Muslimah

ISLAM DAN KONSEP KECANTIKAN

, 25/11/2009 07:27:56

altSama sekali berkebalikan dengan jati diri orang-orang Barat yang menjadikan akal dan hawa nafsu manusia sebagai standar untuk menentukan bagaimana manusia menjalani kehidupan, jati diri Islam berlandaskan pada keyakinan bahwa Sang Pencipta manusia dan alam semesta adalah satu-satunya Zat yang mempunyai kedaulatan dan otoritas untuk menentukan bagaimana umat manusia menjalani kehidupannya. Lebih dari itu, Dia-lah satu-satunya Zat yang menciptakan manusia, berikut naluri dan kebutuhan fisik yang dimilikinya, dan bahwa Dia-lah yang paling tahu bagaimana cara terbaik untuk mengatur mereka.

Pandangan hidup sekuler Barat mengemban konsep kebebasan pribadi yang menetapkan bahwa kaum laki-laki dan perempuan memiliki kebebasan untuk menentukan bagaimana mereka berbusana, bagaimana mereka berpenampilan, bagaimana semestinya mereka memandang lawan jenisnya, bagaimana model pergaulan di antara mereka, apa peran mereka dalam kehidupan rumah tangga dan di tengah-tengah masyarakat, serta bagaimana seharusnya mereka bertingkah laku. Sebaliknya, kaum Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, menjalani kehidupan mereka atas dasar keyakinan bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatan mereka di dunia kepada Sang Khaliq.
Oleh karena itu, kaum Muslim paham bahwa mereka harus mengembalikan setiap permasalahan pada hukum dan aturan, serta pada standar halal dan haram yang telah ditetapkan oleh Sang Khaliq.

Kaum Muslimah tidak menjadikan akal pikiran dan hawa nafsunya sebagai penentu bagaimana mereka mendefinisikan kecantikan, penampilannya, atau bagaimana mereka menilai dirinya; tetapi mereka mengembalikan semua permasalahan tersebut kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Bagi kaum Muslim, hawa nafsu tidak boleh menjadi standar dalam menentukan bagaimana mereka melihat dan memperlakukan kaum perempuan; tetapi mereka menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai standar. Allah Swt berfirman dalam Surat al-Ahzab :

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (TQS. al-Ahzab [33]: 36)

Islam tidak menentukan konsep yang pasti mengenai kriteria “Wanita Cantik”, dan juga tidak menentukan bagaimana penampilan seorang perempuan agar nampak kecantikannya. Oleh karena itu, dalam Islam tidak terdapat harapan-harapan yang tidak wajar yang mesti diraih oleh perempuan, maupun diharapkan oleh kaum laki-laki. Namun demikian, Islam memang membahas konsep tentang bagaimana seorang Muslimah harus berpenampilan pada berbagai kesempatan, dan kepada siapa saja ia dapat sepenuhnya menunjukkan kecantikannya.

Di depan laki-laki yang bukan mahramnya, atau kalangan yang boleh menikah dengannya, seorang Muslimah diwajibkan berpenampilan sesuai dengan syariat, yaitu menutup seluruh bagian tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Selain itu, busana yang dikenakannya tidak boleh terlalu tipis sehingga kulitnya bisa kelihatan, dan juga tidak boleh terlalu ketat sehingga tampak bentuk tubuhnya. Dengan demikian, seluruh bagian tubuh perempuan, termasuk lehernya, kakinya, dan rambutnya (meski hanya sehelai saja) –selain wajah dan kedua telapak tangannya– merupakan aurat, yang haram ditampakkan di depan laki-laki yang bukan mahramnya. Segala bentuk pengecualian atas ketentuan ini harus ditetapkan melalui nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah, bukan akal manusia.

Dalam satu hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah ra, beliau berkata bahwa Asma’ binti Abu Bakar telah memasuki rumah Rasulullah saw dengan memakai busana yang tipis, maka Rasulullah saw pun berpaling seraya berkata:

Wahai Asma’, sesungguhnya perempuan itu jika telah baligh tidak pantas untuk ditampakkan dari tubuhnya kecuali ini dan ini – sambil menunjuk telapak tangan dan wajahnya.

