Kristologi

Mengapa Bibel Tak Bisa Dihafal, Padahal Al-Quran Bisa?

, 15/04/2010 07:28:07

altSalah satu faktor yang mengokohkan keislaman H Insan LS Mokoginta (Wencelclaus) setelah meninggalkan Kristen adalah mukjizat Al-Qur'an yang mudah dihafal secara benar dan tepat.

Skandal Seks Gereja Katolik

, 31/03/2010 06:22:29

altPantang Menikah Yes! Pelecehan Seksual Yes!!

Bulan Maret tahun ini energi Gereja Katolik Roma tersedot habis untuk mengatasi berbagai kasus skandal seksual yang dilakukan oleh para pastor

Menyoal Hari Ulang Tahun Kematian Tuhan

, 20/03/2010 09:56:06

altJum’at 2 April 2010 adalah hari libur nasional, bertepatan dengan hari raya umat kristiani, yaitu hari wafat Isa Almasih. Sebetulnya, istilah hari wafat Isa Almasih ini kurang tepat, karena menurut aqidah Islam, Nabi Isa alaihissalam tidak mati dan tidak pula disalib. Agama yang meyakini kematian Yesus di tiang salib adalah Kristen. Maka istilah yang lebih tepat adalah Hari Kematian Yesus Kristus. Karena dalam pandangan Kristen, Yesus adalah salah satu oknum Tuhan, maka istilah yang lebih pas lagi adalah “Hari Ulang Tahun Kematian Tuhan Kristiani.” Di kalangan Kristen, hari kematian Yesus itu masyhur dengan sebutan Jum’at Agung.

Ulang tahun kematian Yesus di tiang salib adalah salah satu inti iman Kristiani. Dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli (Credo Nicaeano-Constantinopolitanum), umat Kristen memakai tiga perkataan untuk menekankan keyakinan akan kematian Yesus: “Dan kepada Yesus Kristus, Anaknya yang tunggal, Tuhan kita... disalibkan, mati dan dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut.”

Sedemikian pentingnya makna salib dalam iman kristiani, sehingga tanpa adanya penyaliban Yesus, maka gugurlah keyakinan Kristen tentang dosa waris, penebusan dosa, Trinitas, dan ketuhanan Yesus.

Terkait dengan Hari Ulang Tahun Kematian Yesus, beberapa waktu lalu penulis mendapati buku berjudul Memfitnah Yesus karya Dr. Erwin Lutzer di toko buku Gramedia. Buku setebal 167 halaman yang diterbitkan oleh Light Publishing Jakarta ini adalah terjemahan dari edisi asli dalam bahasa Inggris Slandering Jesus.

Secara khusus, buku apologetika kristiani ini didedikasikan untuk memerangi berbagai pandangan teologi yang menentang doktrin Kristen tentang penyaliban, kematian dan ketuhanan Yesus Kristus. Dengan telak, Erwin menuding paham-paham tentang Yesus yang bertolak belakang dengan Kristen sebagai kebohongan.

Dalam bab II, secara khusus Erwin menghantam Al-Qur'an sebagai kebohongan, karena membantah penyaliban Yesus. Dalam judul “Kebohongan 2: Yesus Tidak Disalibkan.” Di bawah judul tersebut, ia mencantumkan terjemah Al-Qur'an surat An-Nisa’ 157” (hlm. 39).

Menurut Erwin, kisah Al-Qur'an tentang kegagalan penyaliban Yesus adalah kebohongan. Alasannya, jika Tuhan menggagalkan penyaliban dengan membuat orang Yahudi salah tangkap, berarti Tuhan dalam Al-Qur'an bersalah atas tindak penipuan. Erwin menulis:

“Menurut Al-Qur'an, orang-orang Yahudi tidak berhasil membunuh Yesus, yang disebut sebagai rasul Tuhan.

Buat Apa Kristen Alergi Undang-undang Penodaan - Penistaan Agama?

, 05/03/2010 03:30:07

altIslam dan Kristen kembali berhadap-hadapan. Kali ini dalam polemik Undang-undang Penodaan Agama yang sedang digodog Mahkamah Konstitusi.

Dengan berbagai alasan yang rasional dan faktual, umat Islam melalui MUI dan ormas-ormas Islam baik Muhammadiyah, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) maupun Nahdlatul Ulama, Departemen Agama dan Pemerintah sepakat bahwa Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 tentang Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama itu mutlak diperlukan.

Sementara itu, pihak Kristen baik Protestan dan Katolik sama-sama mendukung pencabutan undang-undang tersebut.

Katolik Alergi Undang-undang Penodaan Agama
Selaku Pihak Terkait, umat Katolik diwakili oleh Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI). Dalam pandangan KWI yang disampaikan oleh Pastur Benny Susetyo dan Pastur Ignatius Ismartono dalam sidang MK di Jakarta tanggal 10 Februari 2010, KWI menyimpulkan bahwa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 1/1965 ini bertentangan dengan semangat kebebasan beragama dan kebebasan dalam menyuarakan keyakinan dan kebebasan berpendapat.

Tipudaya Penginjil: Menjadi Kristen tanpa Meninggalkan Islam (1)

, 02/03/2010 01:29:31
altBelum lama ini, Abdul Gani, pembaca Suara Islam di Bekasi, mendapat kiriman buku tipis berjudul “Haram Menyembah Isa bin Maryam, Halal Memohon kepada Sesama Muslim.” Pada sampul berwarna biru muda itu, di bawah judulnya dihiasi nas Arab ayat Al-Qur’an: “wamaa huwa illaa dzikrun lil ‘alamiin” lengkap dengan terjemahnya: “Dan Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat.”

Tipuan dan Kontekstualisasi Misi Kristen (2)

, 23/01/2010 01:51:13

altDengan alasan melaksanakan Amanat Agung Yesus melalui strategi kontekstualisasi, para misionaris Kristen semakin gila-gilaan menjala aqidah dengan jurus-jurus tipuan.

Tipuan dan Kontekstualisasi Misi Kristen (1)

, 04/01/2010 09:59:00

altPara misionaris tak pernah berhenti memutar otak untuk memurtadkan umat Islam. Bermacam-macam strategi telah diformulasikan dan diujicoba, mulai dari sinkretisme, akomodasi, teologi situasional, indigenisasi, inkulturasi, adaptasi, dan seterusnya hingga ditemukanlah strategi kontekstualisasi misi.

Kata “kontekstualisasi” dimasukkan ke dalam perbendaharaan bidang misi dan teologi sejak diperkenalkan oleh Aharon Sapaezian dan Shoki Coe, direktur Theological Education Fund (TEF) pada tahun 1972, pada sidang Ghana Assembly of the International Missionary Council. Sidang ini membahas isu yang berkaitan dengan pendidikan teologi di negara-negara dunia ketiga (the third mandate programme of the theological education fund).

Di antara faktor yang menuntut strategi kontekstualisasi dalam misi adalah teologi Barat yang dianggap tidak relevan dengan budaya setempat yang menjadi objek misi. Dengan kata lain, agenda dan program yang “dimasak” di luar negeri tidak cocok untuk situasi di tempat lain (dunia ketiga).

Kontekstualisasi adalah strategi misi yang diupayakan agar Injil bisa dimengerti dan diterima oleh objek misi, dalam dimensi budaya objek misi yang dinamis, baik secara politik, sosial, dan ekonomi.

Pengertian kontekstualisasi yang mudah diterima adalah cara menabur “bibit” tanpa harus menanam pot dan tanahnya. Maksud “bibit” adalah Injil, sedangkan “pot dan tanah” adalah budaya sang pengabar Injil.

Para misiolog dan teolog juga berbeda pendapat tentang apa yang perlu dikontekstualisasikan. Apakah Bibelnya, teologinya, atau berita Injilnya? Sejauh mana proses kontekstualisasi itu boleh dilakukan, apakah hanya isinya, bentuknya, atau keduanya?

Di kalangan misiolog, ayat yang paling populer untuk mendukung strategi kontekstualisasi dalam misi pekabaran Injil lintas budaya adalah tulisan Paulus dalam Bibel (1 Korintus 9:20-22).

Menurut Paulus dalam ayat ini, untuk menyebarkan misi kepada orang Yahudi, penginjil harus berpura-pura sebagai orang Yahudi, meski penginjil itu bukan orang Yahudi. Misi kepada orang yang lemah, sang penginjil harus menjadi seperti orang lemah. Kepada penganut hukum Taurat, maka penginjil harus berpura-pura sebagai orang yang hidup di bawah hukum Taurat.

Di Indonesia, penerapan strategi kontekstualisasi yang meniru gaya Paulus ini kerap kali membuahkan gesekan dengan umat Islam. Karena strategi kontekstualisasi itu identik wujudnya dengan jurus serigala berbulu domba, musang berbulu ayam.

Kepada umat Islam, para penginjil berpenampilan seperti orang alim, padahal mereka adalah serigala yang menyeringai, setiap saat siap memurtadkan akidah umat Islam. Pendeta Rudy Muhammad Nurdin misalnya.

Ketika menerapkan strategi kontektualisasi, ia menerjemahkan pesan Paulus dalam 1 Korintus 9:20, bahwa kepada orang Yahudi, harus seperti Yahudi. Kepada kaum muslimin, harus seperti orang Islam dan memakai Al-Qur’an dalam penginjilan, supaya orang Islam tidak marah. Dalam praktiknya, Nurdin menulis belasan buku Kristen berkedok Islam, antara lain: Ayat-ayat Penting di dalam Al-Qur’an, Keselamatan di dalam Islam,

Tipuan

, 17/12/2009 09:10:34

altMisi Kristen memang aneh dan tidak konsisten. Menyambut hari raya Natal tahun ini, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mencanangkan tema Natal "Tuhan itu baik kepada semua orang.” Dalam pesan natal bersama yang ditandatangani oleh Pdt Dr AA Yewangoe (Ketum PGI), Pdt Dr R Daulay (Sekum PGI), Mgr MDSitumorang OFMCap (Ketua KWI) dan Mgr A Sutrisnaatmaka MSF (Sekjen KWI), mereka mengimbau umat kristiani untuk menyatakan kebaikan kepada semua manusia. Berikut cuplikan pesan Natal PGI dan KWI:

“Oleh karena itu, kala merayakan peringatan kelahiran Yesus Kristus, kami mengajak seluruh umat Kristiani setanah-air untuk bersama-sama umat beragama lain menyatakan kebaikan Tuhan itu dalam semangat kebersamaan yang tulus-ikhlas untuk membangun negeri tercinta kita.”

Praktiknya, tak sedikit penginjil yang membelot, bukannya menyatakan kebaikan, melainkan menebar kebohongan dan permusuhan kepada umat Islam. Setidak-tidaknya ini terjadi di Medan Marelan beberapa hari lalu. Di sana, buku berjudul “Rahasia Doa-doa Yang Dikabulkan” disebarkan kalangan Muslim. Tak sedikit umat Islam yang membeli buku ini karena mengira buku itu sebagai buku tuntunan ibadah islami. Mereka terkecoh dan mengira buku ini sebagai bacaan Islam, karena tampilan buku ini penuh dengan idiom-idiom Islam.

Pada sampul depannya terdapat kaligrafi khat Arab “Ya robbi,” yang ditulis oleh Hanan El-Khouri. Pada halaman judul, disebutkan bahwa buku tersebut diterbitkan oleh Tunas Isai, setting dan layout dikerjakan oleh El-Quds Comp. Istilah-istilah Islam pun berjejal dalam buku setebal 120 halaman tersebut, misalnya: alhamdulillah, allohumma, ya robbi, Allah Ta’ala, dll.

Pengelabuan lainnya, Hanan menerjemahkan istilah teologi Kristen menjadi istilah-istilah Arab, misalnya: Yesus diterjemahkan menjadi Sayyidina Isa Al-Masih, Yesus juru selamat penebus dosa seluruh dunia diterjemahkan menjadi Mukhalishul-‘Alam, Injil Yohanes diterjemahkan jadi Bisyarah Yahya, dll.

Umat Islam awam semakin percaya buku itu sebagai bacaan Islam, karena dalam buku tersebut banyak dikutip ayat-ayat Al-Qur’an, antara lain: Al-Fatihah, An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas, Al-Baqarah, Al-A’raf, As-Sajdah, Al-Mu’min, Ar-Ra'd, dll.

Perhatikan muqadimah buku tersebut: “Alhamdulillah, dengan mengucap syukur ke hadhirat Allah semata-mata, yang telah melimpahkan ni’mat dan karunia-Nya sehingga buku kecil berjudul Rahasia Doa-doa Yang Dikabulkan ini dapat terbit” (halaman iii). Luar biasa islami!

Berikutnya, pada bab I (hlm. 1-15) buku ini secara khusus memaparkan makna doa yang digali dari ayat-ayat Al-Qur’an, bahwa doa itu membuka komunikasi untuk mendekatkan diri (taqarrub) dan mengingat (dzikir) kepada Allah serta mengagumi kebesaran dan kekuasaan-Nya (hlm. 2). Kemudian Hanan mengutip doa-doa Al-Qur’an lengkap dengan nas Arab, transeliterasi dan terjemahannya, antara lain: surat Al-Fatihah 1-7, surat Al-Alaq 1-5, surat Al-Falaq 1-5, surat Al-Ikhlas 1-4 dan surat An-Nas 1-6, surat Al-Baqarah 255 dan doa dalam hadits Shahih Bukhari. Hanan memuji doa-doa tersebut dengan kalimat yang sangat indah: “Dan lebih penting lagi, doa-doa tersebut sangat indah dan bermakna universal, sehingga bisa dijadikan teladan oleh semua orang” (hlm. 3). Sampai di sini pun belum nampak identitas kekristenan buku itu.

Tapi, sepandai-pandai meramu bahasa, tapi yang namanya doktrin ketuhanan tidak bisa ditutupi, karena kekafiran dan ketauhidan adalah dua hal yang jauh berbeda dan tak dapat dicampuraduk. Kekristenan buku Rahasia Doa-doa Yang Dikabulkan mulai nampak pada ujung bab I diakhiri dengan dua buah kaligrafi bertuliskan “Al-mahabbatu hiya takmiilun-naamuus” (Kasih adalah kegenapan hukum agama) yang diambil dari Bibel, surat Paulus kepada Jemaat di Roma pasal 13 ayat 10.

Kekristenan buku ini nampak terang pada Bab II berjudul “Rahasia Doa-doa yang Makbul dalam Injil” (hlm. 17–35). Pada halaman 33-4 ditulis sbb:

“Sebelum kita memanjatkan permohonan untuk kepentingan hidup kita, lebih dahulu wajiblah kita mengucap syukur kepada-Nya karena rahmat dan ni’mat-Nya. Dan yang lebih penting lagi, kita memohon pengampunan atas dosa-dosa kita melalui syafa’at Isa Al-Masih. Jadi, kalau kita berdoa dalam nama Sayyidina Isa Al-Masih, Kalimatullah Al-Hayat (Firman Allah yang Hidup), dia berkenan menjadi pengantara bagi kita, dan memberikan syafaat atas dosa-dosa kita di hadapan Allah Yang Maha Adil” (hlm. 33-34).

Itulah inti ajaran buku ini, yaitu menggiring pembaca secara perlahan agar mohon pengampunan dosa melalui Yesus Kristus, karena dialah satu-satunya pribadi yang dalam doktrin Kristen diyakini sebagai orang yang dapat menebus dosa manusia dengan darah kematiannya di tiang salib.

Menurut Islam, ajaran Hanan El-Khuri itu dosa besar. Doa hanya boleh ditujukan kepada Allah karena hanya Dia yang Maha mengabulkan doa. Doa kepada-Nya pun harus dilakukan secara langsung, karena Allah itu dekat dengan hamba-hamba-Nya yang memohon kepada-Nya (Qs. Ar-Ra’d 14, Al-Baqarah 186, Al-Mu`min 60).

Bibel pun mengajarkan doa dan permohonan langsung dalam nama Tuhan, bukan dalam nama Yesus. Para Nabi diberkati dalam nama Tuhan, bukan dalam nama Yesus (Mazmur 118:26, 129:8). Mereka mendapat pertolongan dari Tuhan, bukan dari Yesus (Mazmur 124:8). Nabi Hagai dan Zakharia bernubuat dalam nama Allah, bukan dalam nama Yesus (Ezra 5:1). Dalam Injil, Yesus diberkati dalam nama Tuhan (Matius 21:9 dan 23:39). Jika Hanan meneladani Yesus, jangan berdoa dan minta pertolongan kepada Yesus, tapi kepada Tuhannya Yesus.

Ayat Kursi Injiliyah Tak Bertuan


Hanan El-Khouri mengadopsi istilah khas Al-Qur’an surat Al-Baqarah 255 yang disebut “Ayat Kursi.” Istilah dalam dibajak menjadi “Ayat Kursi Injiliyah” yang ditempelkan pada kitab Ibrani 1:8-9 edisi Arab sbb:

“Kursiyuka Yaa Allah, tsabitun ilaa abadid-duhuuri. Wa shaulajaanul ‘adli shaulajaanu mulkika tuhibbul-haqqa wa tubighdhul-baathila. Yaa ayyuhal masih, li dzalika masahaka Allahu ilahuka bizaitil-bahjati duuna rafaaqika.”


Artinya: “Kursi-Mu Ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran. Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan, wahai Al-Masih, karena itu Allah, Tuhan-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kegembiraan melebihi teman-teman yang bersama-Mu” (hlm. 90).

Istilah “Ayat Kursi Injiliyah” dalam ayat tersebut tidak akan pernah populer, karena tidak didukung oleh nas Bibel yang baku, baik versi Arab maupun terjemahannya.

Misalnya, Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) 2009 kitab Ibrani 1:8 tidak bisa disebut sebagai Ayat Kursi Injiliyah, karena ayatnya berubah menjadi: “Tetapi tentang anak Ia berkata: “Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran...” Karena kata “Kursiyuka ya Allah” pada ayat ini berubah menjadi “Takhta-Mu ya Allah,” maka ayat ini tidak bisa disebut sebagai Ayat Kursi Injiliyah, melainkan harus disebut “Ayat Takhta Injiliyah.”

Dalam Alkitab LAI cetakan tahun 1960, Ibrani 1:8 juga tidak bisa disebut sebagai Ayat Kursi Injiliyah, karena ayatnya berbunyi: “Arasy-Mu, ya Allah, ada selama-lamanya...” Karena kata “Kursiyuka ya Allah” pada ayat ini berubah menjadi “Arasy-Mu ya Allah,” maka ayat ini tidak bisa disebut sebagai Ayat Kursi Injiliyah, tapi harus disebut “Ayat Arasy Injiliyah.”

Dalam Alkitab Bahasa Sunda, karena ayatnya berbunyi: “Karajaan Hidep, ya Allah, pingadegeun salalanggengna…” maka ayat ini tidak boleh disebut Ayat Kursi Injiliyah, melainkan Ayat Karajaan Injiliyah. Dalam Alkitab Bahasa Jawa, karena ayatnya berbunyi: “Paduka menika Allah, Paduka badh

Kristen Tauhid: Aqidahnya Berbelit-belit (2)

, 01/12/2009 01:03:35

altDi antara tujuh doktrin Kristen Tauhid, doktrin yang ketiga adalah tentang kitab suci: “We believe in the Bible, the old and new testament, which the core teaching is love thy God and love thy neighbor, that had been described in detail in the ten commandment.”

(Kami percaya kepada Alkitab/Bibel, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang inti perintahnya adalah kasih kepada Allah dan kepada sesama manusia, yang telah dijabarkan di dalam kesepuluh perintah Allah).

Doktrin tersebut menyatakan bahwa satu-satunya kitab suci yang dijadikan dasar keyakinan adalah Alkitab (Bibel). Seharusnya, dalam berbagai kajian keimanan, jemaat Kristen Tauhid hanya mengutip ayat-ayat Bibel. Tetapi dalam praktiknya doktrin ini harus dicampakkan. Dalam buku-buku yang ditulisnya, misalnya buku “Allah dalam Alkitab dan Al-Qur’an,” Frans Donald banyak mengutip ayat-ayat Al-Qur’an. Inilah bukti bahwa Kristen Tauhid adalah kumpulan orang-orang yang tidak konsisten.

Anehnya, Dr Tjahjadi Nugraha, ketua Asosiasi Pendeta Gereja Kristen Tauhid menyebut buku tersebut memakai metode tafsir Al-Qur’an bil-Qur’an ketika mengutip ayat-ayat Al-Qur’an:

“Sejak awal pembaca diajak untuk menjadikan Alkitab dan Al-Qur’an sebagai fondasi kajian, memakai pola penafsiran Al-Qur’an bil-Qur’an atau sola scriptura (kitab suci menafsirkan dirinya sendiri” (hlm. 10).

Dalam buku tersebut, Kristen Tauhid sekali lagi menampakkan sikap inkonsisten terhadap rambu-rambu yang mereka tetapkan sendiri. Metode tafsir Al-Qur’an bil-Qur’an yang diklaimnya, ternyata omong kosong besar. Omong kosong ini dibuktikan ketika mereka menjajakan keyakinan bahwa Yesus (Isa alaihissalam) adalah seorang malaikat. Mereka menjustifikasi doktrin bahwa Yesus adalah malaikat, berdasarkan Al-Qur’an surat An-Nisa’ 72. Kutipannya sbb:

“Dari ayat An-Nisa’ QS 4:172 yang bersaksi: “Almasih sama sekali tidak enggan menjadi hamba Allah, dan begitu pula para malaikat yang terdekat kepada Allah.” Dapat dipahami bahwa Isa Almasih (Yesus Kristus) memang berasal dari antara para malaikat yang dekat kepada Allah.” (hlm. 42).

Sebelum meluruskan penyimpangan tersebut, mari kita baca ayat yang dimaksud:

Kristen Tauhid: Aqidahnya Berbelit-belit (1)

, 16/11/2009 12:15:31

altDi antara jutaan gereja di dunia, Gereja Jemaat Allah Global Indonesia (JAGI) di Semarang, adalah yang paling tidak jelas bentuknya. Komunitas gereja ini menamakan diri sebagai Kristen Unitarian Indonesia (Indonesia Unitarian Christian). Dasar kepercayaan mereka adalah sbb: (1) Percaya kepada satu-satunya Allah yang benar yang disebut Bapa. (2) Percaya kepada Yesus Kristus, sebagai anak Allah, permulaan ciptaan, malaikat perjanjian, yang lahir dari perawan Maria, hidup tanpa dosa, mati disalib, dikuburkan dan dibangkitkan Allah, yang ditinggikan Bapa menjadi Tuan, Kristus dan Juruselamat, naik ke Surga dan akan datang kembali dalam kemuliaan. (3) Percaya kepada Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dst.

Perbedaan mendasar Kristen Tauhid dibandingkan gereja Kristen umumnya adalah penentangan mereka terhadap doktrin tuhan Trinitas —Allah Bapa, Allah Anak, dan Roh Kudus. Ciri khas lainnya, mereka kebaktian bukan pada hari Minggu tapi Sabtu layaknya tradisi Kristen Adventis.


Ditilik dari penentangannya terhadap doktrin Trinitas, nampak jelas persamaan mereka dengan Kristen aliran Saksi Yehovah (Yehova’s Witnesses). Hampir seluruh argumen mereka bisa ditemukan dalam buku-buku Saksi Yehova, misalnya buku “Should You Believe in the Trinity” terbitan Wath Tower Bible and Tract Society.

Perseteruan antara Kristen Tauhid dengan Kristen yang lain begitu panas, karena Kristen Tauhid dalam situs resminya menantang dengan kalimat provokatif, “Tampaknya abad ini adalah masa "Runtuhnya" doktrin tua yang bernama "Trinitas (Tritunggal Maha Kudus)”. Wahai Trinitas, di mana sengatmu?! Wahai Trinitas di mana taring dan cakarmu?!

Padahal, di mata Kristen yang lain, Frans Donald dan para tokoh Kristen Tauhid lainnya dinilai terlalu awam untuk bicara teologi. Terbukti, dalam beberapa debat internal mereka, Frans Donald mati kutu tak berkutik. Keawaman teologi Kristen Tauhid itu pun mendapat kecaman yang keras dari para pendeta, penginjil, pengkhotbah, dosen dan para jemaat. Dalam polemik di berbagai diskusi, seminar maupun di media massa, Kristen Tauhid dicap dengan berbagai julukan sarkasme: orang bodoh, goblok, sok pintar, omong kosong, gila, tanpa otak, ngawur, tidak becus, tolol, dsb. Terhadap polemik Kristen lawan Kristen itu, kita umat Islam cukup menjadi penonton saja, tidak perlu berkomentar. Biarlah pertikaian itu jadi bagian dari perjalanan teologi mereka.


Satu hal membedakan Kristen Tauhid dengan Kristen Katolik, Protestan, Adventis maupun Saksi Yehovah adalah sikapnya terhadap Islam dan Al-Qur’an. Alih-alih mencari titik temu Islam dan Kristen supaya tidak berselisih lagi, mereka banyak memperalat ayat-ayat Al-Qur’an untuk mendukung doktrin agama baru mereka. Karenanya, dalam buku “Allah dalam Alkitab & Al Quran” dan buku “Kasus Besar Yang Keliru Ternyata Yesus Malaikat,” Frans Donald banyak mengutip ayat-ayat Al-Qur’an.

Dalam daftar doktrin Kristen Tauhid, tercatat bahwa mereka “percaya kepada Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.” Artinya, mereka beriman kepada Alkitab, bukan Al-Qur’an. Maka, apapun dalihnya, pengutipan ayat-ayat Al-Qur’an itu dilakukan sekedar sebagai justifikasi terhadap keyakinan mereka. Kesimpulan ini tidak salah, mengingat ayat-ayat Al-Qur’an yang dikutip hanya ayat-ayat yang dianggap sesuai dengan doktrin mereka saja. Mereka hanya memperhatikan ayat-ayat yang cocok dengan seleranya, dan mengabaikan ayat-ayat yang tidak cocok, bahkan menyelewengkan ayat tersebut.

Ayat-ayat Al-Qur’an yang dianggap cocok dengan selera Kristen Tauhid misalnya, surat Al-Baqarah 5. Frans Donald menyebut ayat ini sebagai sabda Nabi Muhammad SAW. Menyebut Al-Qur’an sebagai sabda nabi, membuktikan bahwa Frans tidak memiliki wawasan Islam sama sekali. Jika Frans seorang peneliti, seharusnya dia bisa membedakan antara Firman Allah yaitu Al-Qur’an dan sabda Nabi Muhammad yaitu hadits.

Upaya Frans Donald untuk mempertemukan teologi Islam dan Kristen dengan cara mensintesakan ajaran Kristen Tauhid dengan ajaran agama Islam yang dianut oleh sebagian besar warga Indonesia, bisa dipastikan akan berujung di jalan buntu. Karena adanya perbedaan kitab suci keduanya, mustahil dipertemukan. Misalnya, doktrin Kristen Tauhid percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat yang mati disalib sesuai dengan ayat-ayat Alkitab. Padahal Al-Qur’an secara tegas menyatakan Nabi Isa (Yesus) sama sekali tidak mati disalib (Qs. An-Nisa 157).

Kontradiksi Al-Qur’an dan Bibel dalam hal penyaliban ini tidak mungkin dipertemukan maupun disintesakan. Secara ilmiah, kita hanya bisa memilih salah satu kitab suci sebagai dasar keyakinan.

Ayat Al-Qur’an yang menyangkal tudingan penyaliban Yesus itu tidak memiliki kontradiksi apapun dengan ayat yang lain. Sementara Bibel yang menyatakan Yesus mati disalib, diwartakan dalam dua ayat saja, yaitu Injil Markus dan Injil Yohanes. Injil Markus 15:25 menyebutkan, Yesus disalib pada jam sembilan pagi, sementara Injil Yohanes 19:14 menyatakan bahwa sampai pada jam dua belas siang Yesus belum disalib.

Perbedaan Al-Qur’an dan Bibel ini tidak perlu dipertemukan, dikawainkan maupun disintesakan, tapi hanya bisa dipilih salah satu yang valid dan tidak kontradiktif.

Praktiknya, sikap Kristen Tauhid para penganut Kristen Tauhid sangat plin-plan, baik kepada umat Kristen maupun kepada umat Islam. Kepada umat Islam mereka mengaku sebagai Islam Hanif, meski mereka sama sekali tidak menjalankan rukun iman dan rukun Islam. Bila berhadapan dengan umat Kristen, mereka mengaku sebagai Kristen Unitarian alias Kristen Tauhid, mereka pun ditolak mentah-mentah dan dituduh bidat oleh Kristen yang lain.

Inovasi sebuah sekte Kristen yang mensintesakan Islam dengan Kristen, melahirkan sekte baru Kristen Tauhid yang tidak jelas aroma keislamannya. Alangkah kreatifnya jika mereka tidak memakai nama lebih inovatif, misalnya, Kristen KKN (Kanan Kiri Nonjok). Ke kanan menghina Islam, ke kiri mencakar Kristen.

Kristen Tauhid di Mata Islam
Penolakan kelompok Kristen Tauhid (Kristen Unitarian) terhadap doktrin ketuhanan Trinitas, tidak otomatis dibenarkan dalam pandangan Islam. Karena Islam adalah satu-satunya agama yang diturun

Gerakan Misionaris Membonceng Kolonialisme, Kapitalisme, Berikutnya Apa?

, 05/11/2009 07:18:38
altPeringatan Allah SWT di Surah Al Baqarah [02]:120 tentunya sudah tidak diperdebatkan lagi. Bahwa kedua musuh Islam yang disebutkan di sana (Kristen dan Yahudi) akan selalu memusuhi, memerangi umat Islam hingga muslim mengikuti, tunduk kepada mereka dan upaya mereka ini tidak akan berhenti hingga akhir zaman.

Sambil Menolong Memurtadkan Korban Gempa

, 04/11/2009 10:33:59

altOleh : A. AHMAD HIZBULLAH MAG

Para misionaris tidak bisa dipisahkan dari korban bencana dan musibah. Di mana ada bencana, di situ misionaris beraksi. Para korban bencana yang sedang dirundung duka, sangat memerlukan uluran bantuan untuk meringankan beban deritanya. Sementara para misionaris yang mengamalkan prinsip cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Matius 10:16), memiliki modal untuk memberikan bantuan sembari mengusung misi penginjilan kepada segala makhluk (Markus 16:15).

Kegigihan para misionaris dalam menjala aqidah umat Islam, bisa kita lihat dalam teori penginjilan yang diajarkan Dr HL Senduk dari Gereja Bethel: “Kita harus memimpin jiwa itu sehingga ia mengambuil keputusan. Ada waktu menabur dan ada waktu menuai. Setelah sudah kita menginjili, maka kita akan menuai... yakinkan dia bahwa sekarang dia bisa jadi anak Allah, jika ia suka terima Tuhan Yesus di dalam hidupnya. Jangan lepaskan jiwa itu sebelum saudara mengajak dia menerima Kristus, sehingga ia berkata: “Saya terima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatku.” (Penginjil yang Sukses, hal. 11).

Setelah diguncang gempa tektonik berkekuatan 7,6 Skala Richter (SR), kaum muslimin di wilayah Sumatra Barat (Sumbar) menderita lahir-batin. Mereka sangat memerlukan bantuan dari pihak luar Sumbar. Meski pemerintah dan kaum muslimin sudah bahu-membahu meringankan beban ini, namun pihak misionaris tak mau ketinggalan. Mereka berduyun-duyun mendatangi Sumbar dengan bantuan materi di tangan kanan, dan segenggam misi salibis di tangan kiri.

Fakta gerakan kristenisasi terhadap korban gempa Sumbar ini, sebagian telah dilaporkan muslimdaily.net (28/10/2009), antara lain terjadi di daerah Korong Koto Tinggi, Kenagarian Gunung Padang Alai, Kecamatan Koto Timur, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Koto Tinggi terletak di kawasan pegunungan dan perbukitan yang cukup berat diakses dari darat mengingat lalu lintas jalan terputus total. Bangunan-bangunan yang ada hampir semua rubuh dan rusak parah.

Menurut keterangan warga setempat, upaya pemurtadan ini tidak dilakukan secara terang-terangan, tapi secara halus dan tersembunyi, oleh sebuah LSM Samaritan yang mendapat bantuan dari Amerika Serikat. Modus pemurtadan LSM Samaritan adalah indoktrinasi berkedok terapi mental terhadap anak-anak korban gempa. Di kamp pengungsian, anak-anak itu tidak hanya diterapi mental, tapi juga didoktrin dengan ajaran kekristenan. Seorang warga, sebut saja Asril, menirukan trik-trik indoktrinasi relawan sbb:

“Siapa tuhanmu?” tanya sang relawan.
“Alloh SWT,” jawab anak-anak itu.
“Bukan Alloh SWT, tetapi Allah,” kata sang relawan. Ia tidak mau anak-anak itu menyebut Alloh (sesuai dengan aksen lafzhul jalalah yang benar), dan merubah dengan Allah (yang dibaca “alah” seperti tradisi umat Kristiani.
“Kalian tahu Isa? Siapakah beliau?” tanya sang relawan lagi.
“Isa adalah Rasul utusan Allah,” jawab anak-anak.
“Bukan, Isa adalah Anak Allah yang suci,” tukas sang relawan.

Demikian cuplikan terapi mental yang disampaikan kepada anak-anak Muslim di kamp pengungsian. Terapi mental ini sama sekali tidak efektif untuk memulihkan mental-spiritual anak-anak korban gempa, justru menambah beban mental anak-anak itu.

Sementara mental mereka belum pulih dari kesedihan, putus asa dan trauma, malah diberi beban mental baru oleh para misionaris untuk mempercayai doktrin yang bertolak belakang dengan keyakinan Islam yang mereka imani.

Modus pemurtadan lainnya adalah iming-iming bantuan logistik selama tiga tahun penuh dengan kehadiran 5 helikopter setiap hari non stop, minimal 2 helikopter kepada warga setempat. Tentunya, tawaran ini sungguh sangat menggiurkan di tengah badai musibah gempa.

Sayangnya, kata warga, persyaratan yang diajukan LSM itu terlalu berat: warga harus berganti agama Kristen, wajib menghadiri acara-acara kerohanian Kristen, dilarang lagi pergi ke masjid dan menghadiri acara-acara keislaman. Warga pun menolak proposal bantuan LSM ini dengan alasan keimanan. Warga mau menerima bantuan itu jika diberikan secara tulus dan cuma-cuma tanpa ada embel-embel keharusan pindah iman. Ratusan warga sepakat menandatangani nota bersama untuk mengusir paksa LSM itu karena dianggap memaksakan keyakinan dan melanggar hukum.

Penyebaran Kristen berkedok bantuan kemanusiaan itu bukanlah membantu orang susah, tapi malah membuat suasana semakin resah. Seharusnya para misionaris bisa membedakan antara bantuan tulus dengan misi akal bulus. Bantulah sesama manusia setulus hati, sesuai wasiat Yesus: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Markus 12:31). Misi kemanusiaan di Sumbar adalah keterpujian, tapi jika disusupi dengan misi pengkristenan, maka itu adalah pelanggaran terhadap amanat Yesus: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Matius 10:5-6).

Upaya pemurtadan atas korban gempa sumbar bukan isapan jempol, urang awak harus waspada. Cukuplah penderitaan gempa itu, jangan ditambah dengan bencana kemurtadan. Waspadai misi salibis dan seluruh iming-imingnya. Dalam petuah Minang, misi kristenisasi dengan iming-iming materi itu disebut “muncuang disuoki jo pisang ikua dikaik jo duri.” Lahiriahnya tampak menolong, padahal sebenarnya menodong.

Kaum Muslimin harus membuktikan ukhuwahnya. Bila umat Islam enggan membantu saudaranya yang tertimpa musibah, berarti mereka telah memuluskan orang di luar Islam untuk datang membantu sambil menyebarkan misi agamanya. Bantulah sesama muslim yang tertimpa musibah dengan sekuat tenaga dan kemampuan. Karena kekuatan umat Islam ada pada kebersamaan, saling sedekah, saling meringankan beban orang lain. Kata orang tua, setiap orang wajib melindungi negerinya. Adat banagari mamaga nagari.

Yesus itu Anak Allah ataukah Allah Anak?

Misionaris Samaritan ingin menjebol akidah anak-anak korban gempa Sumbar yang sudah mapan. Meski iman kepada Isa alaihissalam sebagai Nabi utusan Allah adalah akidah yang shahih, tapi para misionaris ingin menukarnya dengan keyakinan batil bahwa Isa adalah Anak Allah.

Doktrin bahwa Yesus adalah Anak Allah ini mengacu kepada pernyataan Iman Rasuli: “Aku percaya kepada Allah Bapa... dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal.”

Dalam dogmatika tentang Kristus (Kristologi), oknum Yesus diyakini memiliki fungsional sebagai anak Allah yang tunggal sekaligus Allah Anak yang menjadi satu dengan manusia. Dr R Soedarmo dalam “Ikhtisar Dogmatika” menjelaskan: “Allah Anak menjadi satu dengan manusia. Dengan demikian Kitab Suci menyatakan bahwa Anak Allah menjadi satu dengan manusia.” (hlm. 163).

Dalam kacamata Al-Qur’an, Nabi Isa bukanlah anak Tuhan, baik secara biologis maupun secara rohani. “Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia...” (Qs Maryam 35). “Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak” (Qs Maryam 92).

Sedangkan dalam kacamata Alkitab (Bibel), keyakinan terhadap Yesus sebagai Anak Allah agaknya bisa dimaklumi karena istilah “anak Allah” memang banyak disebutkan dalam Alkitab. Namun perlu diketahui bahwa istilah ini harus dipahami secara kontekstual, bukan secara biologis. Sebab menurut Alkitab, pengertian “anak Allah” adalah predikat keshalehan, antara lain: semua orang yang dipimpin oleh roh Allah disebut anak Allah (Roma 8:14); semua orang yang membawa perdamaian disebut sebagai anak Allah (Matius 5:9); orang yang mengasihi dan berbuat baik kepada musuh juga disebut sebagai anak Allah (Lukas 6:35). Kenyataannya, sebutan anak Allah dalam Alkitab itu bukan monopoli Yesus saja. Banyak sekali orang yang disebut anak Allah dalam Bibel, di antaranya: Nabi Adam (Lukas 3:38), Israel (Keluaran 4:22), Efraim (Yeremia 31:9), dll.

Problem teologi justru akan muncul jika Yesus diyakini sebagai Allah Anak, karena istilah “Allah Anak” sama sekali tidak pernah disebutkan dalam kitab suci, baik Al-Qur’an maupun Bibel. Istilah

Sinkretisme Shalawat Global

, 14/10/2009 11:22:08

altOleh: A. AHMAD HIZBULLAH MAG


Apa jadinya jika urusan ibadah dan akidah dioplos dengan kemusyrikan, kekafiran dan komoditi seni? Lihat saja

Tudingan Misionaris JIL dan Penginjil Kristen: Al-Qur

, 28/09/2009 08:14:45

altOleh : Ahmad Hizbullah MAG ([email protected]) Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4

Akhir-akhir ini, dalam berbagai situs, mailis dan blog, para penginjil giat menyerang otentisitas Al-Qur'an dengan berbagai syubhat.[1] Salah satu amunisi untuk menyerang Al-Qur'an, justru mereka kais dari mulut para liberalis berkedok Islam (kelompok JIL). Artikel

Tudingan Misionaris JIL dan Penginjil Kristen: Rasulullah Menikah Secara Kristen di Gereja?

, 28/09/2009 07:56:13

Oleh : Ahmad Hizbullah MAG ([email protected])

Setali tiga uang!! Itulah misi yang diusung oleh para misionaris JIL