolah yang bagus itu. Timbul pertanyaan saya, seperti apakah sekolah yang bagus itu paling tidak di mata para pakar pendidkan? Atau dengan kata lain, apa ciri-ciri sekolah yang bagus itu? Terima kasih atas jawabannya.

M. Abu Fathan, Bekasi

Wa’alaikum salam Pak Abu,
Sekolah yang bagus adalah sekolah yang mampu mewujudkan tujuan sekolah tersebut, yang biasanya sejalan dengan maksud dan tujuan masyarakat. Dari masa ke masa sekolah menyesuaikan diri dengan apa yang diinginkan masyarakat pada umumnya. Sekolah yang bagus periode sekitar tahun 1990-an untuk tingkat SMA adalah SMA yang menjamin siswanya lulus SIPENMARU (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru) atau UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) atau SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) jika mungkin perguruan tinggi yang bergengsi. Jadi ukuran yang digunakan waktu itu adalah mutu pengetahuan khususnya MIPA, IPS dan Bahasa Inggris.

Sejak tahun 1990-an perkembangan kondisi pergaulan remaja mengalami perubahan. Waktu itu banyak terjadi kenakalan remaja yang menjurus pada kriminalitas. Paling tidak banyak terjadi tawuran, mabuk-mabukan dan seks bebas. Kenakalan remaja itu menyebabkan perubahan kriteria
sekolah yang baik yang digunakan oleh orang tua murid. Dengan kondisi pergaulan remaja yang cukup membahayakan tersebut orang tua lebih memilih sekolah yang dapat menjamin kelakukan baik anaknya.

Indikator sekolah bagus pun dari waktu ke waktu berubah. Ketika masa penjajahan Belanda, sekolah bagus menurut kaum pribumi pada waktu itu adalah sekolah bergengsi yang dibentuk oleh pemerintah kolonial Belanda (ELS). Ada sekolah untuk anak-anak pribumi berbahasa Belanda, tapi khusus bagi pegawai-pegawai tinggi seperti demang, wedana, dan sebagainya, yaitu HIS, MULO, dan AMS. Sedangkan sekolah yang dianggap kurang bermutu waktu itu adalah sekolah yang diperuntukkan kaum pribumi secara umum yang di Jawa biasa disebut dengan Sekolah Ongko Loro (angka dua).

Pada jaman kemerdekaan berbeda lagi. Undang-undang pendidikan yang lahir pada waktu itu (UU tahun 1947, 1950, dan 1954) fungsi dan tujuannya bernuansa persatuan bangsa. Undang-undang pendidikan selanjutnya yaitu tahun 1967 (Tap MPR) bernuansa membendung ideologi komunis. Sedangkan dua Undang-undang pendidikan terakhir, yaitu No. 2/1989 dan No. 20/2003 fungsi dan tujuannya bernuansa sains dan teknologi.

Fungsi dan tujuan pendidikan sebagai indikator sekolah bagus yang diamanahkan undang-undang kepada lembaga pendidikan dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 disebutkan fungsi pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Sedangkan tujuannya adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Itulah indikator yang paling sederhana untuk menilai standar sekolah bagus di negara kita.

Glasser, dalam bukunya yang kedua, The Quality School Teacher memberi pesan kepada kita bahwa sedikitnya ada enam indikator yang harus dipenuhi sebuah sekolah agar menjadi sekolah berkualitas. Keenam indikator tersebut adalah:
1.

Merancang BimBel SD

, 09/08/2011 05:45:53 | Shodiq Ramadhan

altErma Pawitasari, M.Ed
Kandidat Doktor Universitas Ibnu Khaldun Bogor
Direktur Eksekutif Andalusia Education Center & Management Services (AIEMS)

Assalamu'alaikum wr wb. Salam ukhuwah, Bu Erma. Nama saya Bima. Saya sedang merencanakan suatu bimbingan belajar untuk SD di sekitar lingkungan saya. Mohon sarannya. Terima kasih ya, Bu.

Bima
HP. +62815953****



Wa’alaykum salam wr wb,

Bapak Bima yang dirahmati Allah. Semoga niat Bapak untuk mendirikan bimbingan belajar ini mendapatkan keridloan Allah SWT.

Kita perlu sama-sama mengingat bahwa apa-apa yang hendak kita kerjakan sesungguhnya adalah upaya untuk memperbanyak amal ibadah kepada Allah. Demikian pula dalam hal bimbingan belajar ini. Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni:

1.

Materi Pendidikan Dini

, 26/07/2011 12:00:14 | Shodiq Ramadhan

altErma Pawitasari, M.Ed
Kandidat Doktor Universitas Ibnu Khaldun Bogor
Direktur Eksekutif Andalusia Education Center & Management Services (AIEMS)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Semoga Ibu selalu dalam lindungan Allah SWT. Amiin. Bu, saya baru mempunyai anak usia 15 bln. Materi apa saja yang kiranya bisa saya berikan pada usia tersebut? Jazakillahu khairan katsiraa.

Umi Rini, Solo
08564230****


Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh

Umi Rini yang dirahmati Allah, terima kasih atas pertanyaannya. Semoga Allah memudahkan kita dalam membimbing anak-anak kita menjadi hamba-hamba yang diridloiNya. Amiin.

Pada dasarnya materi pendidikan dini (pra-sekolah) memiliki konsentrasi yang sama, yakni pembentukan akhlaqul karimah. Akhlaq adalah sikap hidup dan pola berpikir, sehingga akhlaq tidak dibatasi hanya pada sopan santun, melainkan juga meliputi kebersihan, kemampuan berkomunikasi dengan kosakata yang baik dan cara berpikir yang benar. Pendidikan dini tidak berlangsung pada jam-jam tertentu, melainkan meliputi seluruh masa. Menurut hasil penelitian, anak mendapatkan ilmu kebanyakan melalui interaksi sosial dengan anggota keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Pada usia ini pulalah kita membina minat anak karena minat tidak muncul dari internal anak, melainkan dari hasil partisipasi sosial masyarakat dan pengalaman hidupnya.

Secara lebih teknis, fase ini terbagi dalam 2 kelompok umur, yakni 0-2 tahun dan 2-6 tahun. Insya Allah saya jabarkan keduanya, agar Bunda memiliki persiapan yang lebih baik menjelang pengasuhan anak usia 2-6 tahun.

Usia 0-2 Tahun

Guru Terlibat Kecurangan UN

, 05/07/2011 12:07:03 | Shodiq Ramadhan

altErma Pawitasari, M.Ed
Kandidat Doktor Universitas Ibnu Khaldun Bogor
Direktur Eksekutif Andalusia Education Center & Management Services (AIEMS)
E-mail: erma.pawitasari@alum.bu.edu

Assalaamu’alaikum. Wr. Wb. Ibu Erma yang saya hormati, saya mau bertanya: Bu, bagaimanakah menurut pandangan Islam, jika ada guru yang ketika ujian nasional (UN) berlangsung malah memberitahu jawaban pada siswanya? Apakah seorang guru boleh melakukan hal seperti ini? Apakah ijazah yang nanti akan didapatkan termasuk ijazah yang halal? Saya mohon kepada Ibu untuk menjawabnya.

Wass.Gadis, di X,
+628777202****


Wa’alaykum salam wr wb.

Subhanallah, Maha Suci Allah dari perilaku-perilaku manusia yang menyimpang. Jawaban pertanyaan Gadis sungguh jelas: guru memberikan jawaban ujian kepada murid merupakan kecurangan.

Namun, mengapa perilaku menyimpang ini kini seakan mewabah di seluruh penjuru Nusantara? Bentuk kecurangannya pun bermacam-macam, mulai dari himbauan agar guru memberikan suasana yang “kondusif” dalam contek-menyontek, pembiaran penggunaan HP selama ujian, penyebaran kunci jawaban, pembentukan tim suksesi ujian nasional, hingga perintah kepada murid-murid pandai untuk berbagi jawaban kepada teman-temannya. Kasus yang paling baru adalah laporan orang tua murid, Ibu Siami dari Surabaya dan Ibu Irma Winda Lubis dari Jakarta. Ibu Siami melaporkan bahwa anaknya, Alif, diintimidasi guru-gurunya untuk berbagi jawaban kepada teman-temannya di SDN Gadel 2, Surabaya. Sedangkan Ibu Irma melaporkan kejadian serupa pada SDN Pesanggrahan 6 Jakarta.

Kondisi ini menunjukkan adanya kesakitan sistematis pada dunia pendidikan nasional kita. Para pendidik seakan sudah kehilangan arah, tidak tahu ke mana anak didiknya hendak dibawa. Akhirnya, pemikiran pragmatis lah yang menang. Sekolah yang bisa mengantarkan 100% muridnya untuk lulus Ujian Nasional dipandang sebagai sekolah hebat, sekolah yang akan dikejar oleh para orang tua murid untuk mendaftarkan anaknya ke sana. Prestise sekolah pun menaik. Bahkan, bagi sekolah swasta yang sekarat (kondisi keuangan buruk lantaran kekurangan murid), kelulusan murid-muridnya bisa menjadi mati hidupnya sekolah. Maka, berbagai jalan pun mereka tempuh demi menyelamatkan sekolah dan demi lapangan kerja bagi para tenaga kependidikan di sekolah tersebut.

GANTI SISTEM PENDIDIKAN

Sistem pendidikan nasional kita sudah di ambang kehancuran. Dengan biaya yang sangat tinggi, lulusan SMA/sederajat kita tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk hidup layak. Yang lulusan sarjana pun tidak mampu berpikir kreatif dan mandiri. Kesemuanya itu, ditambah dengan pengetahuan agama yang sangat minim, maka bisa dikatakan bahwa hasil dari sistem pendidikan kita tidak lebih dari selembar ijazah. Inipun, banyak terjadi kasus pemalsuan ijazah. Ijazah hasil penipuan tentu bukanlah ijazah yang halal.

Alangkah baiknya jika kita mulai memikirkan sistem pendidikan baru bagi bangsa ini. Apalagi, sebagai umat Islam, kita memiliki tradisi keilmuan yang luar biasa hebat di masa lampau. Salah satu model kurikulum yang wajib dipertimbangkan adalah konsep Ibn Sina. Beliau membagi jenjang pendidikan dalam beberapa tahapan, yakni:

1.

Mencari Ilmu Hakiki

, 21/06/2011 00:02:26 | Shodiq Ramadhan

altErma Pawitasari, M.Ed
Kandidat Doktor Universitas Ibnu Khaldun Bogor
Direktur Eksekutif Andalusia Education Center & Management Services (AIEMS)
E-mail: erma.pawitasari@alum.bu.edu


Assalamu’alaikum wr wb. Pertanyaan saya pada Ibu Erma. Apa kiat-kiat dalam menuntut ilmu yang tinggi & ilmu hakiki tapi secara finansial kami kurang mampu? Cuma itu yang jadi kendala kami. Tolong beri tuntunannya, supaya sukses dalam mencari ilmu untuk dunia & akhirat. Wassalam

Hamba Allah - 0812 302 4****


Wa’alaykum salam wr wb. Semoga rahmat dan karunia Allah senantiasa tercurah bagi kita semua. Aamiin.

Saya asumsikan antum masih muda dan dalam proses mencari ilmu sehingga ijinkanlah saya untuk menyapa antum dengan “Adik”.

Pertanyaan Adik mengenai ilmu hakiki adalah pertanyaan yang sangat penting. Kebanyakan kita telah dibuat tersesat dalam memahami makna ilmu.

Pada tanggal 18-19 Mei 2011 lalu, di Universitas Ibnu Khaldun Bogor telah diselenggarakan seminar internasional bertema Islamisasi Ilmu Pengetahuan & Sains. Pada kesempatan itu, hadir pembicara-pembicara dari enam negara, antara lain Mesir, Sudan, Canada, Malaysia, Uganda, dan tentu saja Indonesia. Salah satu bahasan yang menarik adalah paparan dari Ustadz Dr. Syamsuddin Arif. Beliau mengatakan bahwa ilmu yang salah (false knowledge) adalah bukan ilmu, sebagaimana false money (uang palsu) bukanlah uang. Dengan demikian, ketika Rasulullah Muhammad SAW memerintahkan kita untuk menuntut ilmu, maka ilmu yang dimaksud bukanlah sembarang pengetahuan/informasi, tetapi haruslah memenuhi apa yang Adik sebut sebagai ilmu hakiki (karenanya, istilah ilmu hakiki tidaklah diperlukan, sebab yang sebenarnya layak disebut “ilmu” hanyalah apa yang kita pandang sebagai “ilmu hakiki”).

Ilmu meliputi kalamullah dan sunnatullah. Kalamullah adalah tuntunan yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa Alquran maupun sunnah Rasul. Mempelajari kalamullah dan ilmu-ilmu alam (sunnatullah) termasuk hal yang diwajibkan bagi umat Islam agar sempurna ibadah kita. Misalnya ketika Allah SWT memberikan kewajiban dakwah maka umat Islam wajib mempelajari karakteristik kaum yang hendak didakwahi, mempelajari bahasanya agar bisa menyampaikan secara terbaik, dan memahami budayanya agar bisa menunjukkan mana yang boleh dan mana yang harus ditinggalkan. Demikian pula ketika Allah SWT melarang kita untuk berbuat kerusakan di muka bumi (al-Baqarah 11, 60, 205), maka wajib bagi umat Islam untuk mempelajari ilmu tanah, ilmu udara, ilmu air agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang merusak alam. Artinya, “ilmu dunia” (alam & sosial kemasyarakatan) wajib dipelajari dalam kerangka berpikir (worldview) Islam, untuk meluruskan/menyempurnakan ibadah kita kepada Allah.

Apabila kita bandingkan dengan pelajaran/kurikulum sekolah nasional maupun kurikulum yang berasal dari Barat (dengan label “internasional”), maka kita akan dapati bahwa kurikulum-kurikulum tersebut memberikan ilmu secara sangat minim. Sisanya (mayoritas muatan kurikulumnya) adalah informasi-informasi sampah atau bahkan informasi-informasi yang menyesatkan. Oleh karenanya, Adik tidak perlu risau jika saat ini Adik tidak belajar di sekolah-sekolah nasional/internasional.

Kewajiban menuntut ilmu, sesungguhnya bukan hanya kewajiban kita selaku individu, tetapi juga kewajiban negara untuk memfasilitasi tercapainya proses belajar-mengajar yang benar. Dalam sejarah Khilafah Islamiyah, negaralah yang menyediakan sekolah secara gratis, memproduksi buku-buku secara massal bagi masyarakat, dan menggaji para guru dengan gaji yang layak. Kebiasaan ini masih bisa kita lihat pada sekolah-sekolah di beberapa negeri muslim yang dulu merupakan bagian dari Khilafah Islamiyah, seperti Arab Saudi dan Mesir, yang memberikan pendidikan secara gratis (sayangnya masih ada sekat-sekat nasionalisme sehingga fasilitas ini tidak bisa dinikmati oleh seluruh umat Islam). Prinsip pendidikan gratis ini juga dicontoh oleh negara-negara Barat, sehingga banyak negara-negara “maju” (termasuk Amerika hingga level tertentu) yang membebaskan siswa dari segala biaya belajar.

Bagaimana dengan kondisi kita dan apa jalan keluarnya? Secara makro, negara kita harus segera kembali kepada Islam dan mempraktekkan ajaran Islam secara kaffah, termasuk dalam pengelolaan pendidikan. Secara individu, coba Adik mulai dengan belajar Alquran dan menghafalkan beberapa juz atau bahkan seluruh juz. Setelah Adik berhasil, saya yakin insya Allah akan terbuka banyak kesempatan untuk mendapatkan beasiswa, terutama dari lembaga-lembaga pendidikan Islam, baik untuk belajar di dalam negeri maupun di luar negeri.

Dunia seisinya ini milik Allah, maka berlarilah kepada Allah, mendekatlah, bertakwalah, serta memohonlah padaNya, agar dilapangkan kehidupan kita di dunia dan akhirat. Semoga sukses.

Daycare (TPA) Inovatif

, 09/06/2011 00:21:19 | Shodiq Ramadhan

altErma Pawitasari, M.Ed
Kandidat Doktor Universitas Ibnu Khaldun Bogor
Direktur Eksekutif Andalusia Education Center & Management Services (AIEMS)
E-mail: erma.pawitasari@alum.bu.edu


Assalamualikum Bu, salam ukhuwah.
Bu Erma yg saya hormati, beberapa waktu yang lalu saya diminta untuk mengelola sebuah TPA (Tempat Penitipan Anak) di daerah Jombang. Saya ingin agar TPA tersebut terdapat nilai diferensiasinya meski berlokasi di daerah. Saya berencana membuka bimbel Bahasa Inggris untuk Play Group. Mohon saran agar TPA tetap berkarakter namun inovatif. Terimakasih.

Waspadai Studi Islam di Barat

, 17/05/2011 02:52:26 | Shodiq Ramadhan

altErma Pawitasari, M.Ed
Kandidat Doktor Universitas Ibnu Khaldun Bogor
Direktur Eksekutif Andalusia Education Center & Management Services (AIEMS)
E-mail: erma.pawitasari@alum.bu.edu



Maaf Bu Erma, saya sangat terkesan dengan bimbingan Bu Erma ke teman-teman. Saya seorang mahasiswa Bu, jurusan Ekonomi Islam dan sekarang sedang dalam tahap akhir. Saya sangat ingin melanjutkan studi master di luar negeri. Sekiranya Ibu ada saran dan masukan apa dan di mana yang baik bagi saya, saya ucapkan terima kasih. Semoga kebaikan Ibu diberi balasan dari Allah. Amin.

Hamba Allah via www.suara-islam.com


Assalamu’alaykum wr wb,


Akhi/Ukhti yang dirahmati Allah, terima kasih telah setia membaca kolom Konsultasi Pendidikan ini.

Apabila antum berkeinginan kuat untuk melanjutkan sekolah di luar negeri, maka saya sarankan untuk mencari sekolah di tanah muslim, seperti Malaysia, Brunei, Mesir, atau Saudi Arabia. Universitasnya pun hendaknya dipilih yang bukan kepanjangan tangan dari Barat (seperti the American University, yang ada di Cairo dan Dubai). Melihat jurusan antum, yakni Ekonomi Islam, godaan untuk mengambil master dan bahkan doktor di bidang Studi Islam di universitas Barat cukup besar. Apalagi, proyek ini menawarkan dana yang besar berupa beasiswa bagi para pelajar berlatar belakang pendidikan Islam.

Namun, kita perlu sangat waspada terhadap tawaran-tawaran beasiswa untuk Studi Islam ini. Prof. Dr. Ismail Raji al-Faruqi, mantan Ketua Jurusan Studi Islam di Temple University, Pennsylvania, USA yang akhirnya syahid ditembak oleh agen zionis, menasehati kaum muslimin agar tidak belajar Islam ke Barat karena program Studi Islam di Barat tidak pernah luput dari misi Zionis dan Misionaris Kristen (Daud Rasyid, “Pembaruan Islam & Orientalisme dalam Sorotan”, hlm. 26).

Apa yang disampaikan oleh Prof. Dr Ismail Raji al-Faruqi menjadi lebih terang-benderang apabila kita mengetahui sejarah berdirinya Studi Islam di Barat. Saya akan memaparkan sejarah ini secara sekilas.

Dalam buku “A History of The Crusades” (1994), Steven Runciman menulis bahwa umat Kristen dihadapkan pada pertanyaan mendasar: apakah mereka boleh berperang untuk negaranya, sementara agama mereka adalah agama perdamaian. Disebutkan dalam Kitab Jeremiah VIII, 15: “We looked for peace, but no good came” (Kami mencari perdamaian, tapi tidak ada kebaikan yang muncul darinya). Kaum cendikiawan Kristen pun terbelah dua: Gereja Timur (Bizantium) menganggap bahwa perang agama itu tidak ada sedangkan Gereja Barat (Roma) meyakini bahwa perang boleh dikobarkan atas nama Tuhan demi mencapai kebaikan. Untuk itulah, Pope Urban II menggalang kekuatan dari negara-negara Kristen untuk menghancurkan Islam. Pope Urban II menggunakan momentum masuknya pengaruh dan kekuatan Islam ke Jerussalem sebagai pembakar semangat perang. Maka, terjadilah Perang Salib I.

Berbeda dengan pandangan Pope Gereja Barat, Gereja Timur mengucilkan selama tiga tahun tentara Kristen yang membunuh manusia dalam perang. Kematian mereka dalam perang melawan kaum non-Kristen (infidel) pun tidak dianggap sebagai pahlawan (martyr). Para cendikiawan Kristen dari Gereja Timur, seperti Peter Venerabilis, Mark of Toledo, Thomas Aquinas, dan Brother Bacon menyadari bahwa umat Islam tidak bisa dipaksa secara fisik untuk masuk Kristen. Perang fisik hanyalah akan semakin mengobarkan kebencian terhadap Kristen. Selain itu, kemenangan dari perang fisik adalah matinya umat Islam yang kalah perang. Orang mati tidak bisa dikristenkan; jika demikian, musnahlah tujuan perang agama.

Walaupun menolak memerangi umat Islam secara fisik, namun pandangan Gereja Timur terhadap Islam tidak berbeda dengan Gereja Barat, yakni bahwa Islam adalah suatu penyelewengan kebenaran, agama kekerasan dan perang, agama yang mendukung pelecehan seksual, dan Muhammad bin Abdullah adalah nabi palsu (Franco Cardini, “Europe and Islam”, hlm. 89). Peter Venerabilis dkk meyakini bahwa jalan terbaik untuk mengalahkan Islam adalah melalui pemikiran. Untuk itu, mereka perlu mempelajari Islam dan al-Qur’an serta menggunakannya untuk memurtadkan umat Islam (Cardini, hlm. 88). Langkah pertama yang dilakukan adalah menerjemahkan Al-Qur’an. Terjemahan Peter ini menjadi bahan kuliah wajib bagi setiap calon agamawan Kristen. Inilah cikal bakal dibukanya jurusan Studi Islam pada universitas-universitas Barat.

Dari paparan singkat di atas bisa kita lihat bahwa sejarah berdirinya Studi Islam adalah untuk memurtadkan kaum muslimin dan menghancurkan Islam. Oleh karena itu, tidak heran jika umat Islam yang belajar Studi Islam di Barat kembali ke masyarakat kaum muslimin dengan pemikiran-pemikiran yang merusak Islam. Allahu a’lam.