Dalam surat an-Nur, Allah Swt berfirman:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. (TQS. an-Nur [24]: 31)

Ibnu Abbas menafsirkan kalimat “yang (biasa) nampak daripadanya” sebagai wajah dan kedua telapak tangan.
Selain itu, di depan laki-laki yang bukan mahramnya, seorang perempuan juga tidak boleh memakai pakaian, perhiasan, dan menggunakan dandanan yang akan menarik perhatian laki-laki atas kecantikannya (tabarruj). Sebagaimana firman Allah Swt dalam surat al-Ahzab:

Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu. (TQS. al-Ahzab [33]: 33)

Kemudian, apabila seorang perempuan keluar rumah dan memasuki kehidupan umum (ruang publik), penampilan atau pakaian yang diwajibkan baginya adalah khimar, yakni penutup kepala yang menutup seluruh bagian kepala, leher, dan bagian bahu seputar dada; serta jilbab, yaitu kain panjang yang menutup pakaian kesehariannya dan diulurkan sampai ke bagian bawah. Apabila seorang perempuan keluar rumah tanpa kedua macam pakaian ini maka ia memperoleh dosa, karena telah mengabaikan perintah Sang Khaliq Swt. Dalilnya sangat jelas, sebagaimana tersebut dalam ayat berikut ini yang memerintahkan pemakaian khimar:

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. (TQS. an-Nur [24]: 31)

Sementara itu, dalam surat al-Ahzab, Allah Swt mewajibkan jilbab:

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". (TQS. al-Ahzab [33]: 59)

Selain itu, dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Ummu ‘Athiyah, bahwa ia berkata:

Rasulullah saw memerintahkan kami, baik ia budak perempuan, perempuan haid, ataupun anak-anak perawan agar keluar (menuju lapangan) pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Bagi perempuan yang sedang haid diperintahkan untuk menjauh dari tempat shalat, tetapi tetap menyaksikan kebaikan dan seruan atas kaum Muslimin. Aku lantas berkata, ‘Ya Rasulullah, salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab’. Maka Rasulullah pun menjawab, ‘Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbab kepadanya.’

Bagi Muslimah, yang dimaksud dengan kecantikan (kebaikan) adalah manakala ia mengikuti hukum-hukum dan aturan Allah Swt, sedangkan keburukan adalah tatkala ia mengesampingkan aturan tersebut dan menuruti hawa nafsunya. Ia tidak boleh mengikuti ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh manusia. Upaya untuk mendapatkan penampilan dan perilaku yang ditentukan Allah Swt tersebut jelas masih berada dalam batas-batas kemampuan setiap perempuan, dan pasti tidak akan menimbulkan berbagai macam permasalahan, seperti gangguan pola makan yang diakibatkan karena harapan-harapan yang tidak wajar untuk memperoleh penampilan, ukuran tubuh, dan bentuk tubuh tertentu yang harus dipenuhi oleh kaum perempuan Barat.

Sekalipun Islam tidak memiliki konsep yang pasti tentang kriteria “wajah atau bentuk tubuh yang cantik”, namun kaum Muslimah didorong untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu yang membuat penampilannya menarik hati suaminya, seperti berdandan untuk suaminya serta berpenampilan yang rapi dan bersih. Kaum Muslimah tahu bahwa tindakan seperti itu akan mendatangkan ridla Allah Swt. Namun ketika melakukan upaya mempercantik diri tersebut seperti memperindah bentuk tubuh atau memutihkan wajahnya– kaum Muslimah harus menyadari bahwa itu semua sama sekali bukan dimaksudkan untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat, namun semata-mata untuk menuruti batas-batas yang ditentukan Allah Swt baginya. Demikian pula para suami Muslim, ketika menentukan apa yang disukai dan apa yang dibenci, mereka harus dapat memastikan bahwa sikap mereka itu bukan semata-mata karena menuruti harapan-harapan yang tidak wajar dari masyarakat Barat.



PENGARUH MITOS KECANTIKAN TERHADAP MUSLIMAH

, 13/11/2009 06:28:16

altAmat disayangkan bahwa ada sejumlah kalangan Muslimah –baik yang tinggal di Barat maupun di dunia Islam– yang terpengaruh dengan mitos kecantikan ini. Bagi kaum Muslimah yang tinggal di negara-negara Barat, barangkali mudah dipahami mengapa mereka terpengaruh mitos tersebut, yakni karena setiap hari mereka “dicekoki” dengan konsep citra perempuan dan harapan-harapan yang tidak wajar itu sebagaimana perempuan-perempuan non Muslim yang ada di masyarakat. Tidak mengherankan pula, jika mitos kecantikan tersebut juga mempengaruhi sebagian kalangan Muslimah yang tinggal di dunia Islam, karena budaya Barat itu juga diekspor ke negeri-negeri Muslim oleh berbagai media, industri hiburan, dan industri periklanan.

Majalah-majalah yang berisi trend gaya hidup Barat seperti Vogue, Cosmopolitan, dan Marie Clare juga mengisi rak-rak penjual koran dan toko-toko buku yang bertebaran di Pakistan, Bangladesh, Turki, jazirah Arab, dan Asia Tenggara. Salon-salon kecantikan yang menjajakan citra perempuan Barat semakin hari semakin banyak bermunculan di jalan-jalan kota Karachi, Lahore, Dhaka, Abu Dhabi, Kuala Lumpur, dan sebagainya.

Pada bulan Oktober 2002 lalu, BBC menyiarkan suatu kisah mengenai Afghanistan dengan tajuk “Afghan Lipstick Liberation”. Acara tersebut membahas suatu proyek yang pada saat itu tengah berjalan, yang didanai oleh Amerika Serikat untuk “kepentingan” kaum perempuan Afghanistan. Proyek tersebut berupa sebuah sekolah kecantikan ala Barat yang dibangun di Kabul di bawah pengawasan Kementerian Urusan Perempuan Afghanistan, dan harus dapat diselesaikan pada bulan Januari 2003.

Proyek tersebut bertujuan untuk melatih perempuan Afghanistan agar dapat memotong rambut dan menjalankan “bisnis kecantikan” dengan perlengkapan kosmetika bantuan perusahaan-perusahaan kosmetika terkemuka seperti Revlon dan MAC. Jelas bahwa proyek tersebut bertujuan untuk menanamkan pengaruh di benak para Muslimah Afghanistan agar mempunyai keinginan meniru penampilan perempuan-perempuan Barat.

Sekali lagi, amat disayangkan bahwa dari realitas yang terjadi di masyarakat ini, ternyata ada di antara kaum Muslimah yang mengadopsi atau mencita-citakan citra perempuan Barat yang berlandaskan jati diri peradaban Barat dan pandangan hidup sekulerisme tersebut. Konsep Barat mengenai ukuran-ukuran kecantikan telah menjadi kriteria bagi para Muslimah itu untuk menilai penampilan mereka, antara lain tinggi semampai, bertubuh ramping, berkulit putih, dan berpenampilan muda. Ketika hendak menikah, seorang laki-laki atau kedua orangtuanya tidak jarang mencari seorang gadis yang memenuhi kriteria-kriteria di atas, tanpa memikirkan lagi sejauh mana keteguhannya dalam beragama.

Para Muslimah banyak yang memiliki anggapan bahwa di masyarakat telah berkembang luas pandangan “semakin putih kulitnya, maka semakin cantik seorang perempuan”. Pandangan tersebut telah mendorong para Muslimah untuk mendapatkan penampilan seperti itu, sehingga banyak di antara mereka yang menggunakan berbagai cara untuk memutihkan kulit mereka, termasuk dengan menggunakan obat-obatan pemutih, tanpa menghiraukan lagi konsekuensi yang mungkin timbul. Salah satu jenis obat pemutih itu disebut Jolen telah diidentifikasi sebagai penyebab kanker. Selain itu, operasi plastik dan kasus anorexia semakin banyak terjadi di kalangan para Muslimah, baik yang tinggal di Barat maupun di negeri-negeri Muslim. Padahal di masa-masa sebelumnya, operasi kosmetik dan kasus anorexia itu merupakan perkara yang asing bagi umat Islam dan kaum Muslimah.

Bahkan dunia perfilman India, Bollywood, yang baru-baru ini dipopulerkan di Barat dan disebut-sebut banyak kalangan mempunyai konsep penampilan perempuan serta model busana yang berbeda, dalam kenyataannya ternyata mengadopsi konsep-konsep sebagaimana yang diyakini oleh masyarakat Barat. Majalah-majalah kecantikan dan gaya hidup yang diproduksi oleh masyarakat Asia, seperti Asian Bride, Asian Woman, dan Libas, juga membahas konsep-konsep yang serupa, seperti bahwa perempuan bebas menentukan bentuk penampilan serta perilaku yang mereka kehendaki, dan juga memuat gagasan yang sama tentang kriteria kecantikan perempuan.

Harapan-harapan yang dikembangkan dalam majalah-majalah tersebut sama persis dengan penampilan perempuan Barat. Aktris India, Ashwariya Rai, yang sangat terkenal di Bollywood saat ini, banyak dipuja gadis-gadis Asia karena kulitnya yang putih dan matanya yang biru. Memang semakin banyak aktris India terkemuka yang melakukan operasi kosmetik dengan harapan agar mempunyai penampilan seperti Karishma dan Rekha. Demikianlah, di dunia perfilman Bollywood, kaum perempuan menentukan segala sesuatu berdasarkan konsep kebebasan.

Sebagaimana jati diri perempuan Barat, akal pikiran dan hawa nafsunya menjadi standar bagi mereka untuk menentukan bentuk penampilannya, busana yang mereka pakai di tengah masyarakat, serta model pergaulan yang mereka jalin. Bagi orang-orang yang membanggakan diri karena berpandangan bahwa citra perempuan di Bollywood jauh lebih “sopan” daripada kaum perempuan di Hollywood, barangkali perlu kembali meneliti fakta bahwa shahwar kamiz (saling berpelukan), pakaian tradisional (sari) yang mempertontonkan aurat, serta rok-rok pendek yang dipakai aktris-aktris India itu tidak akan dilewatkan oleh kebanyakan majalah feshion Barat.
Baru-baru ini, BBC menyiarkan sebuah tayangan dokumenter berjudul “Faith in Fashion”, yang secara khusus memperbincangkan sebuah konsep tentang bagaimana seorang perempuan yang beragama Islam tetapi tetap bisa menjadi bagian komunitas fesyen yang dibentuk masyarakat Barat, serta berupaya mengadopsi model pakaian Barat yang “Islami” entah bagaimana bentuknya.

Namun demikian, yang perlu dicermati lebih jauh adalah tujuan yang melatarbelakangi tindakan orang-orang Barat dalam mempengaruhi kaum Muslimah yang tinggal di Barat agar mau mengadopsi konsep kecantikan, serta tujuan mereka mengekspor citra tersebut ke negeri-negeri kaum Muslim. Tujuan mereka mempengaruhi kaum Muslimah yang tinggal di Barat adalah untuk menyatukan kaum Muslim khususnya para Muslimah dengan masyarakat Barat, sedemikian rupa sehingga kaum Muslimah kehilangan jati diri ke-Islamannya, serta lupa dengan tanggung jawab dan kewajiban-kewajibannya selaku Muslimah.

Bagi kalangan Muslimah yang tinggal di negeri-negeri Muslim, konsep kecantikan itu disebarluaskan untuk mengikis pemikiran dan perilaku Islam dalam diri para Muslimah, serta menanamkan jati diri sekuler Barat kepada mereka. Penyebarluasan konsep kecantikan ini merupakan salah satu bentuk kolonialisme budaya (ghazw ats-tsaqafi) yang dilancarkan kaum kafir Barat. Satu contoh yang sangat jelas adalah pembangunan sekolah kecantikan di Kabul seperti yang pernah disampaikan di depan.

Di tengah sekian banyak masalah yang dihadapi kaum perempuan di Afghanistan, seperti bahaya kelaparan, serta langkanya air bersih dan obat-obatan, orang-orang Barat justru menetapkan bahwa masalah yang harus diketahui kaum Muslimah adalah bagaimana cara mempercantik diri mereka!! Pada dasarnya, semua upaya tersebut dilakukan negara-negara Barat untuk mencegah kembalinya Islam sebagai pandangan hidup kaum Muslim, serta mempertahankan pandangan hidup sekuler Barat beserta budaya dan aturan-aturannya agar terus berkuasa di seluruh permukaan bumi. Upaya tersebut juga dimaksudkan untuk melindungi kepentingan-kepentingan material masyarakat Barat dan mempertahankan hegemoni mereka.

Demikianlah akibatnya jika kaum Muslimah bercita-cita untuk mendapatkan citra kecantikan sebagaimana yang ditetapkan oleh Barat serta mengadopsi jati diri orang-orang Barat. Inilah agenda Barat yang belum banyak diketahui kaum Muslim.


MUNCULNYA MITOS KECANTIKAN

, 20/10/2009 06:03:34

altDari penjelasan sebelumnya telah tergambar dengan jelas keadaan kaum perempuan yang mengadopsi jati diri sekuler Barat. Mereka sesungguhnya tidak benar-benar bebas menentukan citra diri sesuai keinginannya, tetapi sebaliknya mereka mendapatkan tekanan untuk hidup sesuai dengan harapan-harapan tertentu, harapan-harapan yang pada hakikatnya hanya merupakan fantasi belaka. Oleh sebab itu, upaya mempercantik diri tidak akan dapat mendatangkan kehormatan bagi perempuan atau membuatnya berharga di tengah-tengah masyarakat.

Andaikata memang benar demikian adanya, maka kita perlu bertanya pada diri kita. Mengapa mitos kecantikan ini terus berkembang dan tersebar luas di kalangan perempuan, baik yang tinggal di sekitar dunia Barat maupun yang tinggal jauh dari dunia Barat? Mengapa semakin banyak perempuan yang tidak menyadari bahwa mereka terus diperdayakan setiap hari? Mengapa citra perempuan Barat yang berdasarkan jati diri dan pandangan hidup yang sekuler itu dijadikan model yang harus ditiru seluruh kaum perempuan di dunia?

Sebagaimana terhadap masalah-masalah lainnya, pandangan hidup kapitalisme buatan manusia menilai persoalan kecantikan ini dari sisi uang dan manfaat. Industri alat-alat kecantikan, kosmetika, fesyen, dan bisnis operasi plastik di dunia Barat didukung oleh perusahaan-perusahaan besar yang memiliki aset jutaan dollar. Demikian pula industri majalah, yang mengiklankan produk-produk tersebut dan mendongkrak citra penampilan perempuan.

Oleh karena itu, segala macam upaya mempercantik diri yang dilakukan kaum perempuan harus tetap dipertahankan agar perusahaan-perusahaan tersebut terus mendapatkan keuntungannya. Berbagai citra dan cita-cita kaum perempuan yang tidak wajar harus terus dipelihara, semata-mata dengan tujuan agar pendapatan perusahaan-perusahaan itu terus bertambah, seiring dengan semakin besarnya dana yang dikeluarkan kaum perempuan untuk mendapatkan bentuk penampilan fisik yang diinginkan, yang terus berubah dari waktu ke waktu. Naomi Wolf menyatakan dalam bukunya “The Beauty Myth”, “Perekonomian yang bergantung pada perbudakan harus mampu menampilkan citra budak yang dapat “melegitimasi” lembaga perbudakan itu sendiri.”

Mitos kecantikan semacam itu harus disembunyikan sejauh mungkin dari pandangan publik agar dollar dan poundsterling yang diharapkan terus mengalir masuk. Dengan demikian, citra perempuan Barat terus dijadikan idola perempuan seluruh dunia untuk memuaskan nafsu sejumlah pimpinan dan pemilik perusahaan yang serakah. Seorang pakar ekonomi, John Kenneth Galbraith memberikan komentar tentang upaya mempercantik diri sebagai berikut, “Kita dipaksa oleh ilmu sosiologi populer, berbagai majalah, dan kisah-kisah fiksi untuk menyembunyikan fakta bahwa kaum perempun dalam kedudukannya sebagai konsumen memegang peranan yang sangat penting dalam perkembangan masyarakat industri kita … Perilaku yang penting bagi perkembangan ekonomi itu telah berubah menjadi sebuah nilai yang utama di tengah-tengah masyarakat.”

Sebagaimana dijelaskan di muka, industri kecantikan di Inggris berhasil meraup pendapatan hingga 8,9 miliar poundsterling setiap tahunnya. Industri fesyen dunia mampu menghasilkan pemasukan total sebesar 1.500 miliar dollar AS setahunnya; sedangkan industri produk-produk diet di AS dapat meraup 74 miliar dollar setiap tahunnya (Time Magazine, 1988). Sebuah bisnis bedah kosmetik di AS dapat dengan sangat mudah meraup pendapatan 1 juta dollar AS setahun. Ketika kontestan dari India berhasil memenangkan kontes kecantikan Miss World selama dua tahun berturut-turut, seorang anggota organisasi perempuan di India berkomentar bahwa hal itu bukan disebabkan karena kecantikan Miss India yang luar biasa, tetapi lebih disebabkan karena perusahaan-perusahaan kosmetika internasional ingin menembus pasar India.

Selain dari itu, media televisi dan majalah juga berhasil meraup pendapatan jutaan dollar dari iklan produk-produk perusahaan kecantikan tersebut, dengan jalan menampilkan citra “Wanita Cantik” yang semestinya menggunakan atau memakai produk-produk mereka. Berbagai industri kosmetika dan alat-alat perawatan tubuh mengeluarkan dana untuk kepentingan iklan yang jumlahnya lebih besar daripada jenis-jenis industri lainnya. Pernah terjadi, satu edisi majalah kecantikan Harper’s and Queen berhasil meraih pendapatan senilai 100.000 poundsterling dari iklan perusahaan-perusahaan kosmetika. Tidak mengherankan bila kemudian ada seorang penulis majalah “Cover Up” yang mengatakan, “Para editor (bagian) kosmetik sangat jarang dapat menulis fakta tentang kosmetika secara bebas,” karena para pemasang iklan membutuhkan suatu promosi dari pihak editor sebagai suatu prasyarat pemasangan iklan.

Setelah memahami permasalahan ini, akankah kaum perempuan yang berpikiran maju mau menelan mentah-mentah berbagai kebohongan dan tipu muslihat yang melingkupi citra perempuan Barat, atau sebaliknya mereka harus berpikir secara hati-hati mengenai jati diri dan citra yang tepat untuk dijadikan pegangan bagi mereka dalam mengarungi kehidupan?

MEMPERCANTIK DIRI; MENINGKATKAN MARTABAT PEREMPUAN DI MASYARAKAT?

, 12/10/2009 10:36:56

altPemahaman yang sering dijadikan pegangan oleh para perempuan yang tinggal di luar masyarakat Barat dan bercita-cita memiliki citra seperti perempuan Barat, adalah bahwa perempuan Barat memiliki martabat yang tinggi dan dihormati oleh masyarakat dimana mereka tinggal. Bayangan semacam itu memang diciptakan oleh mass-media Barat dan industri hiburan yang diekspor ke negeri-negeri lain. Mereka yang tinggal di Barat, yang hidup di bawah sistem kapitalis sekuler, akan memahami bahwa pernyataan itu hanya sebuah fantasi belaka.

Kalau kita cermati lebih jauh masalah yang timbul akibat perhatian perempuan Barat yang berlebihan pada aspek kecantikan dan penampilan pada saat mereka menilai dirinya sendiri, maka kita akan melihat bahwa meskipun banyak yang menilai diri mereka dari segi kapasitas kecerdasan dan kemampuannya, namun sesungguhnya banyak di antara mereka yang merasa tidak lengkap bila tidak mengukurnya dari sisi kecantikan dan penampilan menurut standar yang ada di masyarakat Barat. Germaine Greer, seorang feminis dan penulis Barat, mengatakan dalam bukunya, “The Whole Woman”, “Setiap perempuan tahu bahwa sekalipun mereka memperoleh berbagai prestasi, tetapi bila tidak cantik berarti mereka telah melakukan suatu kekeliruan.”

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, dalam sebuah penelitian yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Cincinnati, 33.000 perempuan AS mengatakan kepada para peneliti bahwa mereka lebih memilih turun berat badannya 10 – 15 pon daripada memperoleh prestasi lain. Penelitian “Bread for Life” menemukan fakta bahwa dari 900 perempuan berusia 18 – 24 tahun yang disurvey, 55% di antaranya menilai penampilan sebagai hal yang paling menarik dari seorang perempuan, dan hanya 1% yang menilai perempuan dari tingkat kecerdasannya. Dengan demikian, jelas banyak perempuan yang menjadikan konsep-konsep Barat sebagai jati dirinya beranggapan bahwa penampilannya lebih berharga daripada pemikiran, kecerdasan, kemampuan, serta kepribadiannya, meskipun boleh jadi mereka berusaha menutup-nutupi hal ini dari diri mereka.

Lantas, bagaimana masyarakat Barat menilai seorang perempuan? Seorang penulis Barat, Camille Paglia, menulis dalam sebuah artikel ilmiah berjudul ‘Sexual Harassment: Confrontation and Decisions’, “Budaya Barat memiliki mata yang liar. Mata laki-laki suka ‘berburu’ dan ‘mengamati’; anak laki-laki suka ‘ngeceng’ dan ‘bersuit-suit’ dari mobil-mobil mereka, beraksi seperti berandalan terhadap gadis-gadis yang sedang berjalan-jalan mencuci mata; laki-laki juga sering ‘melolong seperti serigala’ dan ‘berkotek seperti ayam’. Dimana pun berada, perempuan yang cantik selalu dipelototi dan dilecehkan. Dia menjadi simbol utama syahwat manusia.”

Bagi orang-orang yang mampu melihat masyarakat Barat lebih dalam, mereka akan mengetahui bahwa perempuan Barat lebih banyak dinilai dari tingkat kecantikannya daripada dari sisi kecerdasannya. Ini terjadi di semua tingkatan masyarakat. Kebanyakan laki-laki yang memiliki mentalitas sekuler Barat dan terpengaruh dengan mitos kecantikan juga lebih sering menjalin hubungan dengan perempuan berdasarkan pertimbangan penampilan mereka, bukan atas dasar pertimbangan kecerdasan mereka. Mereka selalu mencari perempuan yang berkulit terang, tinggi, dan ramping, sebagai ‘piala’ yang akan menemani mereka berjalan-jalan, sekedar untuk memperlihatkan ‘hasil tangkapan’ atau ‘hadiah’ yang berhasil mereka dapatkan kepada teman-teman dan keluarga mereka. Oleh karena itu tidaklah mengherankan bila perempuan Barat selalu merasa gelisah dengan penampilannya. Mereka merasa bahwa penampilannya adalah kunci untuk menuju pernikahan atau satu-satunya perkara yang dapat mencegah suami atau teman-teman dekatnya berselingkuh dengan perempuan lain yang lebih cantik, lebih ramping, lebih tinggi, dan lebih putih kulitnya.

Kenyataan ini dapat dijelaskan secara sederhana. Konsep kebebasan yang dianut oleh perempuan-perempuan dengan jati diri sekuler Barat –yang merasa bahwa mereka berhak berbusana dan berpenampilan sebagaimana yang mereka inginkan– juga mengendap di dalam benak kaum laki-laki yang mengadopsi jati diri sekuler Barat. Kaum laki-laki sekuler itu menganggap bahwa mereka bebas untuk melihat dan memperlakukan seorang perempuan sekehendak hatinya, karena mereka menjadikan akal dan nafsu mereka sebagai standar perilaku dalam kehidupan. Inilah esensi konsep kebebasan yang menjadi landasan jati diri masyarakat Barat.

Ketika sampai pada permasalahan bagaimana kaum perempuan dipekerjakan dan dipromosikan, kita bisa melihat bahwa penampilan dan kecantikan merupakan perkara yang semakin penting dalam semua bidang pekerjaan, bukan saja dalam bidang industri periklanan, kecantikan, dan hiburan. Cuplikan kasus yang terjadi di dunia Barat berikut ini sebenarnya bisa menjadi bukti yang cukup kuat bahwa konsep ini –yaitu penampilan dan kecantikan merupakan faktor yang penting dalam dunia pekerjaan– merupakan konsep yang dianut baik oleh majikan laki-laki maupun perempuan di semua sektor, dari dunia bisnis sampai dunia politik, dari profesi medis hingga dunia hukum.

Di AS, pada tahun 1975, Catherine McDermott pernah menuntut Xerox Corporation karena tidak memberikan kesempatan kerja kepadanya atas dasar alasan berat badannya. Pada dasawarsa yang sama, National Airlines memecat pramugarinya, Ingrid Fee, karena ia ‘terlalu gemuk’, yaitu memiliki berat badan 4 pon lebih berat daripada batas yang ditentukan. Pada tahun 1983, di AS juga, seorang karyawan TV, Christine Craft, menuntut bekas perusahaannya, Metromedia Inc. karena telah memecatnya atas dasar alasan –menurut atasannya– ‘terlalu tua, sangat tidak menarik, dan tidak menghargai laki-laki’. Keputusan pengadilan terhadap kasus-kasus tersebut ternyata memberikan kemenangan kepada pihak perusahaan. Atas kejadian itu, seorang jurnalis pernah mengatakan, “Ada ribuan Christine Craft lain yang mengalami nasib serupa … Namun kita diam saja. Siapa yang dapat mempertahankan daftar hitam ini?” Maskapai penerbangan Dan Air pada tahun 1987 pernah ditentang karena dianggap hanya mempekerjakan perempuan muda yang cantik sebagai kru penerbangan. Namun maskapai tersebut mempertahankan pendiriannya dengan alasan bahwa hal itu merupakan pilihan pelanggan. Dengan kata lain, pelanggan memang menghendaki kru perempuan yang masih muda dan berpenampilan cantik. Seorang perempuan berusia 54 tahun pernah mengatakan di lembaga The Sexuality of Organization, bahwa atasannya memberhentikan dia tanpa peringatan, “Atasannya mengatakan bahwa ia ‘ingin melihat seorang perempuan yang lebih muda’ agar ‘semangatnya bangkit’.

Bagaimana masyarakat Barat menilai berbagai karakteristik seorang perempuan juga dapat dilihat manakala kita mengetahui bahwa satu-satunya bidang ‘pekerjaan’ dimana seorang perempuan selalu memperoleh penghargaan yang lebih tinggi dari seorang laki-laki adalah dunia modeling dan prostitusi. Seorang supermodel dapat memperoleh bayaran sampai 10.000 poundsterling dalam sehari. Jumlah yang sama baru dapat diperoleh seorang dokter pemula atau seorang guru setelah bekerja 6 bulan.

Perempuan-perempuan yang berhasil mendapatkan sebuah pekerjaan atau memperoleh promosi karir seringkali dihadapkan dengan berbagai macam bentuk pelecehan seksual, karena kaum laki-laki tidak menganggap ia dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik, tetapi tetap memandangnya semata-mata sebagai suatu objek yang dapat dipermainkan sesuai dengan keinginan laki-laki. Sebuah penelitian yang diadakan pada tahun 1993 oleh sebuah masyarakat industri mendapatkan bahwa 54% perempuan di Inggris telah mengalami pelecehan seksual di tempat kerja. Dalam sebuah survey, The Claremont College Working Papers (2001) menemukan bahwa 70% perempuan yang bertugas di kesatuan angkatan darat Inggris mengaku telah mengalami sejumlah pelecehan seksual ketika mereka tengah menjalani masa pendidikan selama 12 bulan. Para responden yang disurvey oleh Equal Opportunity Commission mengatakan bahwa kebiasaan itu tidak hanya terjadi pada sektor-sektor tertentu saja, tetapi setiap lapisan masyarakat, baik di lingkungan para manajer, kesatuan polisi, profesi medis dan hukum, maupun dunia politik. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh The American Association of University Women pada tahun 1993, ditemukan bahwa 85% mahasiswa perempuan telah mengalami pelecehan seksual; 25% di antaranya dilakukan oleh karyawan universitas.

Dengan demikian, telah jelas bahwa kaum perempuan di Barat –pada banyak kasus dan pada sebagian besar lapisan masyarakat– lebih dinilai berdasarkan penampilannya, bukan pada tingkat kemampuan dan kecerdasannya. Perempuan di tengah-tengah masyarakat dianggap oleh banyak kalangan laki-laki hanya sebagai sebuah komoditas untuk memenuhi nafsu syahwatnya, bukan sebagai pihak yang turut memberikan kontribusi bagi masyarakat. Bukti yang paling nyata atas pernyataan ini adalah tingginya wabah pemerkosaan di negara-negara Barat. 1 dari 20 perempuan di Inggris dan Wales pernah diperkosa. 167 perempuan diperkosa setiap harinya di Inggris dan Wales (data dari British Home Office). Sedangkan di Amerika Serikat terjadi lebih dari satu kali tindak pemerkosaan terhadap perempuan dalam setiap menitnya. Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Ms Magazine pada tahun 1988 terhadap 114 mahasiswa di AS, diperoleh fakta yang mengejutkan, bahwa 85% laki-laki memberikan jawaban “ya” atas pernyataan bahwa “Sejumlah perempuan memang berpenampilan dan bertingkah laku seolah-olah mereka berharap untuk diperkosa.”

Kecenderungan yang berbahaya seperti ini dimiliki oleh kaum laki-laki yang hidup di tengah-tengah masyarakat yang menganut konsep kebebasan, yaitu bahwa mereka bebas untuk melihat seorang perempuan sekehendak hatinya. Pikiran ini pula yang berkembang dalam benak para remaja. Pada sebuah penelitian yang dilakukan UCLA terhadap remaja usia 14 – 18 tahun, diperoleh hasil bahwa lebih dari 50% remaja laki-laki beranggapan “oke-oke saja” jika seorang laki-laki memperkosa seorang perempuan yang telanjur membangkitkan nafsu syahwatnya. Dalam sebuah survey Ms Magazine terhadap para mahasiswa di AS pada tahun 1988, diperoleh laporan bahwa 1 dari 12 responden pernah memperkosa atau berusaha memperkosa seorang perempuan sejak berumur 14 tahun. Di Inggris, remaja-remaja yang sedikitnya berumur 13 tahun telah dimasukkan dalam daftar pelaku tindak kekerasan seksual setelah melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak senonoh terhadap anak-anak perempuan. Tidak ada istilah lain untuk menggambarkan masa depan masyarakat seperti itu kecuali kata “mengerikan”.

Demikianlah kenyataannya, bahwa pada masyarakat Barat, kecantikan tidak menjadikan seorang perempuan dihormati atau meningkat martabatnya, sehingga membuat kecantikan menjadi sesuatu yang berharga dalam kehidupan ini. Konsep itu hanya mitos belaka. Kaum perempuan Barat hanya menjadi objek yang dinilai sebatas kulitnya saja, bukan pada pemikiran dan kecerdasannya. Allah Swt secara sempurna menggambarkan kenyataan ini dalam ayat-Nya:

???????????? ???????? ????????????? ????????? ????????? ?????????? ?????????? ????? ?????? ????? ??????? ???? ???????? ????????

Dan bagi orang-orang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. (TQS. an-Nur [24]: 39)


MEMPERCANTIK DIRI; ANTARA PILIHAN ATAU KEWAJIBAN?

, 08/10/2009 04:53:21

altPerempuan-perempuan Barat selalu membanggakan konsep yang mereka yakini, yaitu bahwa upaya mempercantik diri merupakan suatu pilihan. Artinya, seorang wanita bebas menentukan citra dan penampilan mereka sesuai keinginannya sendiri. Namun demikian, ternyata kenyataan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat jauh dari pandangan yang